Pengamat: 80 Persen Pelaku Serangan Teror Terkoneksi JAD, Termasuk di Medan Satuan Brimob Polri saat penangkapan terduga teroris di Tangerang Selatan. (MP/Rizki Fitrianto)

MerahPutih.com - Pengamat terorisme Zaki Mubarak menduga, pelaku bom di Mapolrestabes Medan memiliki koneksi struktural langsung dengan Jamaah Ansharut Daullah (JAD). Salah satu alasannya karena mereka menjadikan polisi sebagai sasaran serangan teror.

"Indikasinya bahwa kelompok jihad selain JAD tidak menjadikan polisi sebagai sasaran jihad," ucap Zaki kepada wartawan saat acara diskusi di kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat, Sabtu (16/11).

Baca Juga:

Keterlibatan Perempuan dalam Aksi Teror di Medan sebagai Strategi ISIS

Zaki menyebut, koneksi ini terjadi secara struktural maupun fungsional. "Sekitar 80 persen pelaku serangan teror itu terkoneksi dengan JAD baik secara struktural maupun secara fungsional," ujar Zaki.

Ilustrasi Densus 88 Antiteror (MP/Win)
Ilustrasi Densus 88 Antiteror (MP/Win)

Zaki mengingatkan, bom bunuh diri di Mapolrestabes Medan menjadi peringatan bagi aparat keamanan karena pelaku bisa menembus jantung pertahanan kepolisian.

"Nah kalau yang level kw (palsu) saja bisa memasuki jantung pertahanan dari institusi keamanan dan menewaskan beberapa polisi, maka saya kira yaitu sedang menjadi alarm bahwa mereka sendiri ternyata belajar tentang strategi-strategi itu," sambungnya.

Dia mengatakan, secara struktural, ada hubungan kepengurusan dengan petinggi organisasi JAD di wilayah mereka.

Pengamat Gerakan Islam dari UIN Jakarta ini menambahkan, telah terjadi perubahan aksi teror di Indonesia belakangan ini yang sebagian dilakukan individual.

"Mereka belajar autodidak dan mengalami proses radikalisasi secara personal. Misalnya beberapa pelaku yang melakukan serangan terhadap polisi yang di Tangerang, kemudian di Polsek Wonokromo, itu secara struktural tidak terkoneksi dengan jihadis maupun perkumpulan jihadis di tanah air," ujar Zaki.

Proses radikalisasi personal itu terjadi melalui berbagai media seperti Youtube hingga media sosial seperti Facebook. Keterampilan mereka pun berbeda jauh dengan mereka yang pernah belajar ke Afghanistan dan Filipina dalam merancang bom atau strategi dalam melakukan aksi teror.

Baca Juga:

Romo Benny: Pancasila Senjata Paling Ampuh Berantas Intoleransi

"Sekarang itu skalanya kecil. Bomnya dirakit ala kadarnya karena sumber daya yang dimiliki mulai merosot secara signifikan. Sebagian yang punya skil sudah pergi jihad atau sedang dipenjara, tersisa adalah yang tidak memiliki keterampilan dan kapasitas sangat lemah sekali," kata Zaki.

Petugas Kepolisian menyita sejumlah barang dari rumah pelaku bom bunuh diri RMN (24) di Mapolrestabes Medan. (Antara Sumut/Nur Aprilliana Br Sitorus)
Petugas Kepolisian menyita sejumlah barang dari rumah pelaku bom bunuh diri RMN (24) di Mapolrestabes Medan. (Antara Sumut/Nur Aprilliana Br Sitorus)

Zaki menambahkan, kejadian dari tahun 2014 sampai 2016, jihadis-jihadis di Indonesia yang terampil dengan ideologi kuat lebih dari 700 orang berangkat ke Suriah. Jadi yang tersisa di Indonesia kini adalah nonstruktural atau kelompok kecil.

"Mereka yang berangkat ke Suriah hampir semuanya mati dan tergabung dalam ISIS, yang tersisa adalah jihadis skilnya kurang, sumber daya sangat kecil. Karena yang punya keterampilan tinggi dan ideologi kuat itu kalau enggak ada di Suriah, itu ada di penjara," tutup Zaki. (Knu)

Baca Juga:

Waspadai Propaganda Teroris Bermodus "Teror Rekayasa"


Tags Artikel Ini

Zulfikar Sy

LAINNYA DARI MERAH PUTIH