Orang Tua, Kami Juga Tahu Batas dan Tanggung Jawab! Ilustrasi kesendirian. (Pixabay)

SINTA tiga bulan terakhir sibuk mondar-mandir Cempaka Putih-Sudirman. Kadang sehari bisa dua kali bolak-balik mengambil biji kopi dan cup untuk pasokan harian kedai kopinya di daerah Sudirman. Usahanya sedang menanjak. Sehari 60 cup kopi ludes terjual. Meski laris manis, lantaran usahanya baru berjalan, karyawannya masih tiga orang. Itu pun terhitung bantuan pertemanan. Ia mengaku kewalahan hingga hampir tiap hari pulang larut malam.

Sampai rumah, Sinta tak bisa langsung melepas lelah, apalagi tidur nyenyak. Orang tua selalu menyambut dengan ocehan-ocehan nan justru membuatnya tambah capek. "Mereka enggak mau gue bandel," keluh Sinta kepada merahputih.com. Kekhawatiran orang tuanya cukup beralasan lantaran mereka tak mau putrinya dicap buruk akibat sering pulang malam.

Sinta memang bukan pergi main atau berpesta setiap hari sehingga harus pulang malam. Selain merintis bisnis kedai kopi, ia juga harus menghadiri kelas untuk studi Pascasarjana, dan itu pun tuntutan dari orang tua. Meski telah berkali-kali dijelaskan, orang tuanya tetap bergeming. Mereka tetap ingin putrinya pulang tepat waktu.

hak asasi milenial
Ilustrasi kesal. (Pixabay)

Merintis bisnis sekaligus menempuh studi S-2 bukan perkara mudah. Sinta harus membagi konsentrasi, antara tugas kuliah bertumpuk dengan cash-flow usahanya. Tak heran bila pulang malam jadi semacam pemakluman baginya. "Padahal jujur gue kan tau diri dan enggak akan bandel kayak narkoba, clubbing, dan lainnya," katanya.

Kekhawatiran berlebih orang tuanya, lanjut Sinta, justru terasa semakin membuat gerak pertumbuhannya terbatas. Di saat mendesak harus mengatur usahanya hingga larut malam, telintas pula bayang-bayang omelan orang tuanya menerjang hebat. Ia hingga kini tak bisa menerka akan sejauh apa usaha dan studinya kelak. Dukungan orang tua penting baginya, namun kekhawatiran berlebihan beserta tuduhan tak masuk akal juga berpotensi membuat semuanya buyar.

Bila Sinta bermasalah tentang ijin pulang, beda lagi dengan Wina. Ia selalu bersitegang dengan orang tuanya bila menyangkut pasangan. Ibunya harus kenal dengan pria dambaannya agar percintaannya lancar. "Harus dikenalin dulu ke nyokap, baru boleh jalan," kata Wina. Ibunya juga sangat ketat memantau teman dekatnya terutama laki-laki. Ia tak boleh pakai baju sembarangan apalagi terbuka bila pergi terutama bila ada teman lelaki.

Proteksi orang tuanya membuat Wina tak leluasa berteman. Bila orang lain dapat panduan lebih baik dapat banyak teman daripada punya satu musuh, Wina justru sebaliknya, lebih baik punya banyak musuh asal ibunya setuju. Proteksi terhadap lingkaran pertemanan juga jadi masalah buat Lika.

Lika pernah dilarang keras liburan bersama kekasihnya meski orang tuanya sudah kenal baik. "Padahal gue tahu batas dan bisa bertanggung jawab," protes Wina. Liburan itu, menurutnya, dilakukan bersama-sama teman lain. Bukan cuma berdua saja. Rencana liburan itu pun kandas karena tak beroleh restu orang tua.

Pacaran memang hak setiap anak muda tapi selalu ada peran orang tua pada proses seleksi. hal itu menimpa Laras. Ia diminta orang tuanya agar memilih pasangan satu suku. Di masa lalu, percintaannya kandas karena beberapa faktor, termasuk orang tuanya tak terlalu senang kekasihnya hanya lantaran berbeda suku.

Beda Sinta, Wina, Laras, beda pula dengan kisah Andre. Ia telah tujuh tahun kuliah tapi belum juga lulus. Keluarganya memang tak menuntut banyak hal darinya. Bila teman-temannya sering mengeluh karena larangan pulang malam, disuruh cepat menikah, dan masalah percintaan lain, orang tua Andre hanya mau segera datang di wisuda anaknya. "Tuntutan orang tua gue cuma satu, lulus kuliah," ucap Andre.

hak asasi milenial
Ilustrasi marah. (Pixabay)

Andre anak tertua di keluarga. Tanggung jawab besar sebagai kakak tertua sedang diemban. Setiap anak tertua tentu selalu jadi barometer adik-adiknya. Namun, Andre justru sering dibanding-bandingkan dengan adiknya. Ia selalu menjadi contoh buruk. Orang tuanya kerap membandingkan prestasi gemilang adiknya, baik di bidang akademik maupun di luar akademik. Selain sudah purna kuliah, adiknya juga punya prestasi mentereng di bidang olahraga menembak. Adiknya sering mengharumkan nama Indonesia di pentas internasional. Pembandingan prestasi itu sering membuat kupingnya panas. Kadang rumah seperti bukan tempat terasyik baginya.

Selain prestasi, pamer pengalaman juga sering terjadi di keluarga. Billy paling muak kala bertemu saudara lebih tua darinya karena sering sok tahu tentang banyak hal. "Gue paling kesal sama keluarga paling sok tahu," keluhnya. Secara jujur, lanjut Billy, memang mereka lebih dahulu dan punya pengalaman terhadap satu peristiwa, namun terkadang cara penyampaiannya bikin kesal. Cenderung menggurui ketimbang berbagai pengalaman.

Bila boleh memilih, ia tak ingin hadir di acara keluarga besar. Selain karena beberapa orang dianggap sok tahu, juga beberapa di antaranya kepo soal hal-hal privat. Sering ditanya kapan lulus, siapa pacarnya, tinggal di mana, anaknya siapa, kapan nikah, dan sebagainya. "Males gue mereka kepo banget!" (Shenna)


Tags Artikel Ini

Yudi Anugrah Nugroho

LAINNYA DARI MERAH PUTIH