berita-singlepost-banner-1
Pemerintah Kekurangan Ribuan Dokter dan Relawan Tanggulangi COVID-19 Tenaga kesehatan di RS Pelni Jakarta mengecek kesiapan alat kesehatan di ruang isolasi. (ANTARA/Muhammad Zulfikar)
berita-singlepost-banner-2
berita-singlepost-mobile-banner-7

MerahPutih.com - Pemerintah membutuhkan tenaga medis 1.500 dokter dan 2.500 perawat untuk menanggulangi COVID-19. Rinciannya spesialis paru dan anestesi, dokter umum, pranata lab, perawat, dan juga bagian administrasi rumah sakit, sampai ke sopir ambulans.

Koordinator relawan gugus tugas Andre Rahadian mengatakan, pihaknya telah bekerja sama dengan sejumlah pihak terkait ketersediaan relawan tenaga medis, termasuk LSM dan perguruan tinggi.

Baca Juga:

Antisipasi Lonjakan Pasien COVID-19, Wisma Atlet Bisa Operasikan Dua Tower Tambahan

"Teman-teman mahasiswa-mahasiswa tingkat akhir akan jadi lapis kedua jadi pencegahan," katanya dalam konfrensi pers di BNPB, Jakarta Timur, Kamis (26/3).

Menurut Andre, mahasiswa di jurusan kesehatan tingkat akhir dapat membantu dalam tahap konsultasi psikologis dan medis secara online.

"Dalam minggu ini semua akan diluncurkan, hari ini sudah diluncurkan desk relawan, mungkin besok akan dilakukan secara masif pendaftaran ini," terangnya.

"Mereka menjadi lapis kedua bagian pencegahan. Mereka melakukan konsultasi medis yang dilakukan melalui platform online," katanya.

Petugas medis melintasi ruang isolasi Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr. Sardjito, Sleman, DI Yogyakarta. ANTARA FOTO/ Hendra Nurdiyansyah
Petugas medis melintasi ruang isolasi Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr. Sardjito, Sleman, DI Yogyakarta. ANTARA FOTO/ Hendra Nurdiyansyah

Gugus tugas sudah membuat microsite di laman website BNPB dan menerima pendaftaran para relawan. Pekan ini sudah diluncurkan desk relawan yang akan menghadapi pandemi ini.

"Mudah-mudahan gugus tugas mendapatkan support semua warga negara Indonesia (WNI) menjadi petugas kemanusiaan," ujarnya.

Pemerintah Indonesia akan mengoperasikan dua tower tambahan Wisma Atlet Kemayoran sebagai skenario antisipasi apabila terjadi lonjakan pasien COVID-19.

Hal itu disampaikan Pangdam Jaya Mayjen TNI Eko Margiyono dalam keterangannya di Graha Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Jakarta, Kamis (26/3).

"Kalau skenario bertambah buruk kita bisa gunakan skenario berikutnya, yaitu tower empat dan lima," kata Mayjen TNI Eko Margiyono.

Sebagaimana diketahui pada saat ini sudah ada dua tower di Wisma Atlet yang digunakan sebagai Rumah Sakit (RS) Darurat Covid-19 dengan daya tampung hingga sebanyak 3.000 pasien.

Adapun ke dua tower tersebut masing-masing tower tujuh yang sudah beroperasi dengan daya tampung 1.700 pasien dan tower enam dengan daya tampung 1.300 pasien.

Baca Juga:

Semua Orang Bisa Jadi Pembawa Virus Corona, Masyarakat Diingatkan Pentingnya Jaga Jarak

Di sisi lain, RS Darurat COVID-19 Wisma Atlet juga menerapkan sistem pelayanan kesehatan safe handling dengan meminimalkan kontak pasien dengan petugas perawat.

"Rumah sakit ini beda dengan yang lain karena menerapkan sistem pelayanan safe handling, dengan sistem video call. Kedua self quarantine, ketiga limitasi kontak dengan petugas, keempat apabila semakin memberat akan dirujuk ke rs rujukan," ujarnya.

Eko mengatakan, saat ini sudah ada beberapa pasien yang dirujuk ke rumah sakit rujukan pemerintah karena menunjukkan gejala yang berat saat dirawat di Wisma Atlet.

"Ada beberapa pasien yang datang setelah diperiksa menunjukkan gejala berat kemudian dirujuk," imbuhnya. (Knu)

Baca Juga:

Cegah Wabah COVID-19, Jadwal KA Surabaya ke Jakarta Dipangkas Bertahap


berita-singlepost-mobile-banner-3
Tags Artikel Ini

Zulfikar Sy

LAINNYA DARI MERAH PUTIH


berita-singlepost-banner-4
berita-singlepost-banner-5
berita-singlepost-banner-6