Pengamat Intelijen Jelaskan Keterlibatan BIN Dalam Proses RUU Cipta Kerja Pengamat Intelijen Stanislaus Riyanta (Foto: Dok Pribadi)

MerahPutih.Com - Keterlibatan Badan Intelijen Negara (BIN) dalam persoalan Omibus Law, terutama untuk meredam penolakan masyarakat, merupakan hal yang wajar.

Apalagi, yang dilakukan BIN semata-mata untuk memberikan pemahaman kepada publik tentang sisi positif dari keberadaan omnibus law, khususnya RUU Cipta Kerja, yang segera digodok pemerintah bersama DPR.

Baca Juga:

Omnibus Law Disinyalir Mempreteli Kebebasan Pers, Mahfud MD Bantah

Pengamat Intelijen Stanislaus Riyanta, menilai, masyarakat harus paham jika rancangan Omnibus Law adalah untuk mengubah regulasi yang rumit menjadi lebih sederhana. Untuk itu, diperlukan kehadiran menilai BIN untuk deteksi dini dan cegah dini ancaman negara dan bersifat single user kepada presiden.

“Jika ada pihak yang mau memanfaatkan Omnibus Law untuk mengganggu negara, maka BIN pasti mendeteksi dan mencegahnya," katanya kepada wartawan di Jakarta, Rabu (26/2).

Pengamat jelaskan keterlibatan BIN dalam proses RUU Cipta Kerja
Pengamat Intelijen dan Keamanan Stanislaus Riyanta. (FOTO: Kiriman Stanislaus Riyanta/Dok-Pribadi).

Menurut dia, apa yang dilakukan oleh BIN saat ini masih on the track, tidak perlu ada yang dikhawatirkan.

Perintah Presiden Jokowi untuk BIN pun dinilai sudah benar dan menjadi salah satu upaya untuk menjaga stabilitas negara.

“BIN bertugas untuk deteksi dini dan cegah dini ancaman negara. Penyusunan RUU ada potensi ancaman, untuk itu perlu dideteksi dan dicegah. Tugas BIN clear dalam hal ini,” ujar Stanislaus yang juga peserta program Doktoral UI ini.

Pada kesempatan yang sama, ia juga menilai upaya Jokowi menghadirkan Omnibus Law patut diapresiasi. Selama ini regulasi di Indonesia sangat rumit dan kurang ramah terhadap investasi.

Menurut Stanislaus, hal ini yang akan diperbaiki menjadi lebih sederhana yang tujuan utamanya juga untuk masyarakat Indonesia.

Maka dirinya menganjurkan agar publik tak perlu mengeluarkan reaksi atau komentar yang merugikan maupun menghambat penyusunan RUU tersebut.

“Masih banyak waktu untuk memberi masukan secara positif terhadap Omnibus Law. Jika (masyarakat) ada usulan bisa disalurkan dengan lebih bijak. Tidak perlu malah melakukan aksi kontra produktif tanpa usul yang konstruktif,” katanya.

Pengamat geostrategi yang juga peneliti Institute for Defense and Strategic Research (IDSR) Ian Montratama menganggap upaya yang dilakukan BIN semata-semata untuk memberikan pemahaman kepada publik soal sisi positif dari rancangan RUU Cipta Kerja, bukan cerminan dari rezim yang otoriter.

“Hak Presiden memberi tugas kepada BIN untuk melakukan penggalangan, termasuk dalam menyampaikan hal-hal yang dianggap positif tentang omnibus law,” ujarnya.

Lalu, BIN dapat diberi tugas apa saja oleh Presiden sesuai hukum yang berlaku. Oleh karena itu, menurut Ian, komentar Iwan Smule itu seperti memancing di air keruh. Ian mengatakan, penugasan yang diberikan Jokowi kepada BIN sudah menjadi hal yang normatif.

Baca Juga:

Pemerintah Bantah RUU Cilaka Akan Persulit Hidup Kaum Pekerja

“Menjadi kurang pas kalau membuka ke publik hal-hal yang diperintahkan Presiden kepada BIN. Bisa jadi hal itu melanggar prinsip kerahasiaan negara,” ujarnya.

Ian menyebutkan, keterlibatan BIN untuk berkontribusi dalam mengedukasi masyarakat terkait keberadaan omnibus law sangat dibutuhkan. Sebab, dikhawatirkan ada penyusup yang berusaha memprovokasi agar pengesahan aturan baru itu dibatalkan.(Knu)

Baca Juga:

Muhammadiyah Cemaskan Lolosnya Pasal Selundupan dalam Omnibus Law

LAINNYA DARI MERAH PUTIH
 Pasien Positif Corona Solo Dijemput Paksa Sebelum Diisolasi RSUD Dr Moewardi
Indonesia
Pasien Positif Corona Solo Dijemput Paksa Sebelum Diisolasi RSUD Dr Moewardi

"Itu pasien positif jalan-jalan ke pasar, bahkan Sabtu kemarin masih membantu warga yang punya hajatan pernikahan di kampung," kata dia.

Kadiv Propam Polri Irjen Ignatius Sigit Meninggal Dunia
Indonesia
Kadiv Propam Polri Irjen Ignatius Sigit Meninggal Dunia

Kadiv Propam Irjen Ignatius Sigit, meninggal dunia

Jokowi Minta Menkes Terawan Atur Permen Terkait PSBB Dalam Waktu 2 Hari
Indonesia
Jokowi Minta Menkes Terawan Atur Permen Terkait PSBB Dalam Waktu 2 Hari

"Lalu juga angka apa yang bisa diterapkan oleh daerah. Saya minta dalam waktu maksimal 2 hari peraturan menteri itu bisa selesai," sambung Jokowi.

Terdampak Pandemi, Perajin Batik Yogyakarta Stop Produksi
Indonesia
Terdampak Pandemi, Perajin Batik Yogyakarta Stop Produksi

Para perajin hanya menjual stok batik yang ada untuk bertahan hidup.

Rizieq Selipkan Ucapan Kotor Saat Ceramah, Pangdam Jaya: Sebagai Muslim, Saya Tak Terima
Indonesia
Rizieq Selipkan Ucapan Kotor Saat Ceramah, Pangdam Jaya: Sebagai Muslim, Saya Tak Terima

Kemudian jangan asal bicara sembarangan, jaga dari siksa api neraka

BPPTKG Prediksi Erupsi Merapi 2020 Tak Sedahsyat 2010
Indonesia
BPPTKG Prediksi Erupsi Merapi 2020 Tak Sedahsyat 2010

Letusan mendatang cenderung menyamai kejadian 2006 dan tidak sedahsyat erupsi besar 2010.

Tak Pakai Masker, Warga di Gresik Dihukum Gali Kuburan Jenazah COVID-19
Indonesia
Tak Pakai Masker, Warga di Gresik Dihukum Gali Kuburan Jenazah COVID-19

Penerapan sanksi tersebut dilakukan di Desa Ngabetan, Kecamatan Cerme, Gresik dimana puluhan warga tersebut digiring ke tempat pemakaman umum (TPU) desa setempat.

Anies Akui Banyak Anak di Jakarta Terpapar Corona
Indonesia
Anies Akui Banyak Anak di Jakarta Terpapar Corona

Hal itu dikatakan Anies melalui chanel Youtube resmi Pemprov DKI dalam memperingati Hari Anak Nasional.

Perkembangan COVID-19 Juni, Angka Positivity Rate Lebih Rendah daripada Bulan Mei
Indonesia
Perkembangan COVID-19 Juni, Angka Positivity Rate Lebih Rendah daripada Bulan Mei

Secara nasional positivity rate Indonesia mencapai 12% yang masih di atas standar positivity rate yang ditetapkan WHO yaitu sebesar 5%

5000 Alat Deteksi COVID-19 GeNose Bakal Didistribusikan Februari 2021
Indonesia
5000 Alat Deteksi COVID-19 GeNose Bakal Didistribusikan Februari 2021

Satu unit Genose C19 dijual Rp62 juta dan dapat digunakan mendeteksi Covid-19 melalui embusan napas dengan sangat cepat sekitar 2 menit tanpa memerlukan reagen.