Pedagang Positif COVID-19, Pemprov DKI Diminta Lebih Humanis Situasi Pasar Tomang Barat atau Pasar Kopro setelah dibuka kembali di Jakarta, Kamis (2/7/2020). (ANTARA/Devi Nindy)

Merahputih.com - Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi) menyebut ada ratusan pedagang yang terinfeksi COVID-19. Di pasar tradisional DKI Jakarta, terdapat penambahan kasus yang cukup besar. DKI merupakan provinsi tertinggi kasus positif di pasar, yaitu 217 kasus di 37 pasar.

Ketua Bidang Informasi dan Komunikasi Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi) Reynaldi Sarijowan meminta Pemerintah Provinsi DKI Jakarta lebih humanis dalam tes cepat dan usap deteksi COVID-19 terhadap pedagang pasar. Dia mengaku menerima sejumlah aduan yang menyebut ada pemaksaan bagi pedagang untuk diperiksa.

"Kami mendapat laporan beberapa kasus laporan yang kami terima antara lain penjemputan paksa pedagang untuk melakukan rapid test dan swab," ujar Reynaldi kepada wartawan, Rabu (8/7).

Baca Juga:

[HOAKS atau FAKTA] Wapres Ma'ruf Amin Dihipnotis Uya Kuya

Dia berharap Pemprov DKI Jakarta kampanye secara masif bahwa pasar tradisional aman, pasar sehat. Upaya ini perlu didorong dan dilakukan secara bersama-sama dengan paguyuban-paguyuban atau kelompok pedagang di pasar tersebut.

"Kemudian keterlibatan personel TNI / POLRI untuk lebih wise, untuk lebih halus kami berharap tanpa menggunakan seragam agar bisa terlihat lebih tidak menakut-nakuti pedagang atau pengunjung," ujarnya.

Kondisi Pasar Gede pascapemberlakuan normal baru. (ANTARA/Aris Wasita)
Kondisi Pasar Gede pascapemberlakuan normal baru. (ANTARA/Aris Wasita)

Reynaldi mengatakan, agar upaya ini diharapkan bisa memperkuat protokol kesehatan di pasar tradisional dan menggugah semangat pedagang untuk terus memulihkan ekonominya.

Sebab, di masa PSBB transisi pendapatan pedagang jatuh 50 persen. "Maka kami meminta semua pihak untuk membantu bergotong-royong untuk memulihkan ekonomi pedagang pasar di DKI Jakarta dan memperlancar distribusi pangan rakyat karena pasar tradisional adalah ujung dari distribusi pangan rakyat,"jelas dia.

Reynaldi menuturkan, para pedagang bersedia tes tanpa ada paksaan. Hanya, itu dilakukan di jam senggang bagi pedagang dan tidak dilakukam secara mendadak. "Jika pedagang sedang ramai pembeli agak cukup sulit untuk dipaksakan rapid test dan swab," tuturnya.

Baca Juga:

[HOAKS atau FAKTA]: Kondisi Perbankan Tak Aman, Masyarakat Diminta Tarik Semua Uang

Selain itu, Reynaldi juga mendorong pemanfaatan corporate social responsibility (CSR) untuk membantu proses pelaksanaan protokol kesehatan dengan baik. Misalnya saja menyediakan sabun cuci tangan dengan komposisi tepat, tanpa dicampur air.

"Sabun yang tercampur dengan air itu tidak efektif untuk digunakan pengunjung mencuci tangan dengan sabun. Maka sabun kita harapkan CSR-CSR bisa membantu atau semua pihak bisa bergoyong- royong untuk membantu pengadaan sabun untuk cuci tangan di pasar-pasar tradisional," ungkapnya. (Knu)



Angga Yudha Pratama

LAINNYA DARI MERAH PUTIH