Pandji Pragiwaksono: 'Kami tidak Takut' sudah Lewat, Saatnya Pikir Ulang Cara Tangani Radikalisme Pandji Pragiwaksono.Bangsa Indonesia telah membuktikan diri tidak tunduk pada aksi teror.

RENTETAN serangan teror di Kota Surabaya memancing reaksi dari sejumlah pihak. Banyak yang marah, mengecam, menyayangkan, tak sedikit pula yang mendoakan para korban serta menyampaikan simpati mendalam. Lini masa media sosial riuh rendah dengan segala seruan untuk tetap bersatu dan berani menghadapi teror. Tanda pagar #KamiTidakTakut pun meramaikan media sosial. Seruan tersebut memang ingin menyemangati para korban dan seluruh bangsa ini.

Meskipun demikian, stand up comedian Pandji Pragiwaksono berpendapat bahwa tanpa tagar itu pun, bangsa Indonesia telah membuktikan diri tidak tunduk pada aksi teror. Sebagai bukti, ia menyebut kejadian bom Bali pertama dan kedua, ledakan di Kedubes Australia, Hotel Ritz-Carlton, hingga yang terakhir di Surabaya pada Minggu (13/5) dan Senin (14/5). Semua kejadian itu membuktikan bahwa terorisme masih ada di Indonesia. Oleh karena itu, ia pun mengajak kita untuk berpikir kembali bahwa mungkin ada yang salah dengan cara pihak berwenang mengatasi radikalisme. "Ungkapan 'kami tidak takut' sudah pasti lewat. Sekarang ialah ada yang salah dalam penanganan radikalisme," ujarnya saat dihubungi Merahputih.com, Senin (14/5).

pandji
Pandji Pragiwaksono serukan antiradikalisme lewat lawakan. (foto: Twitter @Pandji)

Ia berpendapat bahwa akar dari tindak kejahatan terorisme ialah pendidikan. Dalam hal ini, pendidikan yang dimaksud bisa pendidikan saja dalam rumah atau institusi pendidikan secara umum. Lebih jauh, aktor yang juga penyiar radio ini mengajak untuk berubah. Pola pikir yang selama ini berfokus pada bagaimana menghentikan radikalisme harus dipikirkan ulang. Pasalnya, hal itu bisa saja tidak tepat dalam menangani kejahatan terorisme yang masih saja terjadi. Mesti ada diskusi yang mendalam untuk mencari tahu bagaimana seseorang bisa berubah jadi radikal. Ia pun mencontohkan ada keluarga yang kompak melakukan bom bunuh diri, atau mereka yang berpendidikan tinggi justru menjual aset dan bergabung dengan gerakan IS. "Pertanyaan itu enggak pernah dibahas. Saya curiga jawaban dari pertanyaan itu malah justru jadi cara mengatasi radikalisme," jelasnya.

Selain mengajak untuk berubah, penulis sejumlah buku ini juga mengajak semua orang bergerak maju. Ajakan itu akan ia tuangkan dalam bentuk tur stand up comedy. Tentunya tema yang diangkat ialah radikalisme. Ia menganggap topik antiradikalisme bisa ia sampaikan lewat lawakan. "Insya Allah ada dampaknya," harapnya. Memang ia mengunggah rencananya untuk tampil di sebuah radio Ibu Kota untuk membahas isu radikalisme dan terorisme pada Senin (14/5) pagi.

Lebih jauh, ia mengimbau agar jangan hanya menggemakan 'kami tidak takut', tapi mulai berpikir ulang bagaimana radikalisme ini bisa terjadi. Bukan juga hanya menjatuhkan hukuman mati. "Yang saya tahu, itu malah melahirkan pelaku baru," ujar Pandji yang mengadakan Tur Dunia Pragiwaksono yang infonya dapat disimak pada pilihpandji.com.

Bukan hanya sisi penegakan hukum yang disoroti bintang film Partikelir ini. Ia menyarankan agar tetap beraktivitas setelah serangan bom.

Meskipun demikian, Pandji juga mengingatkan untuk tetap waspada, tanpa kecurigaan berlebih. Yang terpenting, setiap orang harus mengetahui nomor yang bisa dikontak jika ada sesuatu hal yang terjadi. "Yang paling penting, kita harus lebih rekat dan bersatu. Kerekatan kita sebagai sebuah bangsa yang menentukan berhasil tidaknya teroris memecah belah kita," tutupnya.(ikh)

Kredit : digdo

Tags Artikel Ini

Dwi Astarini

LAINNYA DARI MERAH PUTIH