Lingkungan
Omnibus Law Meningkatkan Eco-Anxiety Omnibus law mengancam hutan Indonesia, menimbulkan rasa khawatir dan takut pada pencinta lingkungan. (unsplash @elsatkw)

SUDAH khawatir terpapar selama pandemi COVID-19, UU cipta kerja Omnibus Law menambahkan kekhawatiran terhadap para pencinta lingkungan. Bryan salah satunya.

Bryan mengakui bahwa kekhawatirannya terhadap lingkungan atau disebut juga sebagai eco-anxiety sangat tinggi hingga menganggu kesehatan mentalnya dan rutinitas kesehariannya.

"Gue saking takutnya sampai pernah mikir gini, kalau krisis iklim semakin krisis, gue bakal ada masa depan gak ya? Terdengar lebay sih ya, tapi ini bener-bener concern utama gue saat ini," ucap Bryan.

Baca juga:

Peti Mati Ini 'Hidup' untuk Lingkungan

Baru menginjak umur 21 tahun, tentunya pemikiran Bryan itu cukup mengkhawatirkan. Usia yang dianggap masih muda, memiliki banyak waktu dan masa depan untuk berkembang, masa sudah nyerah dan mikir tidak akan ada masa depan?

Bryan bukanlah remaja satu-satunya yang berpikir seperti ini, laman VICE sempat melakukan sebuah studi yang menunjukkan bahwa banyak remaja saat ini merasakan eco-anxiety dengan meningkatnya isu lingkungan.

"Ada kalimat yang nempel sama gue, orang tua akan meninggal karena umur tua, tapi generasi muda akan meninggal karena krisis iklim," ucap Bryan.

Sudah memiliki kekhawatiran ini sejak lama, dengan adanya pandemi keparnoan Bryan meningkat. "Mana sejak pandemi polusi sampah meningkat, viral foto-foto masker bekas di pantai, mengganggu dan membunuh margasatwa. Bikin merasa aduh selama ini usaha dunia untuk mengurangi sampah jadi sia-sia. Sekarang, tambah lagi masalah baru karena Omnibus law. Jantung gue gak ada istirahat nih deg-degan terus," ucap Bryan dengan kesal.

View this post on Instagram

Apa hubungan Omnibus law dan Masa depan lingkungan kita? ???? Omnibus law atau RUU Cipta Kerja sedang ramai diperbincangkan di kanal berita dan media sosial. Pasal-pasal dalam RUU Cipta Kerja dinilai banyak merugikan para pekerja di Indonesia. Lalu, bagaimana dampak pengesahan RUU ini terhadap lingkungan? Kami mencoba merangkum informasi dari berbagai sumber tentang dampak yang diberikan RUU yang baru disahkan ini terhadap lingkungan. Ternyata, beberapa revisi berpotensi meningkatkan kerusakan hutan, lingkungan, dan membahayakan masyarakat. Swipe ke kiri yah untuk informasi selengkapnya. Kalau sebagian dari kita merasa omnibuslaw ini tidak berdampak pada hidup kita saat ini, mungkin saja akan berdampak pada masa depan kita, bahkan anak dan cucu kita nanti. Semoga kita bersama terus bisa mengawal perkembangan pengesahan RUU cipta kerja ini ya. Yuk cari tahu, supaya tahu dan jadi peduli, untuk Indonesia dan bumi yang lebih baik. Bagaimana dengan kamu? apakah kamu sudah mengikuti perkembangan terbaru soal RUU Cipta Kerja? #Omnibuslaw #RUUciptakerja #sustaination #environmentaljustice #uuciptakerja #ciptakerja #DPR

A post shared by Sustaination (@sustaination) on

Mungkin kamu berpikir kalau UU cipta kerja ini hanya akan berdampak kepada buruh, tidak juga. Kamu yang tidak peduli lingkungan, sepertinya harus mulai banyak membaca deh.

