Pengamat Sarankan Kontra Radikalisme Diajarkan Sejak Pendidikan Dasar Guru Besar Ilmu Filsafat Universitas Parahyangan Bandung Prof Dr Ignatius Bambang Sugiharto (Foto: antaranews)

MerahPutih.Com - Keprihatinan dan kecemasan sejumlah pihak terkait suburnya radikalisme di tengah masyarakat menuntut pendekatan yang holistik dan multi dimensional.

Menurut Guru Besar Ilmu Filsafat Universitas Parahyangan Bandung Prof Dr Ignatius Bambang Sugiharto kontra radikalisme perlu diajarkan sejak pendidikan dasar. Tujuannya agar anak-anak bisa membentengi diri dari paham-paham radikal dan intoleransi.

Baca Juga:

Perkuat Ideologi Pancasila Strategi Tangkal Paham Radikalisme di Kampus

"Saya kira kontra-radikalisasi itu perlu dijalankan sejak pendidikan dasar dengan memupuk sikap pluralis dan toleran terhadap yang berbeda," katanya dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Rabu (29/1).

Lebih lanjut, pakar filsafat sosial ini menyatakan pemerintah dalam jalur yang benar dan sudah ke arah itu. BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme) sudah sering melakukan hal itu baik di lembaga pendidikan seperti kampus-kampus dan juga masyarakat.

"Hanya saja hal seperti itu perlu lebih diintensifkan lagi agar masyarakat ini memiliki daya tahan terhadap pengaruh-pengaruh negatif yang bisa memecah belah bangsa kita ini," katanya.

Dalam kesempatan itu ia juga menyatakan setidaknya terdapat dua penyebab penyebaran intoleransi dan radikalisme di media sosial (medsos).

Media sosial termasuk salah satu penyebar paham radikal yang paling cepat dan masif
Ilustrasi (pixabay)

"Pertama, krisis identitas di mana individu atau kelompok merasa tidak dihargai dalam lingkungan sosialnya kemudian dia mencari pelarian di medsos. Kedua, emosi yang labil, hal ini rentan untuk dipermainkan dan disusupi oleh kelompok tertentu yang memiliki kepentingan," katanya.

Oleh karena itu, Bambang Sugiharto menyarankan menyarankan agar masyarakat untuk selalu dapat bersikap kritis dalam menggunakan media sosial, guna membentengi diri agar tidak mudah terprovokasi yang bersumber dari satu pihak atau golongan tertentu saja.

Hal ini juga sekaligus sebagai upaya masyarakat itu sendiri untuk membentengi dirinya agar tidak mudah disusupi paham-paham radikal negatif dan melakukan perbuatan intoleransi terhadap pihak lain yang berbeda baik dari segi pandangan maupun pilihan keyakinan.

"Dalam arti begini, kita harus melihat bahwa radikallisme itu jelas-jelas destruktif, dan tentunya tidak mungkin dikehendaki Tuhan. Karenanya perlu kekuatan masyarakat yang kritis untuk bersatu menolaknya, dengan cara apa pun sejauh manusiawi dan non-violent (nir-kekerasan) meskipun memang tidak mudah," ujarnya.

Pakar filsafat postmodernisme ini sebagaimana dilansir Antara mengungkapkan bahwa kaum milenial sebagai populasi terbesar di medsos harus dibiasakan untuk melihat perbedaan sebagai suatu keindahan dalam cara berpikir.

Baca Juga:

Muhammadiyah Nilai Isu Ancaman Radikalisme Berlebihan

"Di mana cara-cara berpikir yang indoktrinatif perlu dihindarkan, dan diganti dengan keberanian untuk mempertanyakan dan meragukan setiap opini dan fakta yang ada. Sikap kritis itu natural, karena otak manusia itu diciptakan Tuhan memang untuk berpikir. Hal-hal mendasar dalam hidup perlu didiskusikan, tidak cukup dijawab dengan doktrin, ayat atau sembahyang," katanya.

Selain itu, pria yang juga anggota Asosiasi Filsafat Indonesia (Asafi) ini juga menyampaikan perlunya peran serta dari pemerintah untuk menanggulangi penyebaran paham radikal melalui media sosial agar tidak semakin masif dan menjangkiti masyarakat.(*)

Baca Juga:

Sejarah Berkembangnya Radikalisme di Indonesia



Eddy Flo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH