Kesehatan Mental
Orthorexia, Gangguan Pola Makan yang Dikaitkan dengan Instagram Orthorexia merupakan gangguan makan obsesif akibat media sosial. (Foto:123RF/Dean Drobot)

APAKAH kamu sering panik ketika teman atau keluarga mengajak makan di luar karena tidak bisa mengontrol garam dan gula dalam masakan restoran? Apakah kamu memiliki aturan ketat untuk tidak menyantap apapun yang masuk kategori makanan cepat saji? Obsesi untuk berolahraga dan makan sehat dan membatasi diri hanya makan buah, sayuran, dan setengah protein bar tampak sebagai kebiasaan yang baik-baik saja. Padahal, perilaku ekstrem itu menjadi tanda dari orthorexia nervosa.

Orthorexia merupakan gangguan makan yang ditandai dengan obsesi yang kuat terhadap pola makan 'sehat' yang dapat merusak kesehatan seseorang. Dalam beberapa tahun terakhir, budaya kebugaran di platform media sosial, terutama Instagram, telah menciptakan lingkungan beracun bagi mereka yang paling rentan terhadap gangguan makan: perempuan remaja.

BACA JUGA:

Yogurt Bagus Untuk Usus, Tapi...

Biasanya mereka dengan gangguan makan ini akan terus-menerus khawatir dengan asupan nutrisinya dan melacak kalori. Mereka pun akan menjadi sangat stres jika tidak berolahraga dalam sehari. Biasanya mereka melakukan ini karena merasa banyak hal yang berada luar kendali mereka. Mereka pun berpikir bahwa setidaknya bisa mengendalikan satu hal, yaitu makanan dan seberapa banyak olahraga.

Tidak seperti anoreksia nervosa dan bulimia, gangguan makan yang pertama kali dinamai pada tahun 1990-an ini tidak diakui secara resmi dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders atau DSM. DSM merupakan buku panduan yang digunakan tenaga profesional kesehatan jiwa. Padahal, seperti anoreksia, orthorexia dapat menyebabkan gejala fisik seperti malanutrisi, serta gejala mental seperti depresi, kecemasan, rasa bersalah, dan rasa malu.

orthorexia
Terobsesi dengan pola makan sehat. (Foto:123RF/dolgachov)

Orang yang menderita orthorexia juga menunjukkan gejala yang biasanya terlihat pada gangguan obsesif kompulsif (OCD), seperti tingkat kecemasan yang tinggi, perfeksionisme, pola ritual, dan pikiran yang berulang dan mengganggu. Namun, ortoreksia tidak mudah didiagnosis sebagai kelainan serupa, kata Samantha DeCaro, asisten direktur klinis di Renfrew Center di Philadelphia.

"Orthorexia benar-benar tenggelam dalam budaya diet karena sepertinya tujuan mereka kesehatan, tapi ironisnya mengejar kesehatan membuat mereka sangat tidak sehat," kata DeCaro. Kondisi ini membuatnya sulit dikenali karena kita tidak selalu melihat ketakutan akan kenaikan berat badan yang biasanya kita lihat pada gangguan makan lain," kata DeCaro seperti diberitakan thestar.com (4/1).

Penelitian tentang orthorexia terbatas, tetapi penelitian menunjukkan bahwa gangguan tersebut kemungkinan mempengaruhi antara 1% hingga 7% populasi. "Setiap orang berjuang dengan orthorexia secara berbeda," kata Jennifer Kreatsoulas, seorang terapis yoga yang berbasis di Wayne yang mengkhususkan diri dalam pemulihan gangguan makan.

“Beberapa orang hanya makan makanan organik, yang lain menghindari pengawet buatan, gula, lemak, garam, atau bahan lain yang dianggap tidak sehat. Dengan orthorexia, pola makan seseorang menjadi semakin sempit karena definisi sehat terus bergeser untuk orang itu," tambah Kreatsoulas.

Instagram Pemicu Orthorexia

orthorexia
Promosi kebugaran di IG jadi pemicu. (Foto: 123RF/ufabizphoto)

Kreatsoulas mengatakan, promosi kebugaran di Instagram dapat memicu komponen obsesif orthorexia. “Sumber informasi eksternal ini dapat menjadi kekuatan pendorong untuk cara berpikir, cara makan, cara merawat tubuh," katanya.

Hal tersebut dapat menambah kebingungan dan meningkatkan perkembangan aturan-aturan yang makin membatasi asupan nutrisi dan memperbanyak latihan yang membakar kalori. Menurut Kreatsoulas, ini dapat menciptakan badai yang sempurna bagi orthorexia untuk makin tenggelam dalam gangguan makannya.

Sebuah studi tahun 2017 oleh para peneliti di University College London menemukan bahwa penggunaan Instagram yang lebih tinggi dikaitkan dengan lebih banyak gejala orthorexia.

orthorexia
Konten iklan para influencer jadi pemicu.(Foto: 123RF/happylark)

DeCaro mengatakan banyak influencer menggunakan platform mereka untuk berbagi informasi tentang pola makan dan 'makanan baik dan buruk, yang sering kali disponsori brand. Perilaku media sosial semacam itu, tambahnya, dapat memberi kesan kepada followers bahwa jika mereka makan dengan cara yang ditentukan, mereka akan terlihat seperti influencer itu.

“Remaja yang berada pada usia rentan dapat benar-benar mengikuti konsep ini, dan akan sangat sulit untuk keluar dari keyakinan tersebut,” kata DeCaro.

Orang dengan orthorexia akan menyimpan foto yang diposting oleh fitness influencer di Instagram untuk mendapatkan inspirasi. Mereka juga terus melihat gambar makanan sehat, dengan tagar seperti #eatclean, #traindirty, atau #countingcalories.(Aru)

LAINNYA DARI MERAH PUTIH
Ayo Berdonasi untuk Perangi Virus Corona!
Fun
Ayo Berdonasi untuk Perangi Virus Corona!

Donasi yang kita berikan dapat digunakan untuk membeli perlengkapan yang dibutuhkan tenaga medis.

Lingkungan Kerja Sehat yang Bikin Produktif Dan Bersemangat
Fun
Lingkungan Kerja Sehat yang Bikin Produktif Dan Bersemangat

Lingkungan kerja yang baik tak mustahil mendorong produktivitas.

Atasi Diare dengan Tips Berikut Ini
Fun
Atasi Diare dengan Tips Berikut Ini

Dalam beberapa kasus, diare memerlukan penanganan khusus dari obat-obatan.

Dapatkan Looks ala Aesthetic Grunge dengan 3 Item Fesyen Ini
Fashion
Dapatkan Looks ala Aesthetic Grunge dengan 3 Item Fesyen Ini

Tiga item fesyen ini harus banget kamu coba biar terlihat grunge.

RM BTS dan Jimin BTS 'Keracunan' Dalgona Coffee
Fun
RM BTS dan Jimin BTS 'Keracunan' Dalgona Coffee

RM BTS membuat dalgona coffee

Pandangan Tisa TS Terhadap Film & Milenial
ShowBiz
Pandangan Tisa TS Terhadap Film & Milenial

Pandangan Tisa TS Terhadap Film & Milenial

Mana Lebih Baik untuk Kesehatan Tubuh, Bersepeda atau Lari?
Fun
Mana Lebih Baik untuk Kesehatan Tubuh, Bersepeda atau Lari?

Keduanya tergantung preferensi masing-masing individu.

Viral, Perempuan Ini Sukses Buat Gaun 'COVID-19' dari Lakban dalam Waktu 400 Jam
Fun
Putus Cinta Saat 'Self Quarantine'? 5 Lagu Ini Bikin Nangis Jadi 'All Out'
Fun
Putus Cinta Saat 'Self Quarantine'? 5 Lagu Ini Bikin Nangis Jadi 'All Out'

Untuk bisa all out ketika menangis, yuk dengar lima lagu paling galau dibawah ini!

Post Malone Bersama Shaboink Sumbang 40.000 Masker N95 untuk Lawan COVID-19
ShowBiz
Post Malone Bersama Shaboink Sumbang 40.000 Masker N95 untuk Lawan COVID-19

Lewat cabang bisnis miliknya, Post Malone sumbang bantuan untuk lawan COVID-19.