Pemerintah Daerah Dorong Santri Milenial Melek Teknologi, Katanya ... Gubernur Jateng Ganjar Pranowo (kiri) bersama Wakil Gubernur Jateng Taj Yasin Maimoen (kanan). (Foto: kbr.id)

MerahPutih.com - Para santri di Provinsi Jawa Tengah (Jateng) didorong untuk bersikap kritis dan tetap memegang teguh akidah dalam menghadapi berbagai permasalahan sesuai dengan perkembangan zaman.

"Seiring perkembangan zaman dan kemajuan teknologi seperti sekarang, santri harus berpikir kritis melihat dunia luar, mampu menyaring berbagai informasi dan ilmu agama, serta tidak gagap teknologi. Terlebih pada era serba digital, santri milenial dituntut kreatif dalam menggali ilmu secara luas dan mendalam dengan tetap memegang kuat akidah," kata Wakil Gubernur (Wagub) Jateng Taj Yasin Maimoen seperti dikutip dari Antaranews.com di Semarang, Kamis (10/1).

Menurut lelaki yang akrab disapa Gus Yasin ini, fenomena santri sekarang tidak terlepas dari dinamika kehidupan, perkembangan zaman, dan kecepatan informasi dari berbagai media berbasis teknologi mutakhir.

"Santri yang dulu identik dengan belajar dan tinggal di pesantren atau mondok, kini tidak sedikit santri yang menggali ilmu melalui media digital, browsing internet dengan kajian dan sumber yang dapat dipertanggungjawabkan," ujarnya.

Ia menyebutkan tidak ada yang mampu membendung apalagi menghindari kemajuan teknologi dan kecepatan informasi di era digitalisasi.

"Karenanya pada masa sekarang, santri milenial tidak hanya belajar dan berdakwah di lingkungan pesantren atau sekolah, tetapi bisa juga secara virtual, melalui teknologi streaming atau konten yang disiarkan langsung melalui media internet," terang politikus Partai Persatuan Pembangunan itu.

Ilustrasi Santri. (ANTARA FOTO/Didik Suhartono)
Ilustrasi Santri. (ANTARA FOTO/Didik Suhartono)

Sisi positif era milenial, lanjut Gus Yasin, santri milenial lebih mudah menyebarkan informasi atau berbagi ilmu agama kepada masyarakat luas, dimanapun dan kapan pun tanpa harus bertatap muka langsung dengan audiens.

"Sedangkan sisi negatif, santri yang belum melek teknologi belum dapat mendalami ilmu yang disampaikan sehingga tidak sedikit santri yang belum paham ilmu agama secara mendalam atau hanya tahu permukaan tanpa belajar lebih lanjut hingga kerap keliru memahaminya," ujarnya.

Ia mengungkapkan dirinya merencanakan program santri virtual untuk mereka yang ingin mendalami agama, tapi tidak memiliki ruang dan waktu, seperti para aparatur sipil negara, karyawan, swasta, dan lainnya.

"Dalam program tersebut, konten diajarkan secara online. Ditentukan waktunya, kitab yang akan digunakan, selanjutnya ditentukan pula kapan akan dilakukan ujian secara langsung atau tatap muka. Namun, ajaran ayo mondok tetap harus didukung," lanjutnya.


Tags Artikel Ini

Noer Ardiansjah

LAINNYA DARI MERAH PUTIH