Pengacara Sebut Rahmat Kadir tidak Bermaksud Celakai Novel Baswedan RB, tersangka pelaku penyiraman air keras terhadap penyidik senior KPK Novel Baswedan. [Antara/ Anita Permata Dewi]

MerahPutih.com - Dua terdakwa kasus penyerangan Novel Baswedan mengajukan pledoi atau pembelaan. Melalui salah satu pengacaranya, Rahmat Kadir mengaku tidak mempunyai maksud untuk mencelakai atau menimbulkan luka berat terhadap Novel.

"Ia merupakan pelaku tunggal serta Mandiri karena didorong rasa benci yang timbul secara spontan terhadap saksi korban yang dianggap oleh terdakwa sebagai kacang lupa pada kulitnya," kata salah satu pengacara di Pengadilan Negeri Jakarta Utara, Senin (15/6).

Baca Juga

Tim Kuasa Hukum Minta Dua Penyerang Novel Dibebaskan

Penasihat hukum itu melanjutkan, peristiwa yang dialami Novel merupakan hal lazim.

"Sebenarnya kejadian yang menimpa saksi korban merupakan kejadian yang dapat dikategorikan sebagai peristiwa yang sering terjadi dan dapat menimpa siapa saja," kata sang penasihat hukum yang juga dari Mabes Polri ini.

Tim penasihat hukum melanjutkan, karena kejadian yang diberitakan dan dikaitkan oleh pihak tertentu kemudian mengirim opini bahwa peristiwa tersebut berhubungan dengan perkara yang sedang ditangani Novel.

Dua eks anggota Brimob (baju oranye) yang menjadi terdakwa kasus teror penyiraman air keras Penyidik KPK Novel Baswedan. (Foto: MP/Kanugrahan)
Dua eks anggota Brimob (baju oranye) yang menjadi terdakwa kasus teror penyiraman air keras Penyidik KPK Novel Baswedan. (Foto: MP/Kanugrahan)

"Maka menjadikan kasus itu menjadi menggeleding liar seolah-olah yang menghantam tubuh kepolisian. Yang jauh dari perkiraannya itu Kemudian terdakwa termasuk menyerahkan diri untuk meredam isu isu negatif yang menyudutkan menghancurkan kepolisian," tambah dia.

Tim kuasa hukum juga menyebut sifat Novel yang menciderai institusi Polri dengan segala sikapnya. Padahal dia merupakan mantan anggota Polri.

Baca Juga

Wakil Ketua KPK Harap Putusan Hakim di Kasus Novel Berkiblat pada Keadilan

"Sikap patriotik dalam diri terdakwa merasa tercabik dengan melihat adanya fakta seperti itu sehingga secara spontan menimbulkan rasa antipati terhadap terdakwa . Hal inilah yang memantik terdakwa ingin memberikan pelajaran kepada saksi korban dengan menyiramkan air aki yang telah dicampur dengan air biasa ke tubuh korban," jelas dia.

Tim kuasa hukum terdakwa menyayangkan, tuntutan satu tahun pidana terhadap kedua terdakwa tidak mempertimbangkan fakta persidangan. Padahal, kedua terdakwa melakukan perbuatannya dengan tidak sengaja.

“Kami sayangkan dalam tuntutan tidak memperhatikan fakta di persidangan. Jaksa bersikukuh mempertahankan tuntutan,” kata Rudi Heryanto, Tim Kuasa Hukum Terdakwa Rahmat Kadir.

Tim kuasa hukum menegaskan, oknum Brimob Polri itu melakukan perbuatannya karena dorongan rasa benci pribadi kepada Novel Baswedan. Penyiraman yang menggunakan air aki itu dipicu kebencian terdakwa kepada Novel yang tidak menjaga jiwa korsa.

“Pengakuan terdakwa kebenaran. Bukan diarahkan atau rekayasa,” ujar Tim Hukum dari Divisi Hukum Polri itu.

Perbuatan terdakwa diyakini bukan suruhan dari atasan di lingkungan Polri. Karena perbuatan penyiraman terdakwa dilakukan karena motif pribadi.

“Penyiraman dilakukan karena motif pribadi, tidak ada hubungan perintah atasan,” tutup Tim Hukum Polri itu.

Sebelumnya, terdakwa kasus penyiraman air keras terhadap penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan, Ronny Bugis dan Rahmat Kadir Mahulette dituntut satu tahun pidana penjara. Jaksa menilai, Ronny dan Rahmat terbukti melakukan penganiayaan berat terhadap Novel.

“Menjatuhkan pidana penjara terhadap terdakwa dengan hukuman pidana selama satu tahun,” kata Jaksa Fedrik Adhar membacakan surat tuntutan di Pengadilan Negeri Jakarta Utara, Kamis (11/6).

Baca Juga

Kejagung Diduga Terlibat Atas Tuntutan Ringan Peneror Novel Baswedan

Dalam pertimbangan Jaksa, hal yang memberatkan Ronny dan Rahmat dinilai telah mencederai institusi Polri. Sedangkan hal yang meringankan, keduanya berlaku sopan selama persidangan dan mengabdi di institusi Polri.

Jaksa meyakini, Ronny Bugis bersama-sama-sama dengan Rahmat Kadir terbukti melakukan penganiyaan berat dengan terencana. Terencana, yang dimaksud jaksa adalah kedua terdakwa terbukti melakukan pemantauan rumah Novel sebelum melancarkan aksinya. (Knu)

LAINNYA DARI MERAH PUTIH
Buru Identitas Pembacok Wakapolres Karanganyar, Polisi Tes DNA Warga Madiun
Indonesia
Buru Identitas Pembacok Wakapolres Karanganyar, Polisi Tes DNA Warga Madiun

Kapolres Karanganyar, AKBP Leganek Mawardi, mengungkapkan terkait identitas pelaku pembacokan sudah menemukan titik terang.

Arus Balik Bikin Jakarta Berpotensi Kena Gelombang Kedua COVID-19
Indonesia
Arus Balik Bikin Jakarta Berpotensi Kena Gelombang Kedua COVID-19

Urbanisasi pasca Lebaran sulit terelakkan

Ada Halangan Hadir, Ahok Kirim Salam ke Anies saat Peluncuran Buku Syarif
Indonesia
Ada Halangan Hadir, Ahok Kirim Salam ke Anies saat Peluncuran Buku Syarif

Syarif menggelar acara peluncuran buku autobiografi dengan judul "Tangis Tawa Senyum Catatan Perjalanan Aktivis Tanpa Angkatan" di Hotel Arya Duta.

Pemkab Gowa Buka Suara Penyebab Meninggalnya Peserta Ijtima Asia 2020, Gegara Corona?
Indonesia
Pemkab Gowa Buka Suara Penyebab Meninggalnya Peserta Ijtima Asia 2020, Gegara Corona?

Hal senada juga di sampaikan oleh Kepala Rumah Sakit Bhayangkara Makassar Kombes Pol dr Farid Amansyah

Pesepeda Masih Ramai di Sepanjang Sudirman-Thamrin
Indonesia
Pesepeda Masih Ramai di Sepanjang Sudirman-Thamrin

Tapi tak nampak para pejalan kaki yang berolahraga di sana.

DPR Dinilai Egois dan Tak Peka karena Ingin Tes Corona dengan Instan
Indonesia
DPR Dinilai Egois dan Tak Peka karena Ingin Tes Corona dengan Instan

Rencana rapid test corona yang akan dijalani oleh anggota DPR, keluarga, dan staf mereka dianggap sebagai bentuk egoisme.

Perkantoran di Jakarta Buka, Penumpang KRL Membludak
Indonesia
Perkantoran di Jakarta Buka, Penumpang KRL Membludak

KCI sendiri sudah menyiapkan sejumlah tahapan untuk menambah batasan kapasitas pengguna yang diizinkan dalam KRL jika volume pengguna terus naik.

Rinaldi Dijebak Pelaku Sebelum Dibunuh dan Dimutilasi
Indonesia
Rinaldi Dijebak Pelaku Sebelum Dibunuh dan Dimutilasi

Tersngka Laeli menjebak korban untuk menemuinya di lokasi eksekusi di Apartemen Mansion Pasar Baru, Sawah Besar, Jakarta Pusat.

RS Soekanto, Kapolri Pertama yang Sempat tak Miliki Modal dan Kantor
Indonesia
RS Soekanto, Kapolri Pertama yang Sempat tak Miliki Modal dan Kantor

Selain perannya menciptakan Polri sebagai penegak hukum bagi masyarakat, ia juga menjadi penggerak Polisi Indonesia memisahkan diri dari sistem kolonial.

PSBB Jawa dan Bali, Airlangga Hartarto Minta Masyarakat Jangan Panik
Indonesia
PSBB Jawa dan Bali, Airlangga Hartarto Minta Masyarakat Jangan Panik

Pemerintah pusat memutuskan untuk memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Jawa-Bali yang dimulai 11 Januari hingga 25 Januari 2021 mendatang.