Orangtua, Begini Cara Dampingi Anak Menghadapi Kejadian Teror Anak juga perlu penjelasan mengena tentang kejahatan terorisme. (foto: dailymail)

KETIKA serangan bom terjadi, media akan ramai memberitakan. Mulai dari kronologi kejadian, detail korban, hingga terkadang potongan gambar yang bisa sangat meresahkan. Sebagai orangtua di masa serbadigital dan serbamudah dalam mendapat informasi, menghalangi anak untuk tidak melihat pemberitaan tentang terorisme amatlah mustahil. Pertanyaan kritis dari anak-anak akan muncul terkait dengan apa yang tengah terjadi.

Di saat seperti itu, orangtua haruslah bersiap dengan jawaban yang mudah dimengerti sekaligus mengena. Penjelasan yang tepat, terarah, dan mudah dipahami akan membentuk karakter anak sekaligus kesadaran mereka tentang betapa pentingnya untuk memahami apa itu terorisme.

Sebagai panduan bagi para orangtua, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mengeluarkan anjuran bagi para orangtua dalam menjelaskan kejahatan terorisme. Berikut hal-hal yang harus dilakukan orangtua dalam menjelaskan kejahatan luar biasa tersebut.


1. Cari tahu apa yang anak pahami

Berikan paparan fakta yang terkonfirmasi. (foto: the sun)

Sebelum memberi penjelasan, ada baiknya orangtua mengetahui dulu apa yang ada di pikiran anak tentang kejahatan terorisme. Tanyakan juga apa pendapat mereka mengenai hal tersebut.

Jika sudah, mulailah untuk membahas secara singkat apa yang terjadi. Sampaikan hanya fakta-fakta yang sudah terkonfirmasi. Hal itu berarti orangtua hanya menyampaikan pernyataan resmi dari pihak berwenang. Ajak anak untuk menghindari spekulasi, apalagi berita palsu.


2. Hindari paparan media

Jika bisa, hindarkan anak-anak dari paparan media sosial. (foto: businessinsider)

Jika memungkinkan, hindarkan anak dari paparan media, terutama media sosial. Pasalnya, di media itu kerap beredar gambar-gambar korban ataupun kejadian yang membuat resah, terlebih untuk anak di bawah 12 tahun.

Yang tak kalah penting, selalu dampingi anak saat menonton atau secara tak kebetulan melihat berita tentang kejahatan terorisme.


3. Identifikasi rasa takut

Tenangkan anak di masa tragedi. (foto: parents.com)

Perhatikanlah reaksi anak. Jika mereka terlihat menyimpan rasa takut, tenangkan mereka. Orangtua harus memahami bahwa tiap anak punya karakter yang unik.

Meskipun teror menimbulkan rasa takut, orangtua harus membuat anak merasa aman. Jelaskan kepada mereka bahwa kejahatan terorisme jarang terjadi. Meskipun demikian, anak tetap harus waspada di segala situasi.


4. Bantu anak berekspresi

Melihat atau mendengar peristiwa yang sedemikian rupa mengejutkan seperti serangan bom pastilah membekaskan jejak pada psike anak. Mereka mungkin merasa marah, takut, atau sedih.

Di saat demikian, orangtua wajib membantu anak untuk mengekspresikan perasaan mereka. Arahkan anak untuk merasa marah kepada sasaran yang tepat. Dalam hal ini pelaku kejahatan terorisme.

Hindarkan anak untuk memiliki prasangka kepada identitas golongan tertentu. Jelaskan secara perlahan bahwa tindakan teror dilakukan atas kesadaran pribadi pelaku tanpa membawa isu SARA.


5. Tunjukkan keberanian

Tetap beraktivitas untuk tunjukkan rasa keberanian. (foto: scholastic)

Karena teror dilakukan untuk menciptakan ketakutan, sudah seharusnya orangtua mengajarkan anak untuk tidak tunduk pada keinginan para pelaku teror. Jalani kegiatan bersama secara normal. Hal itu dilakukan utnuk memberi rasa nyaman serta membuktikan bahwa tidak perlu tunduk pada teror.

Selain itu, tetap jaga kebersamaan keluarga. Komunikasikan secara rutin dukungan orangtuan kepada anak.


6. Ajak diskusi dan mengapresiasi

Ajak anak mengapresiasi kerja aparat keamanan. (foto: dailyexpress)

Alih-alih menyoroti hal negatif, orangtua haruslah mengajak anak melihat sisi positif dari kejadian teror. Caranya, ajak anak berdiskusi dan mengapresiasi kerja para polisi, TNI, dan petugas kesehatan dalam menangani korban, melayani, dan membantu warga di masa tragedi.

Sorotlah sisi kesigapan dan keberanian para petugas tersebut ketimbang membahas sisi kejahatan pelaku teror.

Pemahaman yang tepat dari orangtua akan menghindarkan anak dari kebingungan yang mungkin menjerumuskan mereka ke persepsi yang salah. (dwi)

Kredit : dwi


Dwi Astarini

LAINNYA DARI MERAH PUTIH