PAN Minta APBN 2021 Harus Tepat Sasaran Gerakkan Perekonomian Sekjen Partai Amanat Nasional (PAN) Eddy Soeparno. (MP/Mauritz)

Merahputih.com - Rapat Paripurna DPR tanggal 29 September lalu menyetujui APBN 2021. Anggaran belanja pemerintah mencapai Rp 2.750 triliun. Mengingat defisit APBN ditetapkan 5,7 persen, pemerintah akan menerbitkan utang baru Rp 1.177 triliun.

Menanggapi rencana pemerintah menerbitkan utang baru, Sekjen DPP PAN Eddy Soeparno menekankan pentingnya dana yang digunakan tepat sasaran dan memberi dampak signifikan bagi perekonomian.

"Kami tetap perlu memantau penggunaan dananya agar tepat sasaran dan bermanfaat menggerakkan roda perekonomian, disamping membiayai aspek sosial dan kesehatan akibat COVID-19," kata Eddy di Jakarta, Kamis (1/10).

Baca Juga:

Cuma 8 Persen UMKM Yang Gunakan Pemasaran Online

Belanja pemerintah harus diarahkan ke sektor-sektor yang mampu menunjang target pertumbuhan ekonomi tersebut, sekaligus mengurangi dampak menurunnya kinerja dunia usaha akibat pandemi berkepanjangan ini.

Wakil Ketua Komisi VII DPR ini memberikan perhatian khusus pada prospek penerimaan negara, khususnya dari pajak, agar terhindar dari shortfall sebagaimana dialami di tahun-tahun sebelumnya

"Karena turunnya penerimaan negara akan terkompensasi melalui penambahan utang baru. Selain memberatkan posisi utang negara, utang baru juga akan membebani Bank Indonesia yang diberi tugas menyerap surat utang pemerintah melalui mekansime burden sharing," lanjut dia.

Ilustrasi Pasar (Foto Antara).

Menurut Eddy, saat ini Indonesia berada di persimpangan jalan yang kurang kondusif. Di satu sisi penerimaan negara bisa saja di bawah target, namun di lain pihak kemungkinan membengkaknya pengeluaran negara juga cukup besar.

“Apalagi di tengah ketidakpastian terkait kapan berakhirnya pandemi COVID-19,ini," jelas Eddy.

Baca Juga:

Pemerintah Siapkan Skenario Pemulihan Ekonomi Sampai 2021

Terkait ekspektasi Menteri Keuangan yang optimis bahwa omnibus law akan memberikan berbagai kemudahan dalam berusaha dan investasi di Indonesia, Eddy mengatakan masa transisi pemberlakuan omnibus law membutuhkan waktu dan sosialisasi yang menyeluruh.

"Kami tetap berpandangan konservatif dan hati-hati mengingat di satu pihak, berbagai perundang-undangan lama dinyatakan tidak berlaku lagi sementara di lain pihak omnibus law membutuhkan aturan turunan berupa peraturan pemerintah yang perlu dipahami pelaku usaha," tutup Anggota DPR dari Dapil Kota Bogor dan Kabupaten Cianjur ini. (Ayu)


Tags Artikel Ini

Angga Yudha Pratama

LAINNYA DARI MERAH PUTIH