Pengamat Politik Minta Kedua Kubu Capres-Cawapres Dewasa Sikapi Hasil Hitung Cepat Pengamat politik dari UIN Jakarta Adi Prayitno (Foto: uinjakarta.ac.id)

MerahPutih.Com - Pengamat politik Adi Prayitno meminta kedua kubu capres-cawapres dan tim suksesnya untuk dewasa menyikap hasil hitung cepat (quick count) Pilpres 2019 dari sejumlah lembaga survei.

Dosen UIN Syarif Hidayatullah ini mengatakan Jokowi saat menyampaikan pidatonya Rabu petang (17/4) tidak mengesankan jemawa dengan hasil hitung cepat.

"Begitupun pendukung-pendukung 01 yang menyatakan akan mengikuti proses yang ada. Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri juga menyampaikan terima kasih kepada Prabowo," jelas Adi di Jakarta, Kamis (18/4).

Berdasarkan hasil quick count lembaga survei, pasangan Joko Widodo-Ma'ruf Amin unggul 54 persen, terpaut sekitar 9 persen dari pasangan rivalnya Prabowo Subianto-Sandiaga Uno yang hanya mengantongi 45 persen suara.

Rangkuman hasil hitung cepat sejumlah lembaga survei Pilpres 2019
Hasil hitung cepat (quick count) sejumlah lembaga survei terkait Pilpres 2019 (Foto: antaranews)

"Dari kubu 02 juga tidak reaksioner dan akan menunggu hasil hitung resmi KPU. Saya kira satu sikap yang lebih maju ketimbang 2014 yang saling klaim kemenangan. Situasinya cukup panas. Kalau melihat sekarang kondisinya lebih 'adem'," kata Adi.

Menurut dia, tidak ada yang mengejutkan dari hasil hitung cepat lembaga survei yang memenangkan pasangan Jokowi-Ma'ruf. Hasil quick count ini sesuai dari hasil survei.

"Ini bukti elektabilitas Jokowi masih konstan, lurus begitu, karena tidak ada peristiwa besar. Tidak ada tsunami atau kiamat politik," ujarnya.

Adi Prayitno sebagaimana dilansir Antara menjelaskan, tidak ada perubahan signifikan dari elektabilitas capres dan cawapres hingga pilpres dilaksanakan. Ini tergambar dari hasil quick count lembaga survei. Meski ada sedikit perbedaan. kata Adi, masih dalam batas margin error 3 sampai 4 persen.

Data quick count Pemilu 2019
Pergerakan hasil quick count Pemilu 2019 dari sejumlah lembaga survei (Foto: antaranews)

Hitung cepat atau Quick count, kata Adi, bukanlah hasil resmi melainkan potret yang didasarkan pada hasil penghitungan suara di TPS. Karena itu hasil quick count kecenderungannya tidak meleset jauh dari perhitungan real KPU.

"Ini yang harus dijadikan pegangan bahwa quick count itu sebatas alat bantu," tegasnya.

Jika ada pihak yang merasa dirugikan dengan hasil hitung cepat, Adi menyarankan agar melaporkannya ke KPU dan Bawaslu.

"Kalau ada yang merasa quick count itu menyesatkan, menggiring opini atau menguntungkan salah satu kandidat tertentu maka laporkan saja ke KPU, sehingga nanti KPU bisa membentuk dewan kode etik untuk mengadili lembaga-lembaga survei yang diduga meresahkan itu," ujarnya.(*)



Eddy Flo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH