Nilai anak Jeblok di Sekolah? Mungkin Mereka Mengidap 'Learning Disorder' Anak bisa mengalami gangguan belajar (Foto: Pexes/Pixabay)

JANGAN langsung memarahi anak jika nilainya jeblok di sekolah. Bukan, tidak selalu nilai mereka jeblok karena malas belajar. Bisa jadi si kecil memang mengalami kelainan gangguan belajar atau disebut learning disorder.

Dilansir dari healthline.com, Monica Mandell, Pekerja sosial dan Advokat Pendidikan dari MLM Advocacy, menjelaskan learning disorder merupakan gangguan yang bisa mempengaruhi proses belajar, baik itu menulis, membaca, hingga berhitung.

Learning disorder atau gangguan belajar yang biasanya dialami oleh anak-anak ini seringkali diremehkan oleh orang lain. Hal ini membuat anak yang mengalami gangguan tersebut merasa tertekan.

Baca juga:

Es Krim, Santapan Penunjang Kesehatan Mental Anak, Sajikanlah di Pagi Hari

Belum lagi, guru, teman sebayanya, maupun orang tua berkespektasi tinggi terhadap mereka. Jika dibiarkan terus, si kecil bisa mengalami stres bahkan depresi.

Menurut Jessi Myszak, PhD, seorang psikolog anak dan direktur dari The Help and Healing Center asal Illinois, Amerika Serikat mengatakan bahwa ada tiga learning disorder yang paling umum dialami, yaitu dyslexia, dysgraphia, dan dyscalculia.

Berikut ulasan lengkapnya:

1. Dyslexia

80-90% anak yang mengalami gangguan belajar mengalami dyslexia (Foto: Pexels/Pixabay)

Dyslexia menjadi jenis learning disorder yang paling umum. Dilansir dari Health Line, dari semua orang yang memiliki gangguan belajar, 80-90%nya mengidap dyslexia.

Laman Mayoclinic.org menyatakan dyslexia merupakan salah satu learning disorder yang melibatkan gejala kesulitan membaca. Kesulitan membaca tersebut dipicu dengan kesulitan mengidentifikasi suara ucