Operasi TNI Mapenduma (1): Detik-Detik Penculikan Tim Ekspedisi Lorentz 1995 Para peneliti Tim Ekspedisi Lorentz 1995, dan 3 peneliti WWF dan Unesco di Mapenduma, Papua. (garudamiliter)

EMPAT peneliti Biological Science Club (BScC) Universitas Nasional, Jakarta, Navy W Panekenan, Yosias Matheis Lasamahu, Jualita Maureen Tanasale, dan Adinda Arimbi Saraswati, bertolak menuju Papua.

Mereka akan bergabung dengan Markus Warib, Antropolog Universitas Cendrawasih, Jayapura, Papua, dan empat sarjana muda Jurusan Biologi Universtas Cambridge, Inggris, Daniel P Start, William Oates, Annette van der Kolk, dan Anna McIvor untuk melakukan penelitian tentang keanekaragaman hayati di Taman Nasional Lorentz, Papua.

Mereka menamakan diri Tim Ekspedisi Lorentz 1995. Penelitian di bakal Kebun Biologi Wamena, tempat hajat hidup masyarakat suku Dani, berlangsung sejak November 1995.

Selain Tim Ekspedisi Lorentz 1995, terdapat pula peneliti pasangan suami istri, Marco van der Wal dan Martha Klein asal Belanda dan Frank Momberg asal Jerman juga melakukan penelitian di Taman Nasional Lorentz. Momberg dan van der Wal bekerja untuk World Wildlife Fund (WWF), sementara Klein untuk Unesco.

Taman Nasional Lorentz, tulis Dr Benyamin Lumenta, peneliti Balitbang Depkes, Kompas, 29 Januari 1996, menjadi magnit para peneliti dalam dan luar negeri, terutama bioloog dan antropoloog, untuk penelitian ragam puspa dan satwa, serta kehidupan masyarakat suku Dani.

“Dalam hal mempersiapkan Kebun Biologi Wamena sebagai gerbang Timur Taman Nasional Lorentz, Pusat Penelitian Biologi LIPI mengembangkan teknologi pembudidayaan puspa dan satwa di dalamnya, tanpa melibatkan masyarakat suku Dani dalam proyek besar ini. Hal ini sama halnya sebagaimana para industriawan dan penambang bumi Irja (Irian Jaya, Papua kini),” tulis Lumenta.

Penetapan Gunung Lorentz sebagai Taman Nasional dan Wisata membuat masyarakat sekitar Mapenduma terpecah. Sebagian masyarakat dan aparat desa menyambut gembira penetepan tersebut karena dapat mengantrol pendapatan.

Sementara, di sisi lain, Daniel Yudas berlatar asal klan tokoh adat suku Nduga (subetnis suku Dani) dan memegang ijazah SD (capain pendidikan cukup tinggi bagi masyarakatnya), tak setuju dan menginginkan hajat hidupnya tak dijamah orang luar. Dia lantas memobilisasi dukungan dan berhasil beroleh 200 pengikut.

“Maka gerombolan Daiel Yudas yang dikenal telah dibina bangkotan OPM dari daerah Tembagapra, Kelly Kwalik, itu menyatakan ketidaksenangannya melihat munculnya Tim Ekspedisi Lorentz `95 di Desa Mapenduma,” dikutip Gatra, 27 Januari 1996 bertajuk “Bila Sandera di Tangan Preman Hutan”.

Kejengkelan Daniel semakin menjadi-jadi kala mendapati 3 peneliti WWF dan Unesco. Kemuncula keduanya seolah memberi pengesahan bagi penetapan status kawasan Lorentz sebagai Taman Hutan Wisata. “Maka ia memutuskan untuk menyerbu Desa Mapenduma”.

Seluruh peneliti acap menggunakan sebuah lokasi di Desa Mapenduma, Kecamatan Tiom, Kabupaten Jayawijaya, Papua (Irian Jaya) sebagai tempat melepas lelah.

Pada 8 Januari 1996, pondokan para peneliti sontak didatangi tamu tak dikenal. Di tengah istirahat, tiba-tiba muncul sekelompok orang membopong senjata M16. Mereka merangsek kemudian menodong senjata ke arah para peneliti.

Sementara di luar pondok, sebagian kelompok berpencar mendatangi dan menawan para penduduk Mapenduma. Sebanyak 26 tawanan, terdiri dari 13 peneliti dan 13 penduduk kemudian digelandang masuk rimba.

Tak berapa lama, kabar penculikan Tim Ekspedisi Lorentz 1995 oleh kelompok Organisasi Papua Merdeka (OP) pimpinan Kelly Kwalik tersiar bahkan merebut perhatian internasional lantaran terdapat enam WNA menjadi sandera.

Pemerintah Indonesia pun merespon dengan memerintahkan Panglima ABRI Feisal Tanjung untuk berperan aktif mengatasi penculikan di Mapenduma. (*)



Yudi Anugrah Nugroho

LAINNYA DARI MERAH PUTIH