Para Pelaku Bisnis F&B: Percuma Kalau PSBB Cuma di Jakarta Restoran AYCE termasuk pelaku usaha F&B yang paling terdampak. (Foto Instagram @sakabebuffet)

PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) jilid dua harus kembali diberlakukan mengingat jumlah kasus COVID-19 yang tidak kunjung menurun di Jakarta. Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengambil beberapa tindakan yang tercantum pada Pergub Nomor 33 tahun 2020 pasal 10, termasuk melarang masyarakat makan di restoran dan kafe (dine-in). Bagi Anies, dibutuhkan kekompakan dari masyarakat untuk bisa mencegah penyebaran COVID-19 di Jakarta.

"Restoran, rumah makan, kafe, bisa beroperasi, hanya dengan memberikan pengantaran atau ambil bawa pulang, tetapi tidak diizinkan untuk menerima pengunjung untuk makan di tempat," ujar Anies melalui YouTube Pemprov DKI pada Minggu (13/9) lalu.

PSBB jilid dua yang mulai berlaku sejak Senin (14/9) ini pun tentunya menimbulkan keresahan bagi para pelaku bisnis F&B.

BACA JUGA:

Ingin Merasakan Brisket Sapi Lembut, Juicy, dan Affordable? LYMA Tempatnya

Sakabe Buffet, restoran Japanese BBQ All You Can Eat (AYCE) yang berlokasi di Pasar Baru, Tebet, dan RS Fatmawati juga akui bahwa PSBB dan pandemi COVID-19 memberikan dampak yang sangat besar mengingat bisnisnya yang berfokus pada dine-in.

"Pendapat kami memang dengan adanya PSBB ini, restoran (layanan dine-in) harus ditutup. Dan sebagai penyedia makanan yang fokus pada layanan makan di tempat, otomatis imbasnya adalah penurunan pemasukan dan terpaksa kami harus merumahkan sebagian besar staff kami," ungkap Timothy Jordy, head of marketing Sakabe Buffet kepada MerahPutih.com.

View this post on Instagram

A post shared by HALAL Japanese Buffet / BBQ (@sakabebuffet) on

Meski begitu, Sakabe Buffet tetap berusaha untuk mengikuti aturan dari pemerintah daerah dengan cara memberikan layanan delivery dan take away selama PSBB pertama. Sakabe Buffet sempat membuka layanan makan di tempat ketika PSBB transisi, tetapi terpaksa menutupnya kembali mulai 14 September 2020 sehubungan dengan PSBB jilid dua.

Bagi Jordy, PSBB memang sangat memberatkan pelaku bisnis F&B, apalagi mengingat bahwa pemerintah tidak bisa sepenuhnya menanggung biaya hidup masyarakat maupun pelaku bisnis.

View this post on Instagram

A post shared by HALAL Japanese Buffet / BBQ (@sakabebuffet) on

Sakabe Buffet merasa bahwa PSBB bisa dianggap fair bagi pelaku usaha F&B jika pemerintah mampu memberikan insentif kepada pelaku bisnis maupun staff-staffnya berupa bantuan sosial, keringanan pajak, atau pinjaman sementara kepada pelaku bisnis small medium enterprise seperti di negara lain.

"Menurut kami perlu adanya keseimbangan, jangan serta merta ingin menyetop penyebaran virus namun masyarakat dan pelaku bisnis menderita bahkan tidak sanggup untuk melaluinya. Kesehatan boleh diutamakan namun ekonomi pun juga tidak boleh ditinggalkan begitu saja," ungkap Jordy kepada MerahPutih.com.

BACA JUGA:

Jangankan PSBB, Kaum Hikikomori Mengisolasi Diri Sampai Tujuh Tahun

Tidak hanya menghambat para restoran bersistem AYCE, PSBB juga menghentikan operasi Smartfolks Coffee. PSBB memungkinkan 95% gerai Smartfolks Coffee harus tutup sejak awal Maret 2020.

"Sebelum PSBB 2, kita baru mulai buka dua lokasi di Universitas Trisakti dan Podomoro City Tanjung Duren, dan sekarang terpaksa ditutup lagi karena PSBB 2," ungkap Fariz Surbakti, CEO Smartfolks Coffee Indonesia kepada MerahPutih.com.

Terdapat 20 gerai franchise Smartfolks Coffee baik di dalam maupun luar kota juga harus tertunda karena pandemi COVID-19.

Smartfolks Coffee sebelum PSBB. (Foto Istimewa)
Smartfolks Coffee sebelum PSBB. (Foto Istimewa)

Di sisi lain, usaha F&B dianggap sebagai salah satu penyebab utama yang mendorong pemberlakuan PSBB jilid 2. Meskipun sebenarnya masih ada tempat lain yang bisa jadi sebagai penyebaran virus itu.

"Saya sebagai pelaku bisnis mungkin bisa mewakilkan teman-teman yang lain dari (pelaku usaha) F&B bahwa kita adalah sektor ekonomi yang paling terpukul karena pandemi ini. Dan kita awalnya sangat mendukung keputusan pemerintah untuk menurunkan jumlah kasus COVID-19, tetapi kita merasa peraturan-peraturanya dari awal banyak yang tidak di pikirkan dengan matang," ungkap Fariz.

PSBB pun dianggap tidak efektif bagi Fariz. Ia mengatakan bahwa PSBB jilid 2 ini hanya diterapkan di Jakarta. Daerah sekitar Jakarta tidak memberlakukan PSBB sehingga sebagian orang Jakarta yang ingin jalan-jalan atau makan di restoran bisa berpergian ke luar kota Jakarta.

Smartfolks coffee memiliki target pasar persekolahan dan perkantoran. (Foto Istimewa)
Smartfolks coffee memiliki target pasar persekolahan dan perkantoran. (Foto Istimewa)

" Semua sektor F&B di Jakarta turun lagi hampir 80%. Sementara F&B di luar kota semua mulai naik lagi," ujarnya.

Walau beberapa restoran masih boleh menawarkan layanan take away atau delivery, tetapi pemasukannya belum tentu bisa menutup biaya sewa tempat dan upah para pekerja. Belum lagi, seluruh pelaku bisnis F&B harus menambah biaya untuk memenuhi protokol kesehatan mulai dari hand sanitizer, disinfektan, masker serta face shield untuk staff. (SHN)

BACA JUGA:

Kisah Inspiratif Pemilik Smartfolks Coffee, Pebisnis Muda Berusia 23 Tahun asal Medan

Kredit : shenna


shenna

LAINNYA DARI MERAH PUTIH