Sejarah Berkirim Pesan Melalui Kartu Lebaran Ilustrasi Kartu Lebaran. (Foto/blog.sribu.com)

KALIMAT "Minal Aidin Wal Faidizin. Mohon Maaf Lahir dan Batin" berlalu-lalang di hampir seluruh Whatsapp grup (WAG). Dengan menggunakan emoticon ga,bar ketupat dan pernak-perbnik Idul Fitri lain, pengguna Whatsapp bisa saling mengirim pesan tersebut, baik melalui WAG atau chatt personal, tanpa perlu bersemuka.

Jarak berjauhan, tak menghalangi tiap insan di 'zaman now' untuk saling bermaaf-maafan di hari nan fitri melalui beragam aplikasi chatting, sambungan telepon, email, bahkan media sosial.

Jauh sebelum semua penunjang tersebut lahir, tiap-tiap orang di hampir seluruh penjuru tempat mengirim pesan menggunakan Kartu Lebaran. Mereka akan menulis dan mengirim Kartu Lebaran melalui jasa POS, beberapa hari bahkan minggu jelang Hari Raya Idul Fitri.

Tradisi tersebut telah berlangsung lama. Orang Mesir pada sekitar 4000 tahun lalu telah memiliki kebiasan mengirim kartu ucapan dengan sebutan "scarabs”, batu-batuan berharga berbentuk kumbang.

Di sisi lain, pendapat berbeda mengenai asal-usul Kartu Lebaran, menukil peristiwa John Calcott Horsley, seniman London, kala mengirim ucapan Natal pada 1843, “A Merry Christmas and A Happy New Year to You”.

Ilustrasi Kartu Lebaran. (Foto/kaltim.prokal.co)
Ilustrasi Kartu Lebaran. (Foto/kaltim.prokal.co)

Kehadiran Kartu Lebaran di Indonesia pun berjalina erat dengan tradisi berkirim Kartu Pos. Pada 1871, orang-orang Belanda mengirim pesan melalui Kartu Pos kepada keluarga, kerabat, dan teman-temannya di Hindia Belanda.

Kartu Pos bergambar patung Buddha di Borobudur muncul kali pertama di Hindia Belanda. "Ada yang mengirim kartu itu ke Belanda sebagai kartu ucapan tahun baru," tulis Leo Haks dan Steven Wachlin dalam Indonesia: 500 Early Postcards. Kegiatan tersebut terus berlangsung, bahkan semakin tinggi ketika mendekati hari-hari besar peringatan keagamaan.

Kartu bertuliskan selamat lebaran kali pertama kali terjadi pada 1918. Kartu Pos tersebut ditulis oleh Singer Sewing Machine Co. Dalam surat tersebut dituliskan ucapan selamat lebaran dan peringatan kepada para peminjam mesin jahit agar menyimpan uang untuk membayar sewa mesin jahit bulan Juli dan Agustus 1918.

Namun pendapat tersebut tak senada dengan JJ Rizal. Pengelola Penerbit Komunitas Bambu ini menyebutkan kartu Lebaran kali pertama beredar pada 1927. “Sebagai simbolisasi harapan-harapan itu, rakyat mengganti kartu Lebaran yang beredar pertama kali tahun 1927 dengan gambar orang berperahu sambil mengibarkan bendera Belanda," jelas Rizal seperti dilansir Tempo, 5 November 2006.

Karena hal inilah, ucapan selamat lewat kartu semakin populer. Khususnya bagi muslim di Indonesia. Hingga awal tahun 90-an kartu ini masih populer di masyarakat. Tradisi unik ini mulai mulai tak diminati seiring banyaknya tawaran surat elektronok dengan harga yang lebih ekonomis. (*)

Kredit : zaimul

Tags Artikel Ini

Zaimul Haq Elfan Habib

LAINNYA DARI MERAH PUTIH