Pemain Bas Sabda Nada Sakit, Chrisye Diminta Jadi Pengganti Chrisye, pojok kanan, bersama Gipsy Band. (kulkoe)

SUARA musik menggema menembus kesunyian sore di kawasan pegangsaan. Chrisye tersentak. Dia menghentikan suapan nasi dan mencari sumber suara.

“Suara apa itu?”

“Anak-anak Pak Nasution bikin band,” jawab Joris singkat. Chrisye sudah lama tahu kalau anak-anak keluarga Nasution sangat gemar musik, tapi belum pernah ada berita mereka bikin band. Penasaran, dia pun pergi ke luar.

Dari kejauhan, Chrisye memandang dengan mulut menganga. Dia kagum dengan permainan anak-anak keluarga Nasution. “Permainan mereka jauh lebih hebat ketimbang atraksi manggung saya dengan teman-teman di sekolah,” ungkap Chrisye dikutip Alberthiene Endah pada Chrisye Sebuah Memoar Musikal.

Tak butuh waktu lama, atmosfer di dekat rumahnya berubah tajam. Permainan anak-anak keluarga Nasution ternyata mengundang banyak penonton meski cuma berlatih. Penonton sengaja hadir bahkan berduyun-duyun datang dari Salemba hingga Manggarai.

Para penonton menyaksikan dari balik terali, sementara anak-anak keluarga Nasution bermain musik di pelataran rumah. Band mereka bernama Sabda Nada, beranggotakan Gauri Nasution, Zulham Nasution, Pontjo Sutowo, Eddie Odek, dan Keenan Nasution.

Tentu tempat itu mendadak populer. Banyak anak-anak muda gaul nongkrong. Lantas terbentuk istilah Geng Pegangsaan.

Selain keluarga Nasution, nama-nama seperti Joe-Am, Eddy, Edit, Roland, dan lainnya turut pula menghiasi pelataran rumah tersebut. Meski The Beatles sedang kondang dan mewabah, kelompok Sabda Nada, justru memainkan lagu-lagu antimaisntream, seperti tembang andalan milik Uriah Heep, Sweat & Tears, Blood, Procol Harum, dan King Crimson.

“Kita emang mau bikin sesuatu, enggak mau niru band lain cover lagu mainstream,” ungkap Keenan Nasution, salah satu personel Sabda Nada. Salah satu kerabat anak-anak Nasution bernama Atut, lanjut Keenan, sering membawa piringan hitam band-band tersebut dari luar negeri untuk diperdengarkan bersama.

Sabda Nada, menurut Keenan, masih tampil di panggung-panggung kecil atau pesta anak muda sekitaran Menteng. Bedanya, Sabda Nada telah memiliki seperangkat alat musik supercanggih. Pontjo Sutowo, pemain piano, mengimpor alat-alat musik kelas satu, seperti merek Marshal, Fender, dan beberapa merek lainnya.

Di tengah keriuhan latihan dan pentas Sabda Nada, Chrisye bersama Adrie Subono, pemuda gondrong asal Jalan Mendut, jadi penonton setia. Keduanya dan anak-anak lainnya makin sering nongkrong di rumah keluarga Nasution.

“Pelan-pelan, saya boleh memegang peralatan dan ikut bermain,” ungkap Chrisye. Tapi sebatas berlatih di halaman depan disaksikan penonton setia. Saat hasrat bermusik sedang di puncak-puncaknya, Chrisye terpaksa menjeda kesenangannya untuk mendaftar hingga mengikuti masa penggojlokan mahasiswa baru Jurusan Arsitek, Fakultas Teknik, Universitas Kristen Indonesia (UKI) pada 1968.

Sementara Chrisye terbenam dengan urusan kampus, Sabda Nada semakin tancap gas. Panggilan manggung semakin deras mengalir. Semakin padat latihan dan manggung membuat kondisi fisik pemain bas Sanda Nada, Eddi Odek menurun dan sakit.

“Chrisye, pemain bas kami sakit. Lu bisa gantikan? Soalnya kita dapat kerjaan banyak,” pinta Gauri Nasution, gitaris Sabda Nada dan teman dekatnya.

“Nggak salah denger nih?”.

“Lu kan sering nonton kita latihan. Pasti lu bisa ngikutin permainan kita,” bujuk Gauri.

Chrisye langsung mengiyakan permintaan Gauri. Sorenya, mereka langsung berlatih. Gitar bas Fender milik Pontjo Sutowo, menurut Chrisye, sangat enak dimainkan. Mereka cepat melebur, dan kemudian sering naik-turun panggung.

Di Jakarta, menurut Chrisye, Sabda Nada cukup ‘megang’. Selain pentas rutin tiap akhir pekan di Mini Disko, sebuah diskotik di Jalan Juanda, Pasar Baru, mereka juga sering ditanggap di acara pesta ulang tahun atau pernikahan. Dalam masa singkat, Sabda Nada langsung melejit jadi band ngetop di Jakarta.

Keasyikan Chrisye jadi anak band bukannya tanpa rintangan berarti. Di kemudian hari dia harus memilih antara musik atau kuliah. (*)



Yudi Anugrah Nugroho

LAINNYA DARI MERAH PUTIH