Pemkab Gowa Buka Suara Penyebab Meninggalnya Peserta Ijtima Asia 2020, Gegara Corona? Kadinkes Gowa dr Hasanuddin (kiri) bersama Kepala RS Bhayangkara Kombes Farid Amansyah (dua dari kiri) bersama panitia Ijtima Asia 2020 di Gowa, Minggu (29/3) ANTARA/HO

Merahputih.com - Pemerintah Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan buka suara soal meninggalnya peserta Ijtima Zona Asia 2020, Sukardi (65) sepekan yang lalu. Pemerintah memasikan Sukardi meninggal bukan karena tertular virus corona baru (COVID-19).

"Berdasarkan hasil pemeriksaan darah yang dilakukan oleh Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) dr Wahidin Sudirohusodo Makassar, hasilnya menjelaskan bahwa dari hasil pemeriksaan darah tersebut tidak menunjukkan adanya tanda-tanda infeksi karena virus," ujar Direktur Utama Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Syekh Yusuf Kabupaten Gowa, dr Salahuddin di Gowa Minggu (29/3).

Baca Juga

Aparat Lokalisir Pertemuan Ijtima Dunia di Gowa, Peserta 8.000 Lebih

Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa leukosit atau darah putihnya normal dan limfosit juga tinggi. Dokter Salahuddin menyatakan kesimpulan dari pemeriksaan itu tidak adanya tanda-tanda terinfeksi virus karena jika terinfeksi virus, maka darah putih atau leukosit akan tinggi.

"Kalau dia terinfeksi virus, leukositnya itu pasti tinggi sedangkan ini leukositnya rendah. Begitupun limfositnya akan dibawah standar normal bukan di atas," katanya.

Sementara untuk pemeriksaan PCR tidak dapat dilakukan karena sudah tidak memungkinkan lagi untuk mengambil swap (cairan). Pengambilan swap tidak bisa dilakukan karena mulut jenazah tidak bisa terbuka.

"Swapnya itu kan harus buka mulut dengan hidungnya. Jadi dia hanya sempat diambil darahnya dan darahnya juga sangat terbatas hanya mampu didapat itu setengah CC," tuturnya.

Peserta Ijtima Dunia 2020 Zona Asia di Kecamatan Bontomarannu, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. ANTARA/HO/Int

Hasil laboratorium ini setidaknya mendukung hasil pemeriksaan sebelumnya yang menganggap bahwa korban meninggal akibat serangan jantung. Karena sebelum meninggal korban tidak memiliki gejala-gejala yang mengarah kepada COVID-19.

"Memang arahnya ke sana (jantung) karena riwayatnya memang sebelumnya itu dia selalu nyeri dada dan ada riwayat dari keluarganya menurut temannya itu ada sakit jantung . Juga tidak ada riwayat demamnya dan tidak ada batuk, yang ada nyeri dada dan riwayat hipertensi," terang dia.

Hal senada juga di sampaikan oleh Kepala Rumah Sakit Bhayangkara Makassar Kombes Pol dr Farid Amansyah SPPD saat ditemui di lokasi pelaksanaan Ijtima Zona Asia di Desa Nirannuang Kecamatan Bontomarannu, Jumat (20/3) lalu.

Baca Juga:

Ini Perbedaan Alergi Biasa dan COVID-19

Menurutnya, sebagaimana dikutip Antara, korban meninggal di duga akibat penyakit jantung karena tidak ditemukan tanda-tanda COVID-19.

"Sebelum shalat dhuhur beliau sempat terjatuh dan sebelumnya memang ada riwayat itu sakit jantung. Sehingga memang kalau tidak dilakukan autopsi kita perkirakan meninggal karena jantung dan beliau sudah berumur 65 tahun sehingga kemungkinan memang meninggal karena itu (jantung)," ujarnya. (*)



Angga Yudha Pratama

LAINNYA DARI MERAH PUTIH