Operasi TNI Mapenduma (6): Desas-Desus Keterlibatan 3 Detektif Inggris Scotland Yard Saat Operasi Pembebasan Sandera Polisi Metro Londo berdiri di depan kantor New Scotland Yard. (express.co.uk)

SAAT giat operasi pembebasan sandera di Mapenduma, muncul desas-desus keberadaan pasukan asing membantu upaya pihak TNI membebaskan sandera Mapenduma, Papua.

Tiga detektif Inggris asal Markas Kepolisian Metropolitan London, Soctland Yard, seturut lansiran kantor berita Reuters, 16 Januari 1996, telah berada di posko operasi Markas Komando Distrik Militer (Kodim) Wamena, Papua.

Berkait desas-desus tersebut, Juru Bicara Kedutaan Besar Inggris di Jakarta, John Virgoe, sebagaimana dinukil Kompas, 18 Januari 1996, membenarkan kehadiran tiga anggota Scotland Yard di Wamena, Papua. Tapi, Virgoe enggan memberi rincian peran ketiga detektif.

“Itu urusan militer, menyangkut operasi militer, jadi bukan peranan saya untuk menjelaskannya,” kata Virgoe.

Sang jubir memberi saran agar meminta rincian kepada TNI. “Persoalan Inggris mengirim pasukan atau tidak itu sudah masuk dalam kategori operasi militer, jadi bukan wewenang saya untuk menjawab. Itu bukan rahasia, hanya bukan saya yang harus menjelaskan,” pungkasnya.

Kapuspen TNI Brigjen Suwarno Adiwijoyo, dikutip Tempo, 1997, mengaku belum mengetahui kedatangan ketiga anggota Scotland Yard dan mengatakan bisa saja mereka datang ke Papua untuk berpartisipasi, asalkan menghargai kedaulatan Indonesia.

Detektif Scotland Yard sangat tersohor di beberapa cerita kriminal dan detektif karena mampu membedah dan mengungkap sejumlah kasus, seperti pada serial Jack The Ripper.

Serial itu memang berangkat dari kesuksesan para anggota Scotland Yard, terutama bagian Criminal Investigation Departement (CID), mengungkap kasus-kasus besar seperti pemboman Harrods.

Menteri Dalam Negeri Sir Robert Peel menginisiasi kehadiran CID pada tahun 1829, namun secara resmi CID berdiri pada 1878, setahun seusai Scotland Yard dirudung skandal besar melibatkan detektif senior. Dari masa ke masa, CID berhasil menancapkan taji sebagai garda depan investigasi kasus-kasus besar di Inggris, termasuk melibatkan orang Inggris di luar negeri.

Pihak Inggris sangat ketar-ketir karena 4 orang di antara 26 sandera, merupakan para sarjana muda Jurusan Biologi Universtas Cambridge, Inggris, Daniel P Start, William Oates, Annette van der Kolk, dan Anna McIvor, berpaspor Inggris.

Keempat peneliti asal Inggris tersebut tergabung pada Tim Ekspedisi Lorentz 1995, bersama empat peneliti Biological Science Club (BScC) Universitas Nasional, Jakarta, Navy W Panekenan, Yosias Matheis Lasamahu, Jualita Maureen Tanasale, dan Adinda Arimbi Saraswati, serta Antropoloog Universitas Cendrawasih, Markus Warib.

Mereka bersama tiga peneliti WWF dan Unesco serta para penduduk di Desa Mapenduma, Kecamatan Tiom, Kabupaten Jayawijaya, Papua, diculik sekelompok orang bersenjata Organisasi Papua Merdeka (OPM) pimpinan Daniel Yudas Kogoya, pada 8 Januari 1996.

Beberapa hari setelah penculikan, beberapa sandera telah dilepaskan, namun hingga berminggu-minggu melakukan upaya negosiasi, keempat sandera asal Inggris masih berada di dalam rimba belantara Mapenduma. (*)



Yudi Anugrah Nugroho

LAINNYA DARI MERAH PUTIH