Pasukan Inggris Nyaris Musnah, Mallaby Meminta Perundingan Kepada Sukarno (5) Penanganan medis pasukan Inggris. Sumber; Imperial War Museum.

PASUKAN Inggris terdesak. Markas mereka di Darmo, Gubeng, Ketabang, Sawahan, Bubutan, dan daerah pelabuhan dikepung Arek Surabaya. Tentara Inggris terutama serdadu India banyak tewas.

“Mayat-mayatnya ada yang dilemparkan di Kali Mas,” ungkap Roeslan Abdulgani, pada Seratus Hari di Surabaya Yang Menggemparkan Indonesia. Tak hanya di kota, pos-pos mereka di lapangan terbang Morokrembangan pun berhasil direbut para pemuda Surabaya.

Pasukan Brigade ke-49 Infantri India di bawah pimpinan Brigadir Jendral AWS Mallaby sebanyak 6.000 pasukan dengan senjata berat dan tank terancam musnah.

Pertempuran 3 hari, 28-30 Oktober 1945 di Surabaya tersebut, diakui Letkol Doulton pada The Fighting Cock, sangat menguras tenaga pasukan Inggris. Tiap pos Inggris terkepung. Pertempuran berlangsung hingga tengah malam. “Waktu sangat lamban, dan setiap jam posisi pertahanan kita terus memburuk,” ungkapnya.

Dengan kondisi terjepit, perundingan menjadi jalan keluar terbaik bagi Inggris. Mallaby lalu mengirim kawat SOS kepada atasannya di Jakarta. “Namun, tak ada pemimpin bisa diajak berunding di Surabaya,” imbuh Doulton. Mereka menaruh harap pada Soekarno di Jakarta.

Pasukan Inggris berhasil mengontak Soekarno. Sang Proklamator, Bung Karno dan Bung Hatta, serta Menteri Penerangan, Amir Syarifuddin mengudara ke Surabaya menggunakan Royal Air Force (RAF) bersama para opsir Inggris dan wartawan luar negeri.

Para pemuda tak tahu rombongan Soekarno akan tiba. Pesawat RAF berputar rendah di langit Surabaya. BKR Pelajar terpancing meninggalkan area gedung Internatio untuk mengejarnya. Mereka mengira pesawat itu Angkata Udara Inggris.

Pesawat RAF berhasil mendarat. Seketika para pemuda merangsek lapangan terbang Morokrembangan. Sontak peluru menghujani pesawat RAF tersebut. “Di tengah hujan peluru demikian, Bung Karno keluar dengan keberanian dan ketabahan luar biasa dari kapal terbang Inggris dengan membawa bendera Merah Putih,” ungkap Roeslan.

Tembakan reda selepas para pemuda sadar sosok tersebut Soekarno. Suasana berubah hangat. Pekik kemerdekaan berkumandang keras. "Merdeka! Merdeka! Merdeka!"Pemuda Surabaya menyambut rombongan dengan suka cita.

BKR Pelajar Staf IV tersebut akhirnya mengawal rombongan Soekarno menggunakan sepeda motor Harley Davidson berzijspan (dengan gandengan samping) menuju rumah Residen Soedirman. (*)


Tags Artikel Ini

Yudi Anugrah Nugroho

LAINNYA DARI MERAH PUTIH