Novel "Anak Rantau" Dibajak Sebelum Dijual di Toko Buku, Bikin Miris Ya? Ahmad Fuadi. (Foto: Facebook/Ahmad Fuadi)

PEMBAJAKAN tak ada habisnya. Kali ini, penulis Ahmad Fuadi yang jadi sasaran. Novel terbaru penulis yang namanya melejit lewat "Negeri 5 Menara" itu ternyata sudah ada yang membajak. Padahal, novel berjudul "Anak Rantau" tersebut baru dipasarkan secara online, belum masuk ke toko buku.

Novel bajakan itu dijual di sejumlah toko online dengan harga jauh di bawah harga aslinya. Harga novel "Anak Rantau" asli Rp 90 ribu, sementara bajakannya dibanderol Rp 26 ribu.

Lantas, apa bedanya novel bajakan dengan asli? "Di gambarnya, kalau lihat fisik bukunya, itu ada teksturnya seperti kanvas. Kalau kita lihat di fotonya, itu kok mulus sekali. Jadi kayaknya sudah dibajak," terang Fuadi.

Meski tahu novel karyanya telah dibajak, Fuadi tak risau. "Kita syukuri saja. Kalau orang sampai berusaha membajak, berarti banyak yang cari," ujarnya.

"Anak Rantau" bukanlah novel pertama Fuadi yang dibajak. Tiga buku sebelumnya, trilogi "Negeri 5 Menara" versi bajakan bahkan banyak dijajakan di pinggir jalan. Mirisnya, ia sendiri pernah ditawari novel bajakan tersebut.

"Kemarin, yang lucunya, waktu saya pulang kampung ke Bukittinggi," kisahnya.

Di pasar Bukittinggi, ada pedagang yang menawarinya novel sembari berkata, "Ini buku bagus." Begitu Fuadi lihat, ternyata buku tersebut novel karyanya yang telah dibajak. Ia menceritakan kejadian itu sembari tertawa.

Problem menahun

Pembajakan telah menjadi problem menahun di Tanah Air. Meski banyak pihak yang telah mengampanyekan ajakan untuk tidak membajak dan membeli barang bajakan, kasus pembajakan terus terjadi hingga sekarang.

Awalnya Fuadi merasa kesal dengan ulah para pembajak. Ia dan penerbitnya juga sempat melaporkan kasus pembajakan novel karyanya kepada pihak berwajib. "Mereka sudah berhasil menemukan tempat percetakannya, tapi kemudian proses hukumnya enggak jalan. Jadi kemudian orangnya membajak lagi," ujarnya.

Lama kelamaan, Fuadi membuang jauh-jauh rasa kesal tersebut. Kini ia malah mendoakan para pembajak dan pembaca yang mendapat manfaat dari novel bajakan yang mereka baca.

Miris, ya? (*)

Sumber: ANTARA

Kasus pembajakan di Indonesia mirip bajaj dan motor. Kok bisa? Dapatkan jawabannya pada artikel Trio GAC : Pembajakan Itu Fakta Yang Lumrah.



Rina Garmina

LAINNYA DARI MERAH PUTIH