Dianggap akan sangat merugikan lingkungan. mengutip laman Reuters, investor global yang mengelola aset 4,1 triliun dolar telah memperingatkan pemerintah Indonesia, Omnibus Law dapat menimbulkan risiko baru bagi hutan tropis negara. Nantinya itu akan merusak tindakan global untuk mengatasi hilangnya keanekaragaman hayati dan memperlambat krisis iklim.

Bagaimana Omnibus law dapat merusak hutan Indonesia? Mengutip laman Sustination, pertama, dengan adanya perubahan atau penghapusan dalam peraturan, perolehan izin usaha di kawasan hutan dipermudah, termasuk kawasan hutan lindung.

Kedua, kewenangan dan pengambilan keputusan semakin terpusat ke pemerintah pusat, aktivis, pengamat, dan pemerhati lingkungan hidup tidak lagi dilibatkan dalam penyusunan AMDAL.

Ditambah lagi bahwa kebijakan luasan kawasan hutan minimal 30% hilang dalam UU Omnibus law. Walau tidak memiliki penjelasan jelas apa yang dimaksud dengan hilangnya kebijakan ini, aktivis khawatir ini berarti hutan Indonesia bisa dibabat seenak-enaknya. Semua ini meningkatkan potensi alih guna dan eksploitasi lahan yang berujung pada kerusakan hutan.

View this post on Instagram

Bukan cuma hak pekerja saja yang dihilangkan dalam UU Omnibus Law Cilaka, tapi juga hak kita untuk mendapat kualitas hidup yang baik dari keberadaan hutan Indonesia Presiden @jokowi menghapuskan ketentuan kewajiban mempertahankan hutan minimal 30% dalam UU Omnibus Law Cilaka yang disahkan @dpr_ri senin kemarin. Ketentuan yang sebelumnya ada pada UU Kehutanan yang dibuat pada era mantan Presiden BJ Habibie ini dihapus dan diserahkan pada tingkat yang lebih rendah yaitu Peraturan Pemerintah. Padahal tujuan penetapan 30% kawasan hutan ini karena melihat bahwa Indonesia sebagai negara dengan intensitas hujan yang tinggi, peka akan gangguan keseimbangan tata air seperti banjir hingga sedimentasi, maka ditetapkanlah luas kawasan hutan setiap pulau minimal 30% dari luas daratan di setiap daerah aliran sungai dan/atau pulau. Ketentuan ini juga membatasi daerah agar tidak sembarangan juga mengurangi luas kawasan hutan. UU Kehutanan menegaskan bahwa luas minimal tidak boleh dijadikan dalih untuk mengkonversi hutan yang ada karena pentingnya hutan bagi kualitas hidup masyarakat. Jadi seperti apa masa depan hutan Indonesia yang diinginkan Presiden @jokowi dan @dpr_ri dengan mencabut aturan ini? Apa hutan Indonesia mau dijadikan mebel dan kebun sawit semua kah? Yuk #TolakOmnibusLaw dan berikan #MosiTidakPercaya untuk selamatkan hutan kita.

A post shared by Greenpeace Indonesia (@greenpeaceid) on

Kenapa sih penting banget untuk menjaga hutan kita? Manusia bergantung pada hutan untuk banyak hal. Menurut WWF, kita bergantung pada hutan untuk kelangsungan hidup, dari udara yang kita hirup hingga kayu yang digunakan.

Hutan juga menyediakan habitat bagi 80% keanekaragaman hayati darat dunia dan sekitar 60 juta penduduk asli (indigenous people).

Mungkin kamu tidak peduli akan keberlangsungan hidup hewan, hutan juga menjadi salah satu mata pencaharian manusia, menyediakan pekerjaan bagi lebih dari 13 juta orang di seluruh dunia.

Hutan menawarkan perlindungan daerah aliran sungai, mencegah erosi tanah, dan mitigasi krisis iklim karena setelah lautan, hutan adalah gudang penyimpanan karbon terbesar di dunia. Sayangnya, tidak hanya di Indonesia, hutan-hutan di seluruh dunia cenderung tidak terjaga.

Baca juga:

Efek CO2, Pohon Cepat Tumbuh dan Mati Muda

Ditambah lagi, laman Science Focus menulis bahwa pepohonan juga menjaga tanah tetap basah, sejuk, dan membantu mendorong siklus air. Sebuah pohon besar dapat mendorong 150 ton air ke atmosfer setiap tahunnya yang kemudian jatuh kembali ke hutan sebagai hujan.

Tanpa pohon, tanah akan memanas dan mengering dan kayu mati pasti akan mengakibatkan kebakaran hutan yang sangat besar. Ini akan memenuhi langit dengan jelaga yang menghalangi matahari, menyebabkan gagal panen selama beberapa tahun dan menyebabkan kelaparan di seluruh dunia. Sudah seperti ciri-ciri kiamat ya?

Dari semua fakta di atas, bisa kita sadari bahwa rusak atau hilangnya hutan akan memperburuk krisis iklim, ini tidak hanya dirasakan oleh flora dan fauna, atau orang-orang yang tinggal di dekat hutan, tetapi kita semua. Sama seperti pandemi, krisis iklim merupakan isu global yang tidak boleh dianggap enteng.

Saat mendengar mengenai dampak Omnibus law terhadap lingkungan, Bryan mengekspreskan kekecewaannya terhadap negara ini dalam menangani isu lingkungan. "Kalau pohon bisa mengeluarkan wifi baru mau dijaga kali ya. Sepertinya banyak orang mikir kalau hutan dibabat tuh dampaknya ke binatang doang, faktanya kan tidak," ucap Bryan.

Omnibus Law Meningkatkan Eco-Anxiety
Bukan pajangan doang, hutan itu penuh manfaat dan akan berakibat fatal jika hilang. (unsplash/@imatbagjagumilar)

Kekecewaan ini meningkat karena Bryan sempat senang saat Indonesia menandatangani Paris Agreement to the United Nations Framework Convention on Climate Change. Sebuah perjanjian antara 197 negara untuk melawan krisis iklim dengan mengatur pengeluaran gas emisi karbon.

"Omong kosong saja sepertinya. Semua terlihat seperti formalitas, menjaga image, dan janji manis," ucap Bryan dengan kecewa.

Menurut Climate Action Tracker (CAT), emisi Indonesia tetap berada di jalur yang meningkat. Penurunan dari efek pandemi hanya sementara saja, CAT berpendapat bahwa Indonesia tampaknya akan kehilangan kesempatan untuk melakukan pengurangan emisi yang dalam saat sedang pulih dari pandemi.

Program Pemulihan Nasional pemerintah Indonesia tidak mendukung opsi rendah karbon, malah menjamin utilitas listrik berbobot batu bara. CAT mencap Indonesia sebagai "sangat tidak memadai".

Lalu bagaimana Bryan mengatasi eco-anxiety? Bryan mengatakan bahwa ia aktif beradvokasi dan berkampanye di media sosial untuk mengedukasi teman-temannya mengenai krisis iklim dan Omnibus law.

Ia juga mengajak pembaca MerahPutih.com untuk ikut bersuara dan advokasi untuk lingkungan. “Biasanya gen z cenderung advokasi isu sosial yang viral doang. Jarang banget tuh liat IG story temen-temen yang advokasi tentang lingkungan, padahal penting banget,” ucap Bryan. Melihat kekuatan petisi, Bryan juga aktif menandatangani petisi-petisi yang dibuat untuk menjaga lingkungan.

Bryan juga menyarankan untuk memperbanyak baca berita lingkungan yang bernada lebih positif. “Bukannya toxic positivity atau menghindari masalah ya, tapi baca artikel-artikel yang selain melaporkan masalah, juga mencantumkan solusi, inovasi-inovasi yang sudah ada untuk membantu lingkungan.”

Hal tersebut membantu Bryan untuk merasa hopeful bahwa masih ada orang baik diluar sana, masih ada harapan untuk mengatasi krisis iklim.

“Intinya gue berkontribusi sebisa mungkin yang bisa membantu lingkungan. Dari tanda tangan petisi, donasi, advokasi, hal-hal ini membuat gue merasa “i did something.” Daripada tidak berusaha sama sekali.” ucap Bryan.

Saat ditanya apakah ada pesan untuk orang lain yang mungkin memiliki tingkat eco-anxiety yang sangat tinggi seperti dirinya, Bryan meminta untuk tidak menyerah dulu karena solusi itu ada, dan banyak.

Krisis iklim bukanlah masalah yang tidak bisa kita hadapi. “Semua tergantung para pemimpin dunia, dan orang-orang yang berkuasa sekarang, apakah mereka mau beraksi demi bumi, atau tidak?” (lev)

Baca juga:

Terbukti, Milenial dan Gen Z Peduli Wujudkan Dunia Lebih Baik

LAINNYA DARI MERAH PUTIH
Fitur Fleet Resmi Dihapus dari Platform Twitter
Fun
Fitur Fleet Resmi Dihapus dari Platform Twitter

Penempatan Fleet identik dengan miliki Instagram Story yakni di tab bagian atas

Kolaborasi Navicula, Petra Sihombing dan Iga Massardi untuk Masyarakat Bali yang Terdampak Pandemi
Fun
Kolaborasi Navicula, Petra Sihombing dan Iga Massardi untuk Masyarakat Bali yang Terdampak Pandemi

kolaborasi Navicula, Petra Sihombing, dan Iga Massardi demi kemanusiaan

Pelan-Pelan Saja, Sarapan Terburu-buru tak Baik buat Tubuh
Hiburan & Gaya Hidup
Pelan-Pelan Saja, Sarapan Terburu-buru tak Baik buat Tubuh

Sempatkan waktu khusus dengan cara bangun lebih pagi.

4 Cara Efektif Pamer Tato Baru Pas Halalbihalal di Tongkrongan
Hiburan & Gaya Hidup
4 Cara Efektif Pamer Tato Baru Pas Halalbihalal di Tongkrongan

Tidak hanya pamer bojo, pamer tato juga menjadi hal penting bagi sebagian orang

Penjualan Data Pribadi di Pasar Gelap Marak, Masyarakat Khawatir
Hiburan & Gaya Hidup
 Tips Mengenali Tanda Ketidakcocokan Perawatan Wajah
Fun
Tips Mengenali Tanda Ketidakcocokan Perawatan Wajah

Ketika memilih produk untuk perawatan wajah tak melulu seseorang cocok dengan sebuah produk. Karena itu, jangan sembarangan dalam memilih produk dan kenali tanda-tanda ketidakcocokan.

‘Pemanasan’ Karaoke di Synchronize Fest 2020 dengan OOMLEO
ShowBiz
‘Pemanasan’ Karaoke di Synchronize Fest 2020 dengan OOMLEO

OOMLEO tampil dan berkolaborasi dengan beberapa artis sambil berkaroke.

Bukan Masalah Utama, Burnout hanya Penyampai Pesan
Hiburan & Gaya Hidup
Bukan Masalah Utama, Burnout hanya Penyampai Pesan

Mengingatkan kamu untuk mengubah situasi yang buruk.

Gara-Gara TikTok, Lagu Lama Paramitha Rusady Jadi Viral
ShowBiz
Gara-Gara TikTok, Lagu Lama Paramitha Rusady Jadi Viral

Kembali populer setelah 33 tahun sejak dirilis pertama kali.

Ragam Tipe Anak Ekskul Ketika Ngilmu di Negeri Aing Masih Tatap Muka
Hiburan & Gaya Hidup
Ragam Tipe Anak Ekskul Ketika Ngilmu di Negeri Aing Masih Tatap Muka

Mengenal ragam tipe anak ekskul saat ngilmu di Negeri Aing