Image
Author by : ANTARA FOTO

Lantunan tembang macapat terdengar sayup-sayup dari bangunan lawas di ujung jalan Rotowijayan, sebelah barat Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Sinar mentari sore itu menerobos dari kaca jendela, menerangi ruangan kecil berukuran 3x4 meter tempat pamulangan sekar atau sekolah macapat Krida Mardhawa yang berdiri sejak tahun 1960. ANTARA FOTO/Hendra Nurdiyansyah

Image
Author by : ANTARA FOTO

Macapat adalah tembang atau puisi tradisional Jawa. Setiap baitnya mempunyai baris kalimat yang disebut gatra, yang mempunyai sejumlah suku kata (guru wilangan) tertentu, dan berakhir pada bunyi sajak akhir yang disebut guru lagu. ANTARA FOTO/Hendra Nurdiyansyah

Image
Author by : ANTARA FOTO

Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat awalnya menetapkan macapat hanya untuk memenuhi kebutuhan tembang Raja dan kerabat. Seiring berjalannya waktu, pada masa pemerintahan Sri Sultan HB VII para abdi dalem keraton diperbolehkan belajar macapat. ANTARA FOTO/Hendra Nurdiyansyah

Image
Author by : ANTARA FOTO

Kini sekolah macapat diperuntukan kepada segala lapisan masyarakat, tidak memandang strata, asal-usul, dan usia tanpa dipungut biaya. ANTARA FOTO/Hendra Nurdiyansyah

Image
Author by : ANTARA FOTO

Sekolah Macapat Krida Mardhawa menerapkan tiga jenjang kelas, yakni Macapat Sekar Alit (kelas pemula), Sekar Tengahan (kelas menengah) dan Sekar Ageng (kelas utama). ANTARA FOTO/Hendra Nurdiyansyah

Image
Author by : ANTARA FOTO

Dalam macapat, alur kehidupan manusia dikisahkan. Bermula dari lahir (Mijil), kanak-kanak (Kinanthi), remaja (Sinom), jatuh cinta (Asmarandhana), pernikahan (Gambuh), manisnya pernikahan (Dhandanggula), getirnya perjuangan hidup (Durmo), menjadi tua (Pangkur), meninggal dunia (Megatruh), dimakamkan (Pucung) dan menanti pengadilan dari Tuhan (Maskumabang). ANTARA FOTO/Hendra Nurdiyansyah

Image
Author by : ANTARA FOTO

Macapat sarat akan falsafah kehidupan dan kebijaksaan budaya Jawa. Seperti yang dilakukan mereka yang ikut sekolah macapat yakni untuk melestarikan macapat hingga generasi mendatang dan tetap tumbuh dalam kesantunan layaknya ajaran dalam budaya Jawa. ANTARA FOTO/Hendra Nurdiyansyah

Kredit : rizkifitrianto