Parpol dan Politisi Berebut Ingin Jadi NU, Saiful Mujani Beber Alasannya Menteri Badan Usaha Milik Negara Erick Thohir di Jakarta, Sabtu (15/10/2022). (ANTARA/Indriani)

MerahPutih.com - Ada banyak partai politik dan politisi Indonesia yang berebut ingin menjadi atau disebut sebagai anggota Nahdlatul Ulama (NU).

Demikian dikatakan ilmuwan politik, Saiful Mujani, dalam program ‘Bedah Politik bersama Saiful Mujani’ episode “Kekuatan Elektoral Nahdlatul Ulama” yang disiarkan melalui SMRC TV, Kamis (16/2).

Baca Juga

Cak Imin, Mahfud dan Khofifah Jadi Tokoh NU Paling Kompetitif untuk Pilpres 2024

Daya tarik NU, menurut Saiful, adalah pada jumlah massa yang dimilikinya. Dia menunjukkan bahwa dalam survei SMRC pada Desember 2022, warga yang mengaku sebagai anggota aktif NU sebanyak 8,6 persen dan mengaku sebagai anggota tapi tidak aktif sebesar 11,7 persen.

"Total warga yang mengaku sebagai anggota NU sebesar 20,3 persen. Sementara yang mengaku sebagai anggota serikat pekerja, buruh, dan tani sebanyak 14,7 persen; Muhammadiyah 3,1 persen; organisasi masjid 22,8 persen; dan majelis taklim sekitar 28,7 persen," kata Saiful.

Saiful menegaskan bahwa daya tarik NU bagi parpol di Indonesia adalah karena organisasi ini memang memiliki massa yang besar. Yang mengaku sebagai anggota formal NU sebesar 20,3 persen atau sekitar 40-an juta warga.

Angka ini, menurut dia, di luar warga yang secara kultural mengikuti praktik ritual keagamaan NU. Kalau kelompok kultural itu digabungkan, maka massa NU akan menjadi lebih besar.

“Kalau dilihat dari data ini, memang NU memiliki nilai elektoral karena dari sisi jumlah sangat besar,” kata penulis buku Muslim Demokrat itu.

Lebih jauh Saiful menjelaskan bahwa bicara tentang hubungan NU dan organisasi lain dengan pemilu, tidak bisa dipisahkan dari pertimbangan mengenai seberapa besar massa dari organisasi tersebut.

Hal lain adalah bahwa organisasi sosial yang cukup besar dan aktif serta dikenal oleh masyarakat selama ini adalah organisasi sosial keagamaan, bukan organisasi lain seperti buruh, tani, atau nelayan.

“Di Indonesia, organisasi berbasis keagamaan lebih kuat dari bentuk-bentuk organisasi lain yang lintas agama. Karena itu, perlu dihitung seberapa besar kekuatan masing-masing organisasi tersebut, termasuk NU,” jelas dia.

Saiful menjelaskan bahwa dalam Pemilu 1955, NU menjadi pemenang nomor tiga. Ketika itu Partai Majelis Syura Muslimin Indonesia (Masyumi) lebih kuat dari NU. Hanya saja, Masyumi sangat heterogen atau terdiri dari banyak kelompok Islam.

Baca Juga

Doa Ketua Dewan Adat Dayak di Harlah 1 Abad NU

Sementara NU homogen dan khas. NU, menurut dia, adalah subkultur Islam di Indonesia yang sangat solid. Sementara Masyumi tidak memiliki basis ormas. Berbeda dengan Masyumi, NU adalah partai dan ormas sekaligus. Antara partai NU dan Ormas NU identik.

Lalu kenapa organisasi keagamaan lebih kuat dibanding organisasi yang memiliki sifat yang umum? Saiful menjelaskan bahwa dilihat dari kelas menengah bawah yang menjadi basis dari organisasi buruh, mestinya jumlahnya lebih banyak.

Namun kenyataannya, partai yang menyuarakan aspirasi buruh dan petani, yakni Partai Komunis Indonesia (PKI), justru tidak mendapatkan suara besar pada Pemilu 1955. Suaranya bahkan di bawah NU.

“Sejarah politik Indonesia, menurut Saiful, lebih berhubungan dengan politik aliran, bukan organisasi yang lebih sekuler atau kelas sosial,” ungkap Saiful.

Peraih doktor ilmu politik dari Ohio State University ini menyatakan bahwa PKI coba membawa sentimen kelas, tapi kalah oleh sentimen aliran. Yang terkuat saat itu adalah Partai Nasional Indonesia (PNI). Dan PNI, lanjut Saiful, tidak terlalu membawa sentimen kelas, yang dominan pada partai ini adalah aliran.

Lebih kuatnya politik aliran, menurut Saiful, yang membuat mengapa organisasi seperti NU lebih kuat dibanding organisasi lain seperti kelompok buruh.

Guru Besar Ilmu Politik Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta, tersebut menjelaskan bahwa di zaman Orde Baru, NU dihilangkan peran politiknya. Kekuatan politiknya digembosi oleh Orde Baru karena tahu NU itu besar.

"Kalau politiknya terbuka, berbahaya untuk rezim karena potensial mengancam," ujarnya.

Saiful mengenang bagaimana Gus Dur sadar dengan potensi NU dan kemudian mengerahkan massa sejuta umat. Itu adalah bentuk show of force karena Gus Dur merasa langkah-langkahnya dihalangi. Namun, kata Saiful, mungkin Gus Dur juga kurang menyadari bahwa politik waktu itu adalah otoritarian di mana massa memang tidak terlalu penting untuk ditunjukkan.

Kalau dilihat dari sisi jumlah massa, kata dia, NU sangat signifikan. Satu-satunya partai yang bisa mendapatkan suara sebesar massa NU (sekitar 20 persen) adalah Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).

“Dilihat dari sisi jumlah, NU sangat penting secara elektoral. Ini yang menjelaskan mengapa banyak partai dan tokoh-tokoh politik Indonesia menghitung NU. Semuanya bahkan ingin merasa dekat dan sebagai orang NU,” pungkasnya. (Pon)

Baca Juga

PBNU Menyerukan Salat Gaib Bagi Korban Gempa di Turki dan Suriah

LAINNYA DARI MERAH PUTIH
Kemenkumham Sambut Positif Usulan Perubahan Masa Jabatan Kepala Desa
Indonesia
Kemenkumham Sambut Positif Usulan Perubahan Masa Jabatan Kepala Desa

Badan Pembinaan Hukum Nasional (BPHN) Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) menyambut positif usulan perubahan masa jabatan kepala desa dari enam tahun menjadi sembilan tahun.

Konsumsi Listrik Masyarakat Jakarta Mulai Kembali Normal
Indonesia
Konsumsi Listrik Masyarakat Jakarta Mulai Kembali Normal

Perusahaan Listrik Negara (PLN) Unit Induk Distribusi (UID) Jakarta Raya mencatat adanya peningkatan konsumsi listrik setelah libur Lebaran.

[HOAKS atau FAKTA]: Latto-latto Adalah Permainan Yahudi
Indonesia
[HOAKS atau FAKTA]: Latto-latto Adalah Permainan Yahudi

Beredar unggahan Facebook berupa foto simbol-simbol Agama Yahudi yang disandingkan dengan foto permainan latto-latto.

Komnas HAM Hormati Keputusan Hakim Vonis Mati Ferdy Sambo
Indonesia
Komnas HAM Hormati Keputusan Hakim Vonis Mati Ferdy Sambo

Ferdy Sambo telah dijatuhi vonis hukuman mati terkait kasus penembakan Brigadir Yosua Hutabarat atau Brigadir J, Senin (13/2).

Sejumlah Masjid di Rest Area Tol Trans Jawa Gelar Salat Idul Fitri
Indonesia
Sejumlah Masjid di Rest Area Tol Trans Jawa Gelar Salat Idul Fitri

Jasa Marga Related Business (JMRB) selaku pengelola Rest Area Travoy dan mempersiapkan rest area sebagai tempat Salat Idulfitri 1444 H/2023 Masehi, Sabtu (22/4) esok.

Masjid Sheikh Zayed Solo Diperbolehkan untuk Tempat Akad Nikah
Indonesia
Masjid Sheikh Zayed Solo Diperbolehkan untuk Tempat Akad Nikah

Salah satu pengurus Masjid Raya Sheikh Zayed, Imron Supomo, mengatakan sejumlah pasangan telah melangsungkan akad nikah di Masjid Raya Sheikh Zayed, Kelurahan Gilingan, Kecamatan Banjarsari, Solo.

Hadiri KTT ASEAN, PM Tiongkok Tiba di Indonesia
Indonesia
Hadiri KTT ASEAN, PM Tiongkok Tiba di Indonesia

Perdana Menteri (PM) Tiongkok Li memenuhi undangan Presiden Joko Widodo (Jokowi) selaku ketua ASEAN 2023.

Jemaah Haji Indonesia Bakal Pulang Bertahap ke Tanah Air Mulai Besok Hari
Indonesia
Jemaah Haji Indonesia Bakal Pulang Bertahap ke Tanah Air Mulai Besok Hari

Jemaah Haji Indonesia di Arab Saudi bakal bertahap pulang ke tanah air. Setelah fase Armina berakhir, jemaah Gelombang 1 yang telah menyelesaikan rangkaian Tawaf Ifadah dan Tawaf Wada hari ini mulai bersiap meninggalkan Tanah Suci untuk kembali ke Tanah Air.

Alasan Jokowi Ajak Menhan Prabowo Panen Raya di Kebumen
Indonesia
Alasan Jokowi Ajak Menhan Prabowo Panen Raya di Kebumen

Jokowi mengajak serta Menteri Pertahanan Prabowo Subianto ke lokasi panen raya padi di Kebumen.

Ramai Diperbincangkan, Perusahaan Batubara Bisa Dipailit Tanpa Proses Hukum
Indonesia
Ramai Diperbincangkan, Perusahaan Batubara Bisa Dipailit Tanpa Proses Hukum

Peran netizen di media sosial bisa mengungkap sisi negatif perusahaan.