Mengintip Bagaimana Berbagai Negara Menangani Virus Corona, Di Indonesia Seperti Apa? Penanganan virus corona (Sumber: Newsweek)

NEGARA memiliki peranan besar dalam melindungi warganya dari virus Corona. Kebijakan tiap negara membuat penanggulangan virus corona cukup variatif. Walaupun beraneka ragam, mereka sama-sama sepakat untuk menjadikan tes sebagai langkah awal pengendalian virus corona.

Tes menjadi hal yang penting karena dengan melakukan pengujian, virus Corona lebih terkendali. Misalnya, jika ada orang yang terindikasi Corona dengan gejala ringan, saat ia mengisolasi mandiri akan meminimalisir orang lain yang terdampak.

Baca juga:

Dokter Tiongkok yang Pertama Kali Ungkap Virus Corona Menghilang

Sebaliknya, apabila sumber daya terbatas dan sistem layanan kesehatan kelebihan beban, orang yang sehat bisa menghindari datang ke fasiltas kesehatan. Risiko penularan pun lebih rendah. Masing-masing negara memiliki strategi berbeda dalam hal pengujian COVID-19.

Dokter
Tes corona (Sumber: The News York Times)

Todd Pollack, MD, asisten Profesor Kedokteran di Harvard Medical School menjelaskan strategi di tiap negara tergantung akan beberapa hal. Pertama, keadaan lingkungan di tiap negara yang menyebabkan pandemi bereaksi berbeda antara satu negara dengan yang lain.

Kedua, adalah ketersediaan sumber daya pengujian baik alat tes itu sendiri (rapid test atau swab) dan alat pelindung diri (APD) untuk tenaga kesehatan.

Di Amerika Serikat, tiap negara bagian memiliki kriteria yang berbeda. Beberapa negara bagian menguji para tenaga medis yang telah melakukan kontak dengan orang dalam pemantauan (ODP) atau pasien dalam pengawasan (PDP).

Di New York, pengujian COVID-19 hanya dilakukan pada pasien yang dirawat di rumah sakit. Sementara di Boston, mereka dapat menguji pasien yang tidak dirawat di rumah sakit, namun dengan persetujuan yang bersangkutan. Pedoman tersebut dapat berkembang, tergantung akan ketersediaan peralatan pengujian dan persediaan APD.

Corona
Corona di Amerika (Sumber: The Guardian)

Di Korea Selatan, pengujan dilakukan lebih ketat. Pengujian dilakukan besar-besaran. Negara tersebut mendrikan 96 jaringan laboratorium yang dikelola pemerintah dan swasta. Sebanyak 20.000 orang melakukan tes setiap hari.

Semua orang yang menunjukkan gejala akan dites. Mereka yang berinteraksi dengan orang-orang bergejala juga akan dites. Hasil pengujian tersebut lantas dijadikan sebagai rujukan, apakah mereka harus melakukan isolasi mandiri atau di rumah sakit atau tidak.

Baca juga:

Lahir di Masa Wabah Virus Corona, Bayi Kembar Ini Diberi Nama Covid dan Corona

Namun demikian, Korea Selatan mengontrol jumlah pasien yang dirawat di rumah sakit. "Kami harus memprioritaskan orang dengan gejala paling parah karena tidak bisa merawat seluruh pasien," ujar dokter Spesialis Penyakit Menular di Korea National Medical Centre, Dr. Kin Yeon-jae.

Sementara sebagai negara yang berbatasan langsung dengan Tiongkok, Vietnam justru menunjukkan sangat sedikit kasus tanpa adanya kematian. Hal tersebut karena negara tersebut meningkatkan respon.

Pemerintah Vietnam langsung memobilisasi masker, peralatan APD, dan mulai melihat opsi pengujian diagnostik. Pasien positif langsung diisolasi. Sejak awal virus Corona mewabah, Vietnam langsung menutup wilayah perbatasan dan menerapkan protokol pengujian dan isolasi. Strategi itu menekan penyebaran virus.

Virus corona
Pengendalian virus corona di negara Asia (Sumber: Supply Chain Brain)

Sementara untuk tes, sebagian besar negara menggunakan strategi paling efektif yakni metode swab. Metode tersebut sesuai dengan standar diagnostik WHO dan sama dengan pengujian infeksi lainnya seperti virus HIV, TBC dan hepatitis. Caranya yakni dengan mengambil sampel swab spesimen dari tenggorokan, mulut atau hidung.

Rangkaian tes dengan nama lain polymerase chain reaction tersebut dapat melihat ada atau tidaknya DNA virus corona pada spesimen. Untuk akurasi, tes swab masuk kategori sangat akurat. Tes swab harus dlakukan di laboratorium BSL 2.

Adapun untuk metode pengujian di Indonesia masih menitikberatkan pada tes sederhana yang disebut rapid test. Pengujian dinilai dari imunoglobin dalam darah. Hasil tes ini cukup singkat yakni dalam hitungan menit. Namun, tingkat akurasinya rendah. (avia)

Baca juga:

Berat Badan Naik? Ikuti 4 Strategi Mencegah Makan Berlebihan Ketika Karantina!

Kredit : iftinavia


Iftinavia Pradinantia