Pengamat Ungkap "Nuansa Lokal" Serangan Teror yang Berbeda dari Titah Pimpinan ISIS Satuan Brimob Polri saat penangkapan terduga teroris di Tangerang Selatan. (MP/Rizki Fitrianto)

MerahPutih.com - Serangan bom bunuh diri kembali menyasar target kepolisian pada Rabu (13/11), di Mapolrestabes Medan. Aksi teror itu seakan menggenapkan serangkaian serangan pada aparat belakangan ini.

Pengamat terorisme dari UIN Jakarta M Zaki Mubarak mengatakan, sejak tahun 2010, sebanyak 70 persen serangan teroris menyasar aparat polisi maupun kantor polisi.

Baca Juga:

Keterlibatan Perempuan dalam Aksi Teror di Medan sebagai Strategi ISIS

"Ada doktrin yang sangat jelas, kurang lebih 10 tahun terakhir di kalangan jihadis," ujarnya kepada wartawan dalam acara diskusi di kawasan Tanah Abang, Sabtu (16/11).

Tim gabungan melakukan pengamanan di rumah SA, di Jalan Serdang, Kelurahan Belawan I, Kecamatan Medan Belawan, Medan Sumatera Utara, Kamis. (ANTARA/Nur Aprilliana Br Sitorus)
Tim gabungan melakukan pengamanan di rumah SA, di Jalan Serdang, Kelurahan Belawan I, Kecamatan Medan Belawan, Medan Sumatera Utara, Kamis. (ANTARA/Nur Aprilliana Br Sitorus)

Ia berujar, dari pernyataan Muhammad Al Adnani, Juru Bicara ISIS di Suriah beberapa tahun lalu yang mengatakan agar pendukung ISIS di mana saja untuk menyerang para den zionis.

"Muhammad Al Adnani mengatakan agar pendukung ISIS di mana saja untuk menyerang yang disebut sebagai para den zionis, tapi dalam konteks di Indonesia itu ada semacam nuansa lokal" lanjutnya.

Akan tetapi, Zaki berujar, Aman Abdurrahman seorang idelog JAD, pendukung ISIS yang ada Indonesia secara eksplisit menyatakan bahwa proritas nomor satu yang akan kami serang adalah aparat berbaju cokelat.

Baca Juga:

Pengamat: 80 Persen Pelaku Serangan Teror Terkoneksi JAD, Termasuk di Medan

"Dari kasus M Syarif di Cirebon yang bunuh diri di masjid (masjid polisi), betul masjid polisi tapi yang disasar itu polisinya. Kemudian beberapa bulan terakhir di Surabaya, di Polsek Wonokromo, kemudian terakhir di Medan yang kemarin terjadi sasarannya juga polisi," ujarnya.

Satuan Brimob Polri saat penangkapan terduga teroris di Tangerang Selatan. (MP/Rizki Fitrianto)
Satuan Brimob Polri saat penangkapan terduga teroris di Tangerang Selatan. (MP/Rizki Fitrianto)

Sementara itu, Direktur Deradikalisasi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Irfan Idris menyebutkan, ada empat jenis kelompok di masyarakat terkait pemahaman deradikalisasi.

"Ada empat kelompok di masyarakat dalam pemahaman deradikalisasi. Pertama adalah kelompok yang 'belum paham', kedua kelompok 'tidak paham', ketiga kelompok 'sok paham', dan keempat kelompok 'tidak mau paham'," ucapnya.

Menurutnya, kelompok keempat adalah mereka yang harus diwaspadai. (Knu)

Baca Juga:

Romo Benny: Pancasila Senjata Paling Ampuh Berantas Intoleransi


Tags Artikel Ini

Zulfikar Sy

LAINNYA DARI MERAH PUTIH