Oknum Dosen IPB Panggil Juru Rakit Bom dari Papua, Diongkosi Rp 8 Juta Ilustrasi bom molotov. (ANTARA News)

MerahPutih.com - Oknum dosen Institut Pertanian Bogor (IPB) Abdul Basith ternyata tidak membuat bom ikan sendiri. Dia ternyata membayar orang lain untuk itu.

Bom tersebut diduga bakal ia gunakan saat pelantikan Presiden 20 Oktober nanti. Hal ini terungkap setelah hasil pemeriksaan terhadap barang bukti keluar atau rampung. Di mana diketahui ada puluhan bom yang disita polisi sebagai barang bukti. Barang bukti ada di Polda Metro Jaya.

Baca Juga:

Oknum Dosen IPB Siapkan Bom Ikan Berisi Paku

"Mendatangkan ahli pembuat bom ikan yang di dalamnya ada pakunya," kata Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya Kombes (Po) Argo Yuwono di kantornya, Kamis (3/10).

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono (Foto: antaranews)
Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono (Foto: antaranews)

Si pembuat bom ikan ini bahkan didatangkan jauh-jauh dari luar Ibu Kota. Meski begitu, tak dirinci siapa sosok tersebut. Setelah sepakat dengan harga, Abdul membiayainya datang ke Jakarta. Abdul membayarnya sebesar Rp8 juta.

"Dari Papua dan dari Ambon. Dibiayai tiketnya. Dana yang diberikan Rp8 juta yang diberikan," katanya lagi.

Lebih lanjut Argo mengatakan, sejauh ini dari pemeriksaan Abdul dan sembilan tersangka lain memang ada pertemuan dulu sebelum mereka merencanakan aksi sabotase Mujahid 212 pada 28 September 2019 lalu. Polisi masih mencari tahu berapa kali pertemuan dilakukan dan di mana saja pertemuan itu dilangsungkan.

Baca Juga:

Kuasa Hukum Oknum Dosen IPB Ungkap Pendana Besar Hendak Kacaukan Pelantikan Jokowi

"Jadi kita akan memeriksa juga ada di mana pertemuannya, dengan siapa dia bertemu, agendanya apa. Kemudian akan kita tanyakan semuanya, satu per satu peran daripada para tersangka yang sudah dilakukan penahanan ini, apa perannya. Misalnya ada yang menyuruh dan mendanai nanti akan kita tanyai satu per satu," ujarnya menyudahi.

Sebelumnya, polisi telah menetapkan Abdul Basith sebagai tersangka karena diduga merencanakan demo rusuh dengan menyiapkan bahan-bahan peledak. Abdul Basith ditangkap di Tangerang bersama sejumlah orang oleh tim Polda Metro Jaya dan Densus 88 sekitar Sabtu dini hari, 28 September 2019.

Ilustrasi bom molotov. (ANTARA News)
Abdul Basith sebagai tersangka karena diduga merencanakan demo rusuh dengan menyiapkan bahan-bahan peledak. (ANTARA News)

Mereka, oleh polisi, dijerat dengan sejumlah pasal, salah satunya Pasal 1 ayat (1) UU Darurat Nomor 12 Tahun 1951 atas tindak pidana membuat, menguasai, membawa, menyimpan, mengangkut, menyerahkan dan atau berusaha menyerahkan bahan peledak.

"Undang-Undang Darurat, KUHP 169, ada beberapa pasal yang diterapkan di sini sesuai dengan perbuatan masing-masing di sini cukup banyak, baik pasal KUHP maupun pasal-pasal terkait menyangkut masalah Undang-Undang Darurat kepemilikan terhadap bahan peledak," kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen (Pol) Dedi Prasetyo. (Knu)

Baca Juga:

Dosen IPB Bikin Bom Molotov, Menristekdikti Akui Kampus Masih Terpapar Paham Radikal

LAINNYA DARI MERAH PUTIH
35 BTS Bakal Dipasang di Pulau Terluar Malut
Indonesia
35 BTS Bakal Dipasang di Pulau Terluar Malut

Pembangunan BTS dan akses internet di 35 lokasi akan disebar kepada desa yang belum memiliki akses.

Repatriasi 155 ABK dari Tiongkok, LPSK Siap Beri Perlindungan
Indonesia
Repatriasi 155 ABK dari Tiongkok, LPSK Siap Beri Perlindungan

"Pemeriksaan dimaksudkan untuk memastikan apakah para ABK menjadi korban praktik Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) atau tidak," kata Wakil Ketua LPSK, Antonius Wibowo

Pemerintah Buka Wacana Terapkan Sertifikat Bebas Corona
Indonesia
Pemerintah Buka Wacana Terapkan Sertifikat Bebas Corona

Pemerintah telah menyiagakan 135 rumah sakit

Ada Perawatan Wesel KRL, TransJakarta Tambah Armada di Stasiun Manggarai
Indonesia
Ada Perawatan Wesel KRL, TransJakarta Tambah Armada di Stasiun Manggarai

penambahan jumlah armada ini akan diberlakukan pada jam sibuk sehingga masa tunggu menjangkau frekuensi per 5 menit interval kedatangan.

Ketua GOIB Diperiksa Polisi karena Diduga Pasang Spanduk Penolakan Bioskop XXI
Indonesia
Ketua GOIB Diperiksa Polisi karena Diduga Pasang Spanduk Penolakan Bioskop XXI

Ketua GOIB H Andy M Shaleh pun dimintai keterangan oleh pihak kepolisian terkait pemasangan spanduk penolakan bioskop.

Revisi Aturan Kartu Prakerja Bisa Tekan Penyelewengan
Indonesia
Revisi Aturan Kartu Prakerja Bisa Tekan Penyelewengan

Revisi aturan diharapkan menghasilkan peserta yang jujur sesuai dengan kondisi yakni pekerja dirumahkan atau terkena pemutusan hubungan kerja (PHK).

Pimpinan DPRD DKI Sarankan Pedagang Pasar Tes COVID-19 Seminggu Sekali
Indonesia
Pimpinan DPRD DKI Sarankan Pedagang Pasar Tes COVID-19 Seminggu Sekali

Ia pun setuju dengan kebijakan Pasar Jaya yang akan menutup sementara pasar di Jakarta yang pedagangnya terkonfirmasi terpapar corona.

Diperiksa Propam Terkait 'Surat Sakti' Djoko Tjandra, Brigjen Prasetijo Utomo Terancam Dipecat
Indonesia
Diperiksa Propam Terkait 'Surat Sakti' Djoko Tjandra, Brigjen Prasetijo Utomo Terancam Dipecat

Karopenmas Polri Irjen Argo Yuwono mengakui, surat jalan tersebut ditandantangani oleh Brigjen Prasetyo Utomo

Denda Progresif Menanti Pelanggar PSBB
Indonesia
Denda Progresif Menanti Pelanggar PSBB

Saat ini aturan tertulis tentang sanksi denda progresif sedang disusun dan dimatangkan Biro Hukum Pemprov DKI.

Cerita Prabowo Soal Masa Awal Gerindra Didirikan
Indonesia
Cerita Prabowo Soal Masa Awal Gerindra Didirikan

Prabowo menyebut Gerindra tersebut sering diejek dan tidak diperhitungkan dalam perpolitikan nasional.