Pancasila Ada pada Naskah Sunda dari Abad 16 M Indonesia memiliki Pancasila yang diambil dari kerarifan lokal. (Foto: indonesia-Pexels/jorono)

SUKARNO merumuskan Pancasila dari nilai-nilai budaya berlaku di masyarakat Indonesia pada zamannya. Salah satu kebudayaan yang melatarbelakangi Pancasila adalah Sunda.

Menurut Dosen Departemen Sejarah dan Filologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran Dr. Elis Suryani Nani Sumarlina, M.S., gagasan butir-butir Pancasila terungkap lewat sejumlah naskah Sunda abad ke-16 Masehi.

Baca Juga:

Bangsal Witana, Cikal Bakal Keraton Cirebon

naskah
Dosen Departemen Sejarah dan Filologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran Dr. Elis Suryani Nani Sumarlina, M.S. (Foto: dok.Unpad)

Naskah-naskah Sunda kuno tersebut meliputi, Sanghyang Siksakandang Karesian, Amanat Galunggung, dan Sanghyang Raga Dewata.

“Hal ini membuktikan bahwa naskah Sunda kuno sebagai dokumen budaya masa lampau, sejalan dan punya andil dalam menyumbangkan ide, gagasan, dan kebinekaan bangsa Indonesia. Demikian juga naskah dari suku bangsa lainnya yang ada di Indonesia,” ungkap Elis dalam keterangan tertulisnya, dikutip Selasa (1/6).

Salah satu kearifan lokal naskah Sunda yang termaktub dalam nomor dan urutan sila-sila dalam Pancasila, terungkap lewat naskah Sanghyang Siksakandang Karesian bagian III. Pada bagian ini, data teks sila Pancasila dapat dijabarkan melalui Panca Tata Gatra. Tata Gatra pertama yaitu Sembah Ing Hulun di Sanghyang Panca Tatagatra, artinya Lima sabda kewajiban menyembah Sanghyang Yang Maha Kuasa sebagai pembimbing alam semesta.

Kedua, Panca Gati, Jaga Rang Dek Luput Ing Na Pancagati Sangsara, yakni lima keadaan asal perilaku manusia yang layak dan tidak layak, yang memerlukan timbangan keadilan dan kebijaksanaan. Ketiga, Panca Byapara Kusika, yakni lima selubung alam, yaitu Akasa, Bayu, Téja, Apah, Pratiwi, atau angkasa, angin, cahaya, air, dan tanah, yang semuanya harus bersatu.

Baca Juga:

5 Destinasi Wisata Indonesia Cocok Jadi Pilihan untuk Remote Working

naskah
Pancasila yang disarikan dari kearifan budaya Indonesia.(Foto: Pixabay/ibnuamaru)

Keempat, Panca Putra, yang terdiri atas Kusika, Garga, Mésti, Purusa, Patanjala, atau lima perwujudan manusia sebagai penjelmaan Pancakusika, berupa mata pencaharian hidup masyarakat Nusantara, yaitu petani, panyadap (pembuat gula), pemburu/prajurit, bangsawan, dan raja sebagai pengisi negara. Kelima, Tri Tangtu di Bwana/Bumi, Jagat Palangka Di Sang Prabu, Jagat Darana Di Sang Rama, Jagat Kreta Di Sang Resi (Amanat Galunggung, Rekto III), yang merupakan tiga pilar berbangsa dan bernegara.

Teks yang berkaitan dengan lima sila Pancasila dalam naskah Sanghyang Siksakandang Karesian bagian IV, menurut Elis dijabarkan bahwa Kahyangan penghuni para dewa lokapala (pelindung dunia), disesuaikan dengan kedudukan mata angin dengan warna masing-masing yang disebut Sanghiyang Wuku Lima Di Bwana, Halimpu Ikang Désa Kabéh.

Naskah tersebut menjelaskan lima kemakmuran seluruh negeri yang dijaga, terdiri dari: Isora yang bertempat di kahyangan sebelah wetan/timur (Purwa), putih warnanya; Daksina (kidul) ‘selatan’, tempat tinggal Hyang Brahma, merah warnanya; c. Pasima (kulon) ‘barat’, tempat tinggal Hyang Mahadewa, kuning warnanya; Utara (kalér ‘utara’) tempat tinggal Hyang Wisnu, hitam warnanya; dan Madya (tengah), tempat Hyang Siwa, aneka macam warnanya.

Baca Juga:

5 Desa Wisata Rekomendasi Sandiaga Uno, Bikin Nostalgia

indonesia
Indonesia memiliki kearifan lokal untuk persatuan bangsa. (Foto: Pexels/ahmad syahrir)

Gambaran kosmologis dalam naskah Sanghyang Raga Dewata sejalan dengan gambaran kosmos filsafat Pancasila. Gambaran ini dapat ditemukan pada keempat sila yang bersangkutan, dengan dimensi horisontal yaitu mulai dari sila kedua sampai kelima.“Manusia menempati keempat sila horisontal dalam sila Pancasila. Tetapi bersamanya diasumsikan adanya substansi-substansi infrahuman, yang psikis-sensitif, yang biotik, dan yang fisiokimis,” jelas Elis.

Ia menuturkan, manusia merupakan makhluk individual sekaligus sosial; demikian pula secara lebih universal berlaku bagi segala substansi kosmis di samping manusia.

“Pada akhirnya, keempat sila (sila ke-2 sampai ke-5) tersebut mengacu pada sila pertama, yakni sila Ketuhanan Yang Mahaesa. Hal ini sejalan pula dengan apa yang digambarkan dalam naskah Sanghyang Raga Dewata, bahwa segala sesuatu berpusat kepada Sanghyang Tunggal (Tuhan Yang Mahaesa),” kata Dosen Program Studi Sastra Sunda ini. (Imanha/Jawa Barat)

Baca Juga:

Keindahan Peleburan Budaya di Kampung Muslim Pegayaman

LAINNYA DARI MERAH PUTIH
Berbagai Tradisi Takbiran di Indonesia
Tradisi
Berbagai Tradisi Takbiran di Indonesia

Indonesia memiliki banyak tradisi unik saat malam takbiran.

Nasi Goreng Terasi, Sajian Wangi Khas Negeri Aing
Kuliner
Nasi Goreng Terasi, Sajian Wangi Khas Negeri Aing

Wangi pasta udang mampu bikin nasi goreng jadi sedap dan menggugah selera.

Satgas COVID-19 Indramayu Resmi Tutup Semua Objek Wisata
Travel
Satgas COVID-19 Indramayu Resmi Tutup Semua Objek Wisata

Penutupan dilakukan sampai dengan batas waktu yang tidak ditentukan.

Melancong ke Yogyakarta di Masa New Normal, Wajib Unduh Aplikasi Cared+ Jogja
Travel
Ragam Kolak Nusantara yang Siap Menggugah Selera Buka Puasa
Kuliner
Punya Suara ‘Misterius’, Simak Fakta-Fakta Tentang Gunung Prau
Travel
Ngilu, Kikir Gigi Hanya Ada di Indonesia
Tradisi
Ngilu, Kikir Gigi Hanya Ada di Indonesia

tradisi ini dinilai dapat memberikan estetika pada gigi.

Ada Ucapan Syukur ke Sang Pencipta di Balik Sajian Tumpeng
Tradisi
Ada Ucapan Syukur ke Sang Pencipta di Balik Sajian Tumpeng

Pemilihan lauk pun memiliki makna kehidupan tersendiri.

Domba Padjadjaran Ikon Baru Sumedang
Travel
Domba Padjadjaran Ikon Baru Sumedang

Domba ini merupakan hasil penelitian para dosen Fakultas Peternakan (Fapet) Universitas Padjadjaran (Unpad).

Alun-Alun Kidul Keraton Kasunanan Surakarta, Tempat Nongkrong Sambil Melihat Kerbau Bule
Travel
Alun-Alun Kidul Keraton Kasunanan Surakarta, Tempat Nongkrong Sambil Melihat Kerbau Bule

Di Keraton Surakarta terdapat dua alun-alun atau ruang terbuka hijau (RTH) yang asik buat nongkrong di negeri aing.