Kesehatan

Peluang Kehamilan bagi Pengidap Kanker Serviks

Raden Yusuf NayamenggalaRaden Yusuf Nayamenggala - Sabtu, 25 Juni 2022
Peluang Kehamilan bagi Pengidap Kanker Serviks

Kanker Serviks Bisa Terjadi Saat Hamil (Foto: dok. JLA Indonesia)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

KANKER serviks merupakan salah satu penyebab kematian terbanyak bagi perempuan, termasuk di Indonesia. Karena itu, kanker serviks menjadi momok yang menakutkan bagi para kaum hawa di Tanah Air.

Banyak perempuan yang mempertanyakan apakah ketika mengidap kanker serviks mereka tetap bisa hamil. Menurut dr. Agung Witjaksono, Sp.OG, hal itu bisa saja terjadi, seperti halnya ketika pengidap sudah mengalami kanker serviks terlebih dulu kemudian hamil.

Baca Juga:

Lawan Kanker Darah Dengan Terapi Sel T CAR

"Kanker serviks bisa terjadi dari tidak bergejala sampai bergejala, bahkan ada pula orang yang ditemukan kanker serviks di saat hamil," tutur Agung saat ditemui pada sebuah talkshow di acara Grand Opening Klinik JLA Indonesia, di kawasan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Jumat (24/6).

Situasi pengidap kanker serviks hamil bisa terjadi (Foto: pixabay/marncom)

Agung menambahkan situasi itu mungkin terjadi, mengingat apabila seseorang terinfeksi virus HPV memang tidak langsung berkembang menjadi kanker. Kondisi pasien akan berproses, dari mulai tidak diduga kanker serviks tapi sudah mengalami kanker. Bahayanya, kanker serviks bisa bergejala dan tidak bergejala.

Saat mengidap kanker serviks, satu hal yang menjadi kekhawatiran bagi para ibu yakni sang bayi terpapar kanker. Mengenai hal itu, para ibu bisa bernapas lega, karena sang buah hati tidak akan terpapar kanker. "Tidak terpapar, sampai saat ini tidak ada bayi yang ditemukan terkena kanker serviks, yang mungkin terjadi itu keguguran dan haid sebelum waktunya," jelas Agung.

Namun kamu tidak perlu khawatir, karena kanker serviks bisa dicegah. Agung menjelaskan ada sejumlah cara yang bisa dilakukan untuk pencegahan kanker serviks, salah satunya dengan vaksinasi.

"Pencegahan kanker serviks ada dua, primer yaitu dengan vaksinasi, pencegahan sekunder dengan pap smear," ujarnya.

Baca Juga:

Tepatkah Pemakaian Istilah 'Penyintas Kanker'?

Kanker serviks bisa dicegah dengan vaksinasi (Foto: freepik/jcomp)

Kanker servis disebabkan oleh Human Papilloma Virus (HPV). Agung mengatakan virus ini bisa dicegah apabila tubuh menerima vaksinasi.

Vaksinasi bisa dilakukan pada usia 10-55 tahun. Bahkan, menurut WHO sejak umur 9 tahun vaksin sudah bisa dilakukan.

Sementara untuk metode pap smear biasanya dilakukan pada seseorang yang sudah menikah. Agung menyatakan salah satu yang dianggap penyebab kanker serviks yakni melakukan hubungan seksual dengan lebih dari satu pasangan atau multiple sexual partner. (ryn)

Baca Juga:

Riset: Makanan Pedas Bisa Bantu Atasi Kanker

#Kesehatan #Kanker Serviks
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Raden Yusuf Nayamenggala

I'm not perfect but special
Show More
Follow Me

Berita Terkait

Fun
We Pause We Rise Ajak Perempuan Kenali Perimenopause, Ahli Ingatkan Gejala Brain Fog
We Pause We Rise menggelar Rose & Bloom untuk mengedukasi perempuan tentang perimenopause dan menopause, termasuk brain fog, kesehatan tulang, dan hipertensi.
Ananda Dimas Prasetya - Senin, 19 Oktober 2026
We Pause We Rise Ajak Perempuan Kenali Perimenopause, Ahli Ingatkan Gejala Brain Fog
Indonesia
Jakarta Catat 58 Kasus DBD per Oktober 2026
Secara kumulatif, jumlah kasus selama Januari hingga Oktober 2026 juga lebih rendah jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Dwi Astarini - Sabtu, 17 Oktober 2026
Jakarta Catat 58 Kasus DBD per Oktober 2026
Lifestyle
Inspirasi Pit Stop F1 Menyelamatkan Nyawa Pasien Rumah Sakit
Inovasi F1 telah memberikan dampak yang jauh melampaui lintasan balap.
Dwi Astarini - Kamis, 15 Oktober 2026
 Inspirasi Pit Stop F1 Menyelamatkan Nyawa Pasien Rumah Sakit
Berita Foto
Pantau Gaya Hidup Makin Personal, U by Prodia Hadirkan U-Buddy
SPG menunjukkan tampilan antarmuka (user interface/UI) aplikasi U-Buddy saat peluncurannya di Jakarta, Rabu (7/10/2026).
Didik Setiawan - Rabu, 07 Oktober 2026
Pantau Gaya Hidup Makin Personal, U by Prodia Hadirkan U-Buddy
Indonesia
Insiden Lab di Rusia, Kemenkes Tingkatkan Kesiapsiagaan
bandara dan pelabuhan internasional di Bali menerapkan peningkatan pengawasan pelaku perjalanan melalui pengawasan deklarasi kesehatan (All Indonesia - SSHP).
Dwi Astarini - Selasa, 06 Oktober 2026
Insiden Lab di Rusia, Kemenkes Tingkatkan Kesiapsiagaan
Lifestyle
Berbagi Cocolan Setara Ciuman Bibir, Rentan Menyebarkan Virus dan Bakteri
Berapa kali celupan yang dibutuhkan untuk memindahkan jumlah bakteri yang kira-kira sama banyaknya dengan ciuman berdurasi 10 detik?
Dwi Astarini - Senin, 05 Oktober 2026
 Berbagi Cocolan Setara Ciuman Bibir, Rentan Menyebarkan Virus dan Bakteri
Indonesia
Jangan Sepelekan Influenza Tipe A, Anak Batuk Demam Tinggi Segera Bawa ke Faskes!
Anak demam tinggi dan sesak napas? Peringatkan bahaya virus influenza tipe A pada anak. Segera bawa ke faskes rujukan terdekat!
Wisnu Cipto - Jumat, 02 Oktober 2026
Jangan Sepelekan Influenza Tipe A, Anak Batuk Demam Tinggi Segera Bawa ke Faskes!
Lifestyle
Bukan Cuma Soal Biaya, Dokter Ungkap 3 Alasan Pengobatan Gagal Jantung Lanjut Masih Terbatas di Indonesia
Dokter Paskah ungkap tiga tantangan pengobatan gagal jantung lanjut di Indonesia, mulai dari literasi masyarakat, keterbatasan dokter hingga mahalnya teknologi.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 01 Oktober 2026
Bukan Cuma Soal Biaya, Dokter Ungkap 3 Alasan Pengobatan Gagal Jantung Lanjut Masih Terbatas di Indonesia
Lifestyle
Teknologi LVAD Hadir di Indonesia, Jadi Harapan Baru bagi Pasien Gagal Jantung Lanjut
Teknologi LVAD atau pompa jantung artificial kini tersedia di Indonesia untuk membantu pasien gagal jantung tingkat lanjut. Ini cara kerja dan persiapannya.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 01 Oktober 2026
Teknologi LVAD Hadir di Indonesia, Jadi Harapan Baru bagi Pasien Gagal Jantung Lanjut
Indonesia
Kemenkes Klaim 99,1 Juta Orang Telah Ikut Program Cek Kesehatan Gratis
Pemerintah mengatakan manfaat program CKG berpotensi mencegah satu dari empat kasus stroke dan penyakit kardiovaskular pada 2035.
Dwi Astarini - Kamis, 01 Oktober 2026
Kemenkes Klaim 99,1 Juta Orang Telah Ikut Program Cek Kesehatan Gratis
Bagikan