Operasi TNI Mapenduma (2): Hari ke-4 Perburuan, TNI Bebaskan 9 Sandera Mapenduma Komandan Kopassus Brigjen Prabowo Subianto memimpin operasi pembebasan sandera Mapenduma, Papua. (pandanews)


SUASANA Markas Komando Distrik Militer Wamena, Papua, nampak ramai. Truk militer dan mobil kijang hijau hilir-mudik bongkar muat perkakas militer berbalut terpal dan plastik hitam. Sepasukan baret merah secara teratur mengisi barisan di antara pasukan berbaret hijau. Pasukan membengkak menjadi 400 personel.

Kondisi tak lazim juga terlihat di halaman belakang. Dua helikopter milik Penerbad bercokol di landasan. Di bagian lain, area serupa, terpancang antena parabola untuk menghubungkan seperangkat set telepon lapangan atau telepon satelit.

Kelak perangkat telepon itu digunakan Pangdam Trikora Mayor Jendral Dunidja D, bertindak sebagai panglima operasi, untuk melaporkan perkembangan situasi Mapenduma kepada otoritas tertinggi di Jakarta.

Desa Mapenduma, Kecamatan Tiom, Kabupaten Jayawijaya, Papua (Irian Jaya) menjadi perhatian serius pihak militer sejak tersiar kabar kelompok bersenjata pimpinan Daniel Yudas Kogoya, saya Organisasi Papua Merdeka (OPM) pimpinan Kelly Kwalik, menculik 26 orang, terdiri dari periset Tim Ekspedisi Lorent 1995, WWF, dan Unesco, serta para penduduk sekitar, pada 8 Januari 1996.

Sejak kabar penculikan tersiar, operasi gabungan melibatkan Batalyon 742 (Trkora), Kopassus dibantu Kostrad Yon 330, 328, dan 327 (Jawa Barat), Batalyon 514 (Brawijaya), Penerbad, dan TNI AU, menggunakan Markas Kodam Wamena sebagai markas operasi lantaran dekat dengan lokasi peculikan.

Selama operasi, Mayjen Dunidja beroleh bantuan khusus tiga perwira TNI; Komandan Kopassus Brigadir Jendral Prabowo Subianto, Direktur A Badan Intelijen TNI Brigadir Jendral Zacky Anwar, dan Wakil Asisten Operasi Angkatan Darat Brigadir Jendral Suadi Marasabessy. “Mereka bertugas mendampingi panglima operasi,” kata Kepala Pusat Penerangan TNI Brigadir Jendral Suwono Adiwijoyo, sebagaimana dikutip Gatra, 27 Januari 1996.

Perburuan terhadap kelompok bersenjata dilakukan dengan membagi pasukan ke dalam beberapa kelompok terpisah. Siasat tersebut dijalankan lantaran pihak musuh membelah diri memencar lokasi penyanderaan. Komandan operasi lantas menginstruksikan pasukan untuk menerapkan strategi ‘sekat’ untuk membatasi ruang gerak musuh.

Strategi tersebut membuahkan hasil. Sekelompok sempalan Daniel Yudas Kogoya terjepit. Pasukan TNI terus merangsek. Mereka berhasil membuat pasukan Kogoya lari tunggang-langgang, meninggalkan sembilan sandera, di Desa Jigi sekira 40 kilometer lokasi Mapenduma.

Pasukan TNI berhasil membebaskan sembilan sandera, masing-masing 4 petugas Puskesmas Pembantu Desa Mapenduma; Lewi Nesoreak, Marthafina Elopore, Naftali Wanimbo, Mathin Wiyangge, lalu 3 aparat desa Mapenduma; Alex Nurigi, Phylipus Wesairak, Isak Wesairak, dan 2 guru SD Mapenduma; Yanto Tabuni dan Temias Kogoya, sekira pukul 11.00 WIT, Jumat, 12 Januari 1996.

Upaya penyelamatan sandera tak berlangsug sulit, “Sebab para sandera cuma ditinggal begitu saja, dalam keadaan terikat. Karena kaget telah dikepung, mereka (GPK OPM) cepat-cepat lari ke hutan untuk bersembunyi. Sehingga dengan mudah saja kesembilan sandera ditinggal begitu saja oleh OPM, diselamatkan pasukan gabungan Kodam VIII/Trikora,” ungkap Kasdam VIII/Trikora Brigjen TNI Amir Syarifuddin, dikutip , Minggu, 14 Januari 1996.

Terdapat versi lain cerita pembebasan sembilan sandera. Kapuspen Brigjen TNI Suwarno Adiwijaya menampik cerita para sandera dilepaskan sehingga pasukan TNI dengan mudah mendaptkan sandera. “Mereka tidak dilepaskan, tapi dibebaskan oleh pasukan,” kata Brigjen Suwarno.

Seusai berhasil membebaskan 9 sandera, pentolan kelompok bernsejata di Mapendmua, Daniel Yudas Kogoya mengadakan kontak pertama melalui Keuskupan Jayapura.(*)



Yudi Anugrah Nugroho

LAINNYA DARI MERAH PUTIH