Mereduksi Keraguan "Setengah Isi/Setengah Kosong" Fiametta Gabriela  Salah seorang pengunjung pameran Gaby. (Foto/Zaimul)

PEREMPUAN bergaun hitam tampak asyik membasuh kertas dengan cat air. Satu per satu kertas basah lalu dijemur di seutas tali. Terkatung-katung. Kuyu.

Sekejap kemudian barisan kertas dengan warna dan bentuk berbeda seakan memberi dimensi baru tentang komposisi.

"Saya mempertemukan kertas dengan air. Kertas adalah objek padat, namun jika dipertemukan dengan air, ia akan berubah bentuk dengan waktu tertentu. Kertas menjadi diri (pelaku),” jelas Fiametta Gabriela kepada merahputih.com.

Prosesi tersebut menjadi pembuka pameran "Setengah Isi/Setengah Kosong" di Galerikertas Studio Hanafi, Depok.

Gaby, sapaan karib Fiametta Gabriela, menawarkan intepretasi berbeda terhadap medium kertas. Bahkan tak sekadar jadi medium, bahkan subjek cerita di dalam karyanya.

Gaby saat membuka acara pamerannya. (Foto/Zaimul)
Gaby saat membuka acara pamerannya. (Foto/Zaimul)

Pameran tersebut akan memperagakan 24 karya kertas, umumnya berukuran kecil, dan karya instalasi.

"Setengah Isi/Setengah Kosong" banyak berbicara tentang air pada perempuan dan mitos-mitos atau ritual tentang penyucian, seperti darah dari tubuh perempuan yang harus disucikan. Perempuan setelah melahirkan, harus disucikan.

“Setengah Isi/Setengah Kosong diambil dari efek air. Setengah isi, berarti air itu terisi, tapi setelah itu, kosong juga ada isinya. Isinya bisa diartikan sebagai subjek perupanya, atau orang yang akan berinteraksi dengan si perupa tersebut,” jelas Gaby.

Menurut Gaby, karya-karyanya merupakan upaya untuk melunturkan keharusan, keraguan dari pikiran sesat. “Di dalam proses spiritual, air digunakan untuk pembaptisan, pengambilan wudhu, melukat. Air merupakan media utama untuk proses pemurnian diri, membersihkan pengaruh kotor,” tutur Gaby.

Dalam pameran kali ini, Gaby mengusung kertas dan air dalam tiga media berbeda.

Pertama, menggunakan charcoal/pensil hitam lalu “dibasuhi” cat putih dicampur air. Proses ini menampilkan upaya penghilangan/menemukan goresan baru.

Kedua, menggunakan kertas tisu sebagai media yang dilarutkan di dalam air.

Ketiga, merupakan karya performatif dengan menggunakan fotokopi akte lahir (simbol diri), lalu dicuci dengan tangan ke dalam cat putih dicampur dengan air.

Salah seorang pengunjung pameran Gaby. (Foto/Zaimul)
Salah seorang pengunjung pameran Gaby. (Foto/Zaimul)

Tema air sebagai simbol keseimbangan dan penyucian diri ini akan dipamerkan selama satu bulan di Galerikertas sampai dengan 3 September 2018. Seperti halnya Ugo Untoro dan Farhan Siki, pameran tunggal Gaby akan memilih Perupa Muda untuk berkolaborasi pada Agustus mendatang.

“Proses pemilihan perupa muda akan berlangsung selama dua hari yaitu pada hari sabtu dan minggu, 4–5 Agustus 2018 pukul 16.00 – 18.00 WIB di Galerikertas. Di mana para perupa muda akan mempersentasikan karyanya pada Fiametta Gabriela,” kata Selvi Agnesia penanggungjawab Galerikertas.

Pameran ini bukan kali pertama diselenggarakan Galerikertas. Tercatat, sebelumnya Studio Hanafi telah sukses menggelar 4 pameran. (Zai)


Tags Artikel Ini

Zaimul Haq Elfan Habib

LAINNYA DARI MERAH PUTIH