Pengamat Komunikasi Politik Ingatkan Elite Politik Perhatikan Kepentingan Milenial Pakar Komunikasi Politik Universitas Paramadina Dr. Hendri Satrio. (Instagram hendri.satrio)

MerahPutih.Com - Kelompok milenial merupakan basis suara yang besar pada Pemilu 2019. Pengamat komunikasi politik Hendri Satrio menyebutkan, sekitar 40 persen dari total pemilih berasal dari kaum milenial.

Sayangnya, ceruk suara kelompok milenial belum mendapat perhatian dari elite politik. Hensat, demikian sapaan akrabnya mengingatkan elite politk untuk lebih memperhatikan kepentingan generasi milenial.

"Milenial seharusnya diapresiasi, diberi kesempatan lapangan pekerjaan yang lebih besar, bukan hanya dicari suaranya," kata Hensat, di Jakarta, Kamis (4/4).

Karena itu, kata dosen Universitas Paramadina tersebut, sebelum menyampaikan program kerja, partai politik pengusung pasangan calon presiden-wakil presiden pada Pemilu 2019 seharusnya terlebih dahulu membangun kepercayaan milenial terhadap mereka. Selama kepercayaan itu belum terbangun, apa pun usaha yang mereka lakukan tidak akan benar-benar meraih simpati dari milenial.

Komunitas milenial dari Banteng Muda
Komunitas Banteng Muda (KBM) menghadiri acara Demokrasi Rakyat Para Milenial (Derap Milenial) di kantor DPP Perindo, Jakarta, Minggu (26/8). Foto: MP

Dia menganggap milenial sebenarnya cenderung dinamis, tidak apatis. Kurang kepercayaan milenial terhadap partai politik pada dasarnya disebabkan oleh banyak pejabat yang tersandung kasus korupsi.

Meski demikian, Hensat mengimbau milenial tetap memberikan suara mereka dalam pemungutan suara yang akan berlangsung pada 17 April 2019 karena suara mereka akan menentukan masa depan bangsa.

Ia juga belum bisa menyatakan siapa pasangan calon presiden-wakil presiden yang akan mendapatkan suara lebih banyak dari milenial pada Pemilu 2019.

"Politik ini merupakan bisnis harapan. Milenial akan bisa melihat harapan dari pasangan capres-cawapres mana yang lebih sesuai dengan kebutuhan mereka," katanya lagi.

Ilustrasi jangan Golput
Ilustrasi golput. Foto: net

Menurut Hendri Satrio sebagaimana dilansir Antara, dari sisi kepentingan politik praktis, milenial selama ini cenderung hanya jadi alat.

"Memang penting berbicara tentang digital. Tetapi negara kita ini adalah negara agraris. Negara kita ini negara agraris, kenapa hanya berbicara tentang digital 4.0," jelas dia.

BACA JUGA: Politik Pasif Generasi Milenial

JK: Milenial Condong Pilih Jokowi-Ma'ruf

TKN Klaim Banyak Pemilih Milenial yang Masih Malu-Malu Pilih Jokowi

Salah satu elaborasi dari pernyataannya itu, pendekatan oleh salah satu pasangan calon terhadap milenial tidak benar-benar menyentuh kebutuhan milenial dari seluruh kalangan.

"Milenial itu tidak hanya di perkotaan, jadi seharusnya tidak hanya bicara digital dan industri. Bicara juga soal maritim karena banyak milenial yang berasal dari keluarga nelayan. Bicara juga tentang agraria karena banyak milenial dari keluarga petani," terang Hensat.

Elite politik seharusnya berbicara tentang teknologi digital yang dapat meningkatkan hasil pertanian bagi petani dan teknologi digital yang bisa membantu nelayan mendapatkan tangkapan lebih banyak.(*)



Eddy Flo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH