Operasi TNI Mapenduma (4), Diplomasi Rimba 4 Pemimpin Gereja Membebaskan Sandera Mapenduma Dua WNA sandera OPM berhasil diselamatkan pasukan Kopasus pada Operasi Mapenduma, Papua, 1996. (Gatra)

PIHAK Tentara Nasional Indonesia (TNI, dahulu ABRI) tak ingin buru-buru melakukan operasi militer untuk membebaskan 26 orang sandera di Desa Mapenduma, Kecamatan Tiom, Kabupaten Jayawijaya, Papua.

TNI tak menginginkan terjadi pertumpahan darah saat proses pembebasan sandera berlangsung. Siasat demi siasat pun dirangkai.

Di tengah otak-atik siasat, TNI menerima informasi berharga pihak penculik meminta jalan negosiasi. Daniel Yudas Kogoya, pemimpin kelompok bersenjata di Mapenduma, Jumat 12 Januari 1996, melakukan kontak radio dengan Keuskupan Jayapura, melalui Uskup Mgr. Herman Ferdinand Marie Munninghoff. Dia berpesan agar pemimpin-pemimpin gereja di Papua menjadi perantara negosiasi.

“Mereka meminta agar empat pemimpin gereja datang ke Mapenduma untuk berunding,” kata Munninghoff, 74 tahun, dikutip Gatra, 27 Januari 1996.

Koordinasi pihak gereja dan TNI pun menghasilkan siasat ‘Diplomasi Rimba’.

Empat pemimpin gereja, antara lain, Mgr. Ferdinand Marie Munninghoff (Uskup Jayapura), Pendeta Adrianus van der Bijl (Penginjil lama menetap di Mapenduma), Pendeta Yohanes Gobay (Ketua Wilayah Gereja Kemah Injil), dan Pendeta Paul Burchart (Ketua Misionaris Kristen Papua), berangkat bersama pasukan TNI menggunakan heli jenis Puma menuju Mapenduma.

Hubungan orang Papua dengan pihak gereja telah terjalin apik semenjak para misionaris asal Eropa, seperti JG Gessier melakukan missi zending pada 1854 di bumi Cendrawasih. Sejak itu, para penginjil menjadi sosok penting, tak sekadar berkaitan dengan masalah keimanan tapi juga perkara keseharian orang Papua.

Melalui koneksi tersebut, penggunaan tenaga para pemimpin gereja dimaksudkan agar para penculik bisa melemah dan mau membebaskan para sandera tanpa kontak senjata.

Setiba di Mapenduma, keempat pemimpin gereja langsung menerabas rimba belantara untuk bertemu Daniel Yudas Kogoya. Mereka bersemuka dengan dua tokoh kelompok bersenjata Mapenduma pada 08.00 WIT. Perbincangan berlangsung selama lebih kurang 4 jam. Para pemimpin gereja membagikan buat tangan, berupa obat-obatan, makanan, dan rokok, sebagai bagian rencana 'Dipomasi Rimba'.

Selama perbincangan, tak nampak batang hidung pemimpin Organisasi Papua Merdeka (OPM) Kelly Kwalik, disinyalir merupakan aktor sentral di balik aksi penculikan di Mapenduma. “Satu hal harus diingat, di sana itu tidak ada Kelly Kwalik,” tegas Munninghoff dikutip Kompas, 18 Januari 1996.

Munninghoff meminta Daniel Yudas Kogoya melepaskan seluruh sandera. Tapi, lelaki asal suku Nduga tersebut menolak mentah-mentah.

Pihak penculik memiliki permintaan khusus kepada pemerintah Republik Indonesia. “Jadi mereka tidak minta makanan, obat-obatan atau minta senjata. Tapi minta merdeka,” ujar Munninghoff.

Di ujung perundingan, Daniel Yudas Kogoya bersepakat melepas satu sandera, seorang peneliti WWF asal Jerman, Frank Momberg. Kendati bebas, Momberg beroleh tugas untuk ke kembali ke rimba membawa pesan militer.

Saat tiba di Wamena, meski merasa sanggup, Atase Pertahanan Kedutaan Jerman di Jakarta, Kolonel Ivar Hellberg, berkeberatan bila Momberg kembali masuk ke rimba Mapenduma.

Di sisi lain, melalui kontak radio, Daniel Yudas Kogoya pun tak lagi meminta kehadiran Momberg. Mereka lebih membutuhkan selimut ketimbang Momberg.

Rabu, 17 Januari 1996, sebuah heli jenis Bell milik perusahaan penerbangan Airfast mendarat di Mapenduma untuk memasok logistik berupa selimut, makanan, minuman, rokok, dan obat-obatan.

Dalam ‘Diplomasi Rimba’ tersebut, selimut nampak menjadi barang penting. Maklum, rimba Mapenduma berada di ketinggian 2.700 meter di atas permukaan laut. Temperatur di malam hari bisa berada di angka 4-5 derajat Celcius. Tentu, mereka sangat membutuhkan selimut.

Dua hari berselang, Jumat, 19 Januari 1996, para pemimpin gereja kembali bertandang ke Mapenduma. Kali ini giliran, Pendeta Adrianus van der Bijl dan Pendeta Paul Burchart. Pada pertemuan Jumat pagi itu, menurut seorang perwira TNI, dikutip Gatra, 27 Januari 1996, nampak Daniel Yudas Kogoya telah lebih lunak dan bersedia merundingkan tuntutannya dengan nada suara rendah.

Selain Momberg, kelompok Daniel Yudas Kogoya juga telah melepas Nyonya Ola Yakobus Wandikbo beserta sang buah hait, bayi berusai enam bulan, menyusul kemudian giliran sang suami, Yakobus Wandikbo, seorang tenaga lepas Kanwil Kehutanan Papua, ditempatkan di Mapenduma, dilepas pada tanggal 22 Januari 1996.

Tak heran bila Komandan Kopassus Brigadir Jendral Prabowo Subianto menatap isyarat tersebut sebagai titik cerah pembebasan sandera. “Saya optimistis. Ada harapan kasus ini bisa diselesaikan tanpa letusan bedil,” ungkapnya. (*)



Yudi Anugrah Nugroho

LAINNYA DARI MERAH PUTIH