Operasi TNI Mapenduma (8): Mengapa Kopassus Belum Mau Melakukan Operasi Militer? Komandan Kopassus Brigjen Prabowo Subianto dan sang ajudan Gea Ansaldi pada sebuah apel siaga. (Hamzah Palalloi)

TIGA bulan lebih negosiasi dengan kelompok Organisasi Papua Merdeka (OPM) pimpinan Kelly Kwalik dan Daniel Yudas Kogoya tidak berjumpa hasil signifikan. Di pedalaman rimba Mapenduma, Kabupaten Jayawijaya, Papua, 11 sandera WNA dan WNI masih tertawan.

TNI, termasuk Kopassus belum sudi melakukan operasi militer untuk membebaskan sandera. Pihak-pihak di luar Papua tentu merasa geregetan menyaksikan begitu lama dan bertele-tele usaha pembebasan sandera. “Dari gedung DPR-RI, misalnya, terdengar desakan agar ABRI (TNI) segera menempuh tindakan militer,” dikutip Gatra, 25 Mei 1996.

TNI tetap bergeming. Mereka masih mengutamakan jalan persuasif untuk bernegosiasi dan tak ingin pertumpahan darah terjadi pada usaha pembebasan sandera. “Tidak, kita tak mau kesalahan masa lalu terulang dalam operasi pembebasan ini,” kata Komandan Kopassus Brigjen Prabowo Subianto, dikutip Republika, 29 Januari 1996.

Tentu, kesalahan dimaksud sang komandan, tak lain merupakan insiden pada tahun 1994, ketika OPM terdesak lantas pihak TNI melakukan serangan militer dengan akibat korban jatuh di pihak OPM dan warga sekitar.

Hingga berbulan-bulan melakukan negosisasi, belum ada kegejelasan kapan upaya persuasif akan berakhir. Pangdam VIII/Trikora Mayjen TNI Dunidja mengatakan pihak TNI tetap berkomitmen menjalankan pendekatan persuasif, namun dirinya enggan memberi kepastian kapan upaya itu berakhir. “Jangan tanya sampai kapan, itu tidak dibatasi,” ungkap Mayjen Dunidja, dikutip Kompas, 19 April 1996.

Langkah TNI juga Kopassus enggan melakukan operasi militer mendapat dukungan para purnawirawan dan eks komandan operasi pembebasan sandera di Papua pada tahun 1970-1990.

Letnan Kolonel (purnawirawan) D Tandigau, mantan Komandan Kodim Wamena, lantas menjadi Ketua DPRD Kabupaten Jayawijaya 1987-1992, berpendapat strategi negosiasi Kopassus sudah sesuai. Dia justru tak menyarankan Kopassus melakukan ‘raid’ atau serangan dadakan ke jantung lokasi penyanderaan. “Tapi saya kira, raid berisiko tinggi. Karena medannya amat sulit. Belukarnya sangat rapat,” kata Letkol Purn. Tandigau, dikutip Gatra, 27 Januari 1996.

Tandigau pun menduga para sandera tak berada di satu lokasi, tetapi sengaja dipencar, maka sangat sulit mengadakan serangan dadakan. “Kalau satu tempat diserbu, sandera di tempat lain terancam,” katanya.

Pendapat serupa pun didengungkan Mayor Jendral Purnawirawan Samsudin, tokoh di balik pembebasan Komandan Korem Abepura Kolonel Ismail dan pejabat setempat dari tangan gerombolan Marthin dan Mathias Tabu, pada Mei-Agustus 1978, dan pembebasan Camat Waris, anggota DRPD tingkat II Jayapura, serta seorang tamtama Brimob, dari OPM di Papua Nugini pimpinan Yacob Pray, Mei 1979.

Pihak TNI, menurut Mayjen Purn Samsudin, perlu terus-menerus melakukan pendekatan dialog secara intim. Dia menolak bila dilakukan operasi miiter untuk mebebaskan sandera di Mapenduma. “Saya tak menyarankan operasi militer,” ujarnya.

Operasi militer dengan serangan mendadak, lanjut Samsudin, memang menjadi menu latihan sehari-hari bagi pasukan berkualifikasi komando semcam Kopassus. Tapi pelaksanaannya memerlukan persyaratan. “Situasi lapangan harus dikenali secara rinci,” imbuhnya.

Kondisi lapangan seturut Samsudin berarti lokasi target, medan di sekitar target, kekuatan dan sebaran pos-pos penjagaan, pola penjagaan, serta posisi para sandera.

Menilik berat dan sukarnya medan, berupa lereng-lereng terjal, berhutan rapat, dan sering turun kabut tebal tentu mempersulit para pasukan mendapat informasi dan syarat penyerbuan akhirnya tak terpenuhi. Belum lagi bila para sandera berada di tempat terpisah tentu akan semakin sulit dan bahkan membahayakan para sandera.

Ketika memimpin operai pembebasan pada tahun 1978 dan 1979, Samsudin mengaku tahu persis lokasi sandera. “Ternyata sandera terpencar di tiga lokasi”. Dia berhasil melakukan negosiasi dan membebaskan sandera tanpa kontak senjata lantaran diplomasi ‘beras, ikan asin, rokok, dan selimut’. Pihak seteru pun akhirnya mau keluar hutan dan membebaskan sandera. (*)



Yudi Anugrah Nugroho

LAINNYA DARI MERAH PUTIH