Operasi TNI Mapenduma (5): Cerita Pelik Para Pemimpin Gereja Berjumpa Kelly Kwalik Kelompok OPM. (Ben Bohane, Gatra)

PERASAAN Uskup Jayapura, Mgr Ferdinand Marie Munninghoff, berkecamuk. Di hadapannya berdiri sesosok murid lamanya, hampir 22 tahun tak bersemuka.

Sementara di belakang sosok sang murid, bergerombol sekira 200 anggota Organisasi Papua Merdeka (OPM) sedang mengawasi para sandera sembari membopong senjata M16. Kelly Kwalik, sang murid, kini telah menjadi buronan paling dicari seantero negeri.

Pasca-penculikan 26 orang gabungan peneliti Tim Ekspedisi Lorentz 1995, WWF, dan Unesco, termasuk penduduk di Desa Mapenduma, Kecamatan Tiom, Kabupaten Jayawijaya, Papua, 8 Januari 1996 tersiar, nama Kelly Kwalik langsung mencuat ditautkan sebagai aktor utama perancangan aksi.

Pria kelahiran Noema, Kampung Jila, Mimika, Papua, tahun 1955 tersebut, seturut lansiran Gatra, 25 Mei 1996, dianggap sebagai aktor utama di balik penculikan di Mapenduma, sementara komandan pelaksana berada di tangan Daniel Yudas Kogoya.

Kelly Kwalik acap dikaitkan dengan serangkaian aksi penculikan dan kekerasan melibatkan OPM di bumi Papua. Dia diduga bertanggungjawab terhadap aksi penculikan 30 penduduk Desa Ikcan Baru, Kecamatan Waropko, Merauke, pada awal November 1995. Salah seorang di antara dua sandera pegawai Direktorat Jendral Bina Marga Departemen Pekerjaan Umum ditemukan tewas mengenaskan.

Begitu pula aksi penculikan OPM terhadap Marwiyah Abubakar dan Basyir Kadir, siswa SMA Negeri 1 Kecamatan Arso, Kabupaten Jayawijaya, disekap selama dua bulan dan baru dilepas pada bulan Februari 1996, diduga melibatkan Kelly Kwalik.

Meski aparat keamanan di Jayapura menjadikannya target utama, Kelly tetap tak terjamah lantaran dikenal licin, mudah membaur, dan bisa mendadak hilang bila sudah memasuki hutan.

Tetapi, 'hantu' itu, si buronan paling dicari, sang murid, sudah ada di depan mata Munnighoff pada pagi hari Kamis, 25 Januari 1996. Munninghoff limbung lantaran sebagai pengemban tugas menjadi perantara atau mediator, harus bernegosiasi dengan lelaki di masa lalu pernah memperdalam ilmu kerohanian dengannya.

Mereka pun melepas rindu sekejap. Suasana cair mendadak berubah tegang ketika keduanya beralih membahas pokok pertemuan.

Kelly Kwalik mementahkan permintaan sang guru kerohaniannya untuk melepas sisa sandera secara cuma-cuma. “Kelly mengajukan tujuh tuntutan sebagai penukar sandera. Di antaranya program transmigrasi harus dihentikan, ABRI (TNI) ditarik dari Papua, agar PBB mengakui OPM, dan negara-negra Pasifik menunjukan solidaritasnya kepada OPM,” ungkap Munninghoff dikutip Gatra, 3 Februari 1996.

Bila perundingan semula besama Daniel Yudas Kogoya sudah agak melunak, kini kehadiran Kelly justru menjadi tanda pihak penculik kembali memasang kuda-kuda anti-negosiasi.

Tentu tuntutan Kelly di atas kertas terasa sangat muluk. Panglima ABRI (TNI) Jendral Feisal Tanjung telah menggariskan tak akan pernah ada konsesi politik terhadap gerombolan OPM. “Tak ada negosiasi dengan GPK (Gerakan Pengacau Keamanan, OPM),” kata Feisal Tanjung, dikutip Kompas, 18 Januari 1996.

Munninghoff sempat kecewa dengan keputusan sang murid. Dia, menurut salah seorang perwira tinggi di Wamena, dikutip Gatra, 3 Februari 1996, sempat berbicara dengan nada tinggi kepada sang murid mengenai aksi penculikan di Mapenduma. Mereka pun berdebat sengit.

Usaha negosiasi empat pemimpin gereja di Papua pun kandas. Munninghoff dan kolega menarik diri sebagai perantara lantaran permintaan sang murid dinilai tak masuk akal.

Di ujung kesepakatan negosiasi bersama sang panglima pelaksana, Daniel Yudas Kogoya, justru sang murid hadir untuk menggugurkan usaha sang guru. (*)



Yudi Anugrah Nugroho

LAINNYA DARI MERAH PUTIH