PBNU Sesalkan Puisi Neno Warisman Samakan Pilpres dengan Perang Badar Ketua PBNU bidang Hukum, HAM dan Perundang-undangan, Robikin Emhas (Foto: nu.or.id)

MerahPutih.Com - Puisi kontroversial Neno Warisman yang dibacakan saat Munajat 212 di Monas menuai beragam tanggapan. Kebanyakan menyayangkan dan menyesalkan aktivis #2019GantiPresiden itu menyamakan Pilpres dengan Perang Badar.

Salah satu tanggapan datang dari Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Melalui salah satu ketuanya, Robikin Emhas, PBNU mengingatkan Neno yang juga Wakil Ketua Tim BPN Prabowo-Sandi itu untuk tidak mengindentikan pilpres sebagai perang.

"Pengandaikan pilpres sebagai perang adalah kekeliruan. Pilpres hanya kontestasi lima tahunan," kata Robikin Emhas lewat keterangan tertulisnya di Jakarta, Sabtu (23/2).

Sekedar informasi, berikut penggalan puisi Neno Warisman yang dibacakan dihadapan ribuan jamaah Munajat 212: "Namun, kami mohon jangan serahkan kami kepada mereka yang tak memiliki kasih sayang pada kami dan anak, cucu kami dan jangan, jangan kau tinggalkan kami dan menangkan kami. Karena jika engkau tidak menangkan kami, (kami) khawatir Ya Allah, kami khawatir Ya Allah, tak ada lagi yang menyembahmu."

Neno Warisman bersama Prabowo
Neno Warisman (kiri) dan Prabowo Subianto di Depok, Jawa Barat (MP/Ponco Sulaksono)

Lebih lanjut Robikin menyatakan sengaja atau tidak sengaja Neno mencoba membawa orang pada peristiwa Perang Badar pada awal sejarah Islam. Saat itu pasukan muslim yang berjumlah 319 orang berhadapan dengan musuh yang berusaha mengenyahkan kaum muslimin yang berjumlah tiga kali lipat. Nabi Muhammad SAW pun berdoa memohon pertolongan Allah agar memenangkan kaum muslimin.

Robikin sebagaimana dilansir Antara mengungkapkan capres-cawapres peserta Pilpres 2019, Jokowi-KH Ma'ruf Amin dan Prabowo-Sandiaga, seluruhnya beragama Islam.

"Lalu atas dasar apa kekhawatiran Tuhan tidak ada yang menyembah kalau capres-cawapres yang didukung kalah? Apa selain capres-cawapres yang didukung bukan menyembah Tuhan, Allah SWT?" kata Robikin.

Tak usah berusaha mengukur kadar keimanan orang. Apalagi masih terbiasa ukur baju orang lain dengan yang dikenakan sendiri, Robikin menambahkan.

Menurut Robikin, berdoa merupakan bagian dari cara membangun hubungan baik dengan Allah SWT. Islam memberi panduan tata cara berdoa, yang antara lain dengan adab yang baik, dengan penuh sopan santun serta tidak memanipulasi fakta.

"Ingat, Tuhan yang kita sembah adalah Allah SWT, bukan pilpres, bahkan bukan agama itu sendiri," kata lulusan Pesantren Miftahul Huda Gading, Malang, Jawa Timur itu.

Robikin menegaskan bahwa pilpres merupakan proses demokrasi biasa. Tentu akan ada yang dinyatakan terpilih dan tidak terpilih.

"Karena itulah, konstitusi maupun regulasi lain tidak menggunakan istilah menang dan kalah," pungkas Robikin Emhas.(*)

Baca berita menarik lainnya dalam artikel: Ini Wilayah Diprediksi Alami Peningkatan Curah Hujan Pada Akhir Februari



Eddy Flo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH