Paloh-PKS Mesra, Posisi Menteri yang Berasal dari NasDem Terancam Presiden PKS Mohamad Sohibul Iman dan Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh di kantor DPP PKS, Rabu (30/10) (Donny/PKSFoto)

MerahPutih.com - Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyinggung pertemuan antara Partai Nasdem dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang membuat wajah Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh terlihat lebih cerah.

Menanggapi hal itu, Pakar komunikasi politik Universitas Bunda Mulia Silvanus Alvin menilai sindirian Jokowi kepada Surya Paloh sebagai bentuk teguran keras kepada Partai Nasdem.

"Menurut saya itu teguran yang keras. Jokowi sebagai orang Jawa punya tipikal yang halus. Ketika menyindir pun dia menggunakan teknik satir dimana pendekatannya lebih pada soft approach," kata Alvin kepada wartawan, Kamis (7/11).

Baca Juga

Pengamat Beberkan Faktor Retaknya PDIP-NasDem di Koalisi Jokowi

Alvin mengatakan, posisi PKS sudah tegas sebagai partai oposisi di luar pemerintah. Sementara Paloh sebagai pemimpin Nasdem yang berkoalisi dengan pemerintah justru berangkulan usai bertemu dengan Presiden PKS Sohibul Iman. Hal itu, kata dia, menimbulkan pesan tersendiri bagi Jokowi.

"Tentu memberikan pesan tersendiri terhadap Jokowi. Saya mengartikan Jokowi sakit hati sehingga lantas ia menyindir Nasdem seperti itu," ujarnya.

Menurut lulusan Master of Arts dari University of Leicester ini, implikasi kemesraan Paloh dan PKS akan mengancam posisi menteri-menteri di Kabinet Indonesia Maju yang berasal dari Nasdem.

"Keberanian Paloh bertemu PKS juga tampak dilandasi dari prediksinya bahwa Jokowi bukan pemimpin reaktif yang langsung seenaknya mengganti atau reshuffle menteri," ungkapnya.

Ketua Umum Partai Nasional Demokrat (Nasdem) Surya Paloh (kiri) berpelukan dengan Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Sohibul Iman. ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari

Dari pernyataan sindiran itu, kata Alvin, Jokowi akan lebih mewaspadai gerak gerik Nasdem. Sebagai pemimpin kabinet, dia memprediksi dalam waktu dekat Jokowi akan meminta penjelasan langsung atas pertemuan petinggi Nasdem dan PKS itu.

"Kemudian menarik pula kita memperhatikan secara spesifik pemakaian diksi 'rangkulan' dan 'wajah cerah' yang dipakai jokowi. Itu seakan-akan menyindir bahwa ada kesan Nasdem lebih nyaman merangkul oposisi dan lebih senang berada di luar koalisi Jokowi," pungkasnya.

Sebelumnya diberitakan, Presiden Jokowi menghadiri perayaan HUT ke-55 Partai Golkar di Hotel Sultan, Senayan, Jakarta. Dalam acara tersebut, turut hadir Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh.

Baca Juga

Surya Paloh Ingatkan Bahayanya Jika Tak Ada Pihak yang Kritisi Pemerintah

Saat berpidato di depan ratusan kader Partai Golkar, Jokowi menyinggung pertemuan antara Paloh dan Presiden PKS, Sohibul Iman. Menurutnya, wajah Surya terlihat lebih cerah usai pertemuan tersebut. "Wajah beliau lebih cerah dari biasanya, sehabis pertemuan beliau dengan Pak Sohibul Iman di PKS," ujar Jokowi.

Jokowi menilai, pelukan antara Paloh dan Sohibul memiliki arti dan makna yang tak diketahuinya. Jokowi bahkan mengaku tak pernah dipeluk oleh mantan politikus Partai Golkar tersebut. "Wajahnya cerah setelah beliau berangkulan dengan Pak Sohibul Iman. Saya tidak tahu maksudnya apa, tapi rangkulannya tidak seperti biasanya," canda Jokowi. (Pon)

Kredit : ponco

Tags Artikel Ini

Angga Yudha Pratama

LAINNYA DARI MERAH PUTIH