"Nyadran" Upacara Tradisional Orang Jawa yang Mulai Tersisih Upacara "Nyadran" di daerah Semarang (FOTO/Antara)

Untuk masyarakat Jawa, kata "Nyadran" mungkin sudah sangat sering mendengar. Karena "Nyadran" merupakan bagian dari budaya warisan nenek moyang orang Jawa, terutama Jawa Tengah dan Yogyakarta.

"Nyadran" sendiri berasal dari bahasa Sansekerta, yaitu "Sraddha" yang artinya keyakinan. Implementasi "Nyadran" sendiri adalah serangkaian upacara yang dilakukan oleh masyarakat Jawa, terutama masyarakat pedesaan dalam membersihkan makam leluhur, tabur bunga, yang diakhiri dengan upacara kencuri selamatan, atau bancakan.

Upacara "Nyadran" ini biasanya dilkaukan pada saat menjelang bulan puasa, atau bulan suci Ramadhan. Kalau dalam hitungan Jawa, adalah bulan Ruwah. Di beberapa daerah di Jawa Tengah, upacara "Nyadran" ini dilaksanakan dengan cara yang berbeda-beda, terutama dalam penyajian menu yang akan dijadikan untuk upacara kendurian.

Di daerah Banyumas, "Nyadran" atau "Sadranan" ini biasanya menyajikan menu tradisional ayam pindang bumbu kluwek. Sedangkan untuk daerah Yogyakarta, dalam upacara "Nyadran" ini biasanya kendurian menggunakan ayam ingkungan.

Berbeda dengan di daerah Semarang dan sekitarnya. Upacara "Nyadran" dilakukan sebagai bentuk rasa syukur warga terhadap keberadaan sumber mata air yang banyak bermanfaat.

Saat ini, upacara nyadran ini sudah mulai sepi, dan hanya dilakukan oleh sebagian masyarakat Jawa. Untuk tetap melestarikan budaya kearifan lokal yang sudah turun-temurun dari zaman nenek moyang, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Semarang mengemas acara ini sebagai bagian dari promosi pariwisata di daerah tersebut.

Untuk memberkan daya tarik kepada wisatawan, upacara "Nyadran" ini dibarengi dengan acara kirab, lalu menuangkan air ke sawah.

Untuk mengikuti artikel lainnya, baca juga: Kebesaran, Tarian Perang Suku Minahasa Yang Melegenda



Widi Hatmoko