Pengecangan Kuliner Tradisional Mewah dan Mahal dari Lampung Kuliner pengecangan yang terdapat dalam acara besar warga Desa Maringgai, Labuhan Maringgai, Lampung Timur, Selasa (13/08/2019). (ANTARA/Ruth Intan)

INDONESIA merupakan surga kuliner. Masing-masing daerah memiliki hidangannya masing-masing. Bagi kamu yang hobi berkuliner, Indonesia tak ada habisnya untuk dieksplorasi.

Nah, kamu harus tahu satu kuliner ini. Namanya pengecangan yang berasal dari Desa Maringgai, Kecamatan Labuhan Maringgai, Kabupaten Lampung Timur, Provinsi Lampung. Sajian ini dianggap mewah dan wajib hadir dalam setiap pesta warga setempat.

"Masakan pengecangan menjadi makanan mewah dan wajib ada pada setiap pesta warga Maringgai, karena resep makanan tersebut merupakan warisan asli sejak tempo dulu yang menggunakan berbagai rempah-rempah termasuk lada dan hanya dapat dijumpai saat pesta pernikahan ataupun acara besar lainnya di desa ini," ujar Paryanti, ibu rumah tangga yang biasa menjadi chef atau tukang masak di desa itu saat dihubungi dari Bandarlampung, dikutip Antara.

Baca Juga: Tempat Jajan Populer di Bandar Lampung, Wajib Datang!

kambing
Kambing salah satu bahan untuk kuliner pengecangan. (Foto: Pexels/Pixabay)

Menurutnya, tidak hanya mewah pengecangan juga dianggap sebagai kuliner mahal sebab satu kali acara warga dapat menyembelih empat hingga dua belas kambing atau sapi dan membutuhkan tenaga pekerja yang cukup banyak.

"Pengecangan tidak dapat kita nikmati sebagai makanan sehari-hari, karena bahan baku utamanya adalah daging dan jeroan sapi ataupun kambing yang harganya cukup mahal bila dikonsumsi sebagai makanan sehari-hari", katanya.

Selain itu, menurut Paryanti cara pengolahan pengecangan pun cukup memakan waktu dan menguras tenaga, karena proses merebus dan mengaduk daging membutuhkan waktu seharian agar menjadi empuk saat dikonsumsi.

"Pengecangan ini lama proses memasaknya kalau acara pernikahan bisa hingga tiga kali masak, dan terkadang bapak-bapak yang memasak karena proses mengaduk pengecangan lumayan berat", katanya.

Baca Juga: Gulai Taboh Makanan Khas Lampung yang Selalu Disangka Lodeh

sapi
Selain daging kambing, daging sapi juga dipakai untuk kuliner ini. (Foto: Pexels/Viktor Lundberg)

Kuliner pengecangan yang tampilannya mirip gulai sapi ini memiliki cita rasa yang cukup unik, karena rasa rempah yang tidak terlalu tajam telah membalut keseluruhan daging sapi sehingga menyamarkan bau khas jeroan yang kurang sedap.

"Jeroan sapi baunya sangatlah tidak sedap, sehingga warga desa sini biasanya menutupi bau tersebut dengan salah satu tanaman bumbu yang bentuknya mirip dengan laos merah tetapi memiliki wangi lebih lembut yang dapat ditemukan di sekitar ladang warga;" ujar Sum, juru masak lainnya.

Menurutnya, resep kuno ini selalu dipakai turun temurun sejak dahulu hingga saat ini sehingga kuliner pengecangan dapat terus dinikmati oleh generasi selanjutnya di setiap berlangsungnya acara besar di desa. (*)

Baca Juga: Jelajah Kuliner Lampung, 5 Makanan Khas ini Wajib Dicoba

Kredit : zulfikar


Zulfikar Sy

LAINNYA DARI MERAH PUTIH