Fauna
Pandemi COVID-19 Ancam Keberadaan Badak Afrika Bagaimana pandemi COVID-19 mengancam keberadaan badak Afrika. (Foto: Pexels/@Frans Van Heerden)

PERBURUAN ilegal satwa langka bukan lagi sebuah hal yang asing. Praktik tersebut sudah berlangsung selama bertahun-tahun.

Sayangnya angka kasus ini justru meningkat tajam sejak pandemi COVID-19 yang melanda seluruh dunia. Ancaman ini terutama terjadi bagi konservasi badak di Afrika, demikian laporan laman Lovely Planet.

1. Perburuan badak Afrika selama bertahun-tahun

Pandemi COVID-19 Ancam Keberadaan Badak Afrika
Praktik perburuan ilegal badak sudah berlangsung selama beberapa dekade terakhir. (Foto: Unsplash/@Ashes Sitoula)

Badak Afrika memang sudah jadi incaran pemburu selama beberapa dekade terakhir. Sejak 1910, populasi badak hitam merosot tajam dari 150 ribu menjadi empat ribu saja.

Di sisi lain, populasi badak putih bertumbuh drastis dari hanya 100 ekor saja pada 1985 menjadi 18 ribu saat ini. Akan tetapi jumlah tersebut kembali menurun karena adanya perburuan liar.

Baca juga:

Setengah Juta Hiu Terancam Dibunuh Demi Vaksin COVID-19

Kasus ini disebabkan karena pertama, banyak negara-negara Asia yang menginginkan cula badak karena dianggap berkhasiat untuk menyembuhkan berbagai penyakit seperti kanker. Padahal belum ada penelitian maupun dasar ilmiah dari argumen tersebut.

Alasan kedua ialah banyak pemburu yang melakukan perburuan ilegal badak ini demi keuntungan semata. “Satu kilo cula badak harganya sekitar 60-65 ribu dollar AS,” terang James Mwenda, penjaga badak sekaligus ranger di Ol Pejeta Conservancy, Kenya.

Jadi sekilo cula badak bisa seharga Rp896-970 juta rupiah. Berdasarkan data dari Rhino Resource Center, rata-rata berat satu cula badak hitam sekitar 1,5kg, sementara cula badak putih bisa mencapai 2,5kg.

Bisa dibayangkan berapa banyak badak yang akhirnya harus dibunuh karena keegoisan manusia demi mendapatkan uang.

2. Bagaimana pandemi semakin mempeparah perburuan liar

Pandemi COVID-19 Ancam Keberadaan Badak Afrika
Pandemi membuat jumlah wisatawan berkurang dan meningkatkan perburuan ilegal. (Foto: Unsplash/@Danny Wage)

Pada awal April 2020 ketika pandemi baru saja dimulai, Afrika Selatan dan Botswana melaporkan lonjakan insiden perburuan di destinasi wisata populer yang kosong akibat pandemi virus COVID-19.

"Para pemburu jadi lebih mudah (berburu)," ungkap Map Ives, pemandu satwa liar sekaligus mantan pemimpin Konservasi Badak Botswana. Pasalnya lokasi-lokasi wisata tersebut jadi sepi pengunjung sehingga tidak ada yang mengawasi para pemburu liar ini.

Ketika Afrika Selatan memberlakukan lockdown dan larangan perjalanan ketat untuk memerangi penyebaran virus, laporan menunjukkan adanya penurunan perburuan badak. Namun sesaat setelah pembatasan melonggar, para pemburu kembali melanjutkan aksi mereka.

Baca juga:

Lindungi Paus Artinya Selamatkan Krisis Iklim

Lebih lanjut, Mwenda menyampaikan bahwa peluang kerja yang semakin sedikit akibat pandemi meningkatkan daya tarik berburu cula badak secara ilegal.

Tidak hanya itu, penyebaran COVID-19 juga menghambat sumber penghasilan untuk konservasi. Absennya pariwisata jadi masalah besar yang dirasakan Afrika Selatan. Sebelum pandemi, sumbangan dan dana wisata bisa dipergunakan untuk menjaga dan menjalankan konservasi.

"Ketika pendapatan dan pemasukan benar-benar terputus akibat COVID, mempertahankan pekerjaan jadi sebuah tantangan sulit," kata Dr. Andre Uys selaku Manajer Umum Grup Marataba, rumah bagi populasi badak terbesar kedua di taman nasional.

"Kami membutuhkan dana agar bisa mendukung tim kami yang bekerja 24/7 di lapangan untuk menjaga para hewan," tambahnya.

3. Antisipasi dan solusi yang dilakukan

Pandemi COVID-19 Ancam Keberadaan Badak Afrika
Para ranger berharap pandemi mereda sehingga wisatawan bisa kembali datang dan memulihkan konservasi. (Foto: Pexels/@Frans Van Heerden)

Tidak tinggal diam, dalam menghadapi masalah tersebut pemerintah Rwanda melanjutkan komitmen mereka terhadap konservasi satwa liar dengan mengalokasikan dana agar para ranger tetap bekerja.

Leonidas Mpumuje, seorang ranger yang mengepalai program pemantauan badak di Taman Nasional Akagera Rwanda menyebut bahwa pihak taman tetap memberikan gaji sehingga dia dan penjaga lainnya tetap bisa meningkatkan upaya dalam melindungi hewan.

Meski demikian, mereka tetap merasakan kekurangan dana untuk membayar pekerja, peralatan, serta perlengkapan penting lainnya dalam mengawasi badak.

Mpumuje hanya berharap pandemi bisa cepat mereda sehingga wisatawan yang datang dapat memulihkan konservasi. "Kami tidak membutuhkan hewan lain punah," tegasnya.

Mwenda juga menambahkan bahwa kita semua dapat membantu kelestarian konservasi badak ini. Entah dengan menjadi donatur atau memesan perjalanan safari.

Upaya itu dapat membantu organisasi-organisasi ini tetap berdiri dan melanjutkan pekerjaan mereka untuk menjaga agar badak tetap hidup.

Pasalnya setiap dari kita punya tanggung jawab besar untuk memastikan badak mempesona itu tetap ada sampai generasi mendatang. (sam)

Baca juga:

Siripnya Sepanjang Manusia, Ini Ukuran Hiu Megalodon Sebenarnya

LAINNYA DARI MERAH PUTIH
Meira Anastasia, Survive Julidnya Netizen
Fun
Meira Anastasia, Survive Julidnya Netizen

Dilansir dari acara Virtual Healing SeHaTi 2020

Plombir, Pajak Tahunan Sepeda Onthel
Fun
Plombir, Pajak Tahunan Sepeda Onthel

Di zaman dulu, pajak memang dikenakan untuk sepeda.

Hati-Hati, 3 Zodiak ini Paling Gampang Meledak
Fun
Hati-Hati, 3 Zodiak ini Paling Gampang Meledak

Ahli astrologi mengungkapkan zodiak 3 paling mudah marah.

Kosmetik Gender Fluid dari MAC
Fashion
Kosmetik Gender Fluid dari MAC

Ini menjadi konsep kosmetik genderless pertama kali.

Mau Balikan Sama Mantan? Begini Caranya
Fun
Mau Balikan Sama Mantan? Begini Caranya

Balikan sama mantan? ENggak ada salahnya.

Kisah Kematian Misterius Elisa Lam akan Muncul di Netflix
ShowBiz
Kisah Kematian Misterius Elisa Lam akan Muncul di Netflix

Akan ditayangkan pada 10 Februari 2021.

Buku Kuno Ini Bisa Membunuh Orang
Fun
Buku Kuno Ini Bisa Membunuh Orang

Sebuah buku Kuno dipercaya bisa mengakibatkan kematian bagi orang yang menyentuhnya.

Sutradara Lord of the Rings Garap Film Dokumenter The Beatles
ShowBiz
Sutradara Lord of the Rings Garap Film Dokumenter The Beatles

Dalam penggarapannya, Jackson menjanjikan teknik sinematografi observasi realistis yang minim gangguan

Ada Gim Klasik N64 di Playstation 4 Akhir Februari
Fun
Ada Gim Klasik N64 di Playstation 4 Akhir Februari

Gim ini memang terbilang populer di zamannya