Penanganan Banjir Ala Anies Bermuatan Politis dan Populis Banjir di Kuningan, Jakarta Selatan. Foto: ANTARA

MerahPutih.com - Peneliti Populi Center Jefrie Ardiansyah mengkritik langkah Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan semasa penanganan bencana banjir di ibu kota.

Jefrie pun menilai sikap Anies dengan tidak menyampaikan langkah rasional pengendalian banjir, misalnya pembuatan situ, waduk, atau tuntasnya pengerjaan naturalisasi yang digaungkannya.

Baca Juga

Banjir Terjang Jakarta, Anies Dianggap Tak Fokus karena Pangkas Anggaran Penanganan

Ia menyoroti sejumlah pernyataan Anies kepada media saat mengunjungi kawasan terdampak banjir, seperti anak kecil senang saat ada banjir, memerintahkan pihak kelurahan untuk berkeliling memberikan peringatan dini terjadinya banjir menggunakan toa pengeras suara.

Menurut Jefri, seharusnya Anies memberi pernyataan yang lebih konkret, seperti rencana akan membuat waduk atau memperbarui mesin pompa yang ada di Jakarta.

"Anies justru terjebak dalam eksluvitas populisme. Dia selalu keluarkan statement yang berseberangan dengan pihak yang berseberangan dengannya. Padahal (pemilihan presiden) 2024 masih jauh," ujarnya kepada wartawan di Jakarta, Kamis (16/1).

Penanganan Bencana Banjir
Warga melintas di jalan yang tergenang banjir akibat kali di Pasar Baru, Jakarta Pusat meluap setelah hujan deras mengguyut Jakarta, Kamis (2/01/2020). (Antara News/Dewa Wiguna)

Jefri melihat, ada indikasi bahwa apapun program yang diluncurkan, asalkan ada nama Anies maka akan dinilai baik.

Baca Juga

DKI Banjir 2020, Andi Arief Ingatkan Jokowi dan Anies Jangan Saling Tuding

"Ini kan contoh buruk dalam kebijakan publik, bahwa memang ada persoalan populisme yang membuat persoalan saat ini tidak efektif,” ujar Jefri Ardiansyah.

Pengamat Tata Kota Nirwono Yoga mengatakan, bahwa untuk banjir yang melanda Jakarta dan sekitarnya pada awal 1 Januari 2020 lalu, merupakan banjir lokal.

"Pertama banjir kiriman, yakni curah hujan tinggi di Puncak Bogor hujan deras dan mengaliri 13 sungai besar di Jakarta. Kedua banjir lokal, termasuk hujan besar di Jakarta," ucap Yoga.

Ia menyebut, hujan lebat dan banjir itu dipengaruhi dua faktor, yakni kurangnya lebar sungai dan tidak bisa menampung air, serta sanitasi yang buruk.

"Itu banjir lokal," kata dia.

Sementara yang terakhir adalah tipe banjir besar, siklus tahunan yang biasa terjadi pada Januari dan Februari.

"Kalau banjir kemarin posisi dua, banjir lebat di Jakarta sementara Puncak Bogor belum lebat. Kalau tidak salah pintu air masih siaga 2, belum siaga 1, jadi banjir kiriman belum ada faktor (penyebab banjir) kemarin," ucap Yoga.

Baca Juga

Berbagai Wilayah di DKI Banjir, Anies: Bukan Soal yang Belum Kena Normalisasi

Bencana banjir melanda Jakarta dan sekitarnya pada awal tahun 2020 lalu. Hujan lebat yang terjadi pada 31 Desember 2019 hingga 1 Januari 2020 menyebabkan sejumlah wilayah mulai dari perumahan hingga jalan raya tergenang air dengan ketinggian yang beragam. (Knu)



Andika Pratama