Pemilu 2019 Diibaratkan Kawin Paksa Peneliti LSI Denny JA, Aji Alfarabi saat acara diskusi MNC Trijaya 'Pemilu Serentak Yang Menghentak' di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (20/4). Foto: MP/Kanugrahan

MerahPutih.com - Peneliti LSI Denny JA, Aji Alfarabi menilai Pemilu 2019 seperti dipaksakan. Menurut Aji, terjadi ketidakseimbangan antara kualitas pemilihan presiden (pilpres) dengan pemilihan legislatif (pileg).

"Kami bisa simpulkan pemilu serentak ini ibarat kawin paksa, dua pemilu yang dipaksa digabung. Kami melihat tidak adanya equality antara pilpres dan pileg," ucap Aji dalam diskusi bertajuk 'Pemilu Serentak yang Menghentak' di Jl Wahid Hasyim, Jakarta Pusat, Sabtu (20/4).

Peneliti LSI Denny JA, Aji Alfarabi

Aji menuturkan hampir 70 persen percakapan publik membahas tentang pilpres. Aji juga mengatakan tingkat partisipasi masyarakat di pilpres timpang dengan di pileg.

"Hampir 70 persen percakapan publik ini majority tentang pilrpes. Di tingkat partisipasinya berbeda, kalau pilpres 81 persen, kalau pileg sekitar 70 persen," kata Aji.

Aji menjelaskan masyarakat perlu tahu memilih eksekutif dengan memilih legislatif sama pentingnya. Namun, karena antusiasme masyarakat lebih kepada pilpres informasi terkait pileg menjadi minim diterima masyarakat.

"Kita tahu memilih eksekutif sama pentingnya dengan memilih parlemen. Partai politik saya yakin merasakan hal yang sama, minim sekali partai politik melaksanakan sosialisasi ke publik kalau merekalah partai politik atau caleg yang layak dipilih," jelas Aji.

Pemilu 2019

Sehingga, publik menjadi malas dalam menentukan pilihan.

"Kualitas pilihan publik akhirnya jadi minim sekali karena rendahnya info yang diterima publik terkait caleg atau partai politik," sambung dia. (Knu)


Tags Artikel Ini

Andika Pratama

LAINNYA DARI MERAH PUTIH