Pakailah Air, Jangan Toilet Paper Lebih baik memakai air ketimbang toilet paper. (Foto: pixabay/StockSnap)

SANGAT beruntung kita yang berada di Indonesia yang selalu membersihkan daerah anus dengan air setelah buang air besar. Ternyata kebiasaan ini sangat baik terhindar dari berbagai penyakit.

Budaya membersihkan anus dengan air setelah berhajat besar, bukan sekedar masalah kebersihan saja, lebih dari itu juga memberikan solusi pada kesehatan. Dengan air bersih dapat menghilangkan sisa-sisa feses yang berada di lipatan-lipatan kecil sekalipun.

Membersihkan anus dengan air umumnya dilakukan di negara-negara muslim, Asia Timur, Asia Selatan, sebagian Eropa dan Amerika Selatan. Alasannya adalah tidak bersih bila tidak dibasuh dengan air.

biddet
Air dapat membersihkan sisa feses. (Foto: DHgate)

Para dokter, menurut laman Mirror, menyarankan jangan lagi menggunakan toilet paper untuk membersihkan area anus sehabis buang air besar. Ini karena dapat menyebabkan gangguan pada anus dan yang menyeramkan adalah infeksi pada saluran kencing (UTI). Padahal dengan membersihkan setelah buang hajat dengan air, bukan hanya sisa-sisa feses saja yangbhilang, bakteripun tidak akan ada di daerah tersebut.

Pakar kesehatan itu mengatakan bahwa membersihkan setelah membuang hajat dengan toilet paper dapat mengganggu kesehatan pada area tersebut. Jika sudah mengalami gangguan kesehatan, menurut laman Mirror, butuh waktu delapan sampai 12 minggu untuk sembuh. Gangguan ini dapat pula mengarah pada wasir.

Para pengguna toilet paper berpikir bahwa dengan membersihkan sisa kotoran berarti sudah bersih. Padahal tidak seperti itu. Masih terdapat sisa feses yang tidak bisa bersih hanya dengan toilet paper. Dibutuhkan air untuk dapat membersihkan semua sisa feses yang ada pada anus.

toilet paper
Tidak memakai toilet paper juga menjaga lingkungan. (Foto: pixabay/kropekk_pl)

Meskipun tidak umum penggunaannya di Indonesia, tapi di beberapa tempat, semisalnya hotel berbintang, selalu menyediakan toilet paper. Perbedaan budaya yang ada menyebabkan perbedaan kebiasaan pula.

Kebiasaan membersihkan sisa feses pada anus dilakuakn dengan cara tradisional maupun modern. Pada era modern tidak perlu gayung lagi melainkan selang yang dihubungkan dengan pipa air yang langsung mengalirkan air untuk membersihkan anus.

Perkembangannya kemudian melahirkan biddet atau teknologi anyar yang menyemburkan air melalui pipa logam langsung ke bawah anus. Sedangkan di Jepang perkembangan biddet yang memiliki dua program untuk membersihkan kelamin dan anus. Selain Jepang, Korea Selatan, Itali dan Yunani merupakan negara dengan warga yang membersihkan anusnya setelah berhajat besar.

Sebenarnya bukan hanya masalah kebersihan dan kesehatan saja membersihkan hajat dengan air. Konon butuh jutaan pohon untuk dijadikan toilet paper. Paling tidak dengan menggunakan air konsumsi kayu menjadi berkurang. (psr)

Kredit : paksi

Tags Artikel Ini

Paksi Suryo Raharjo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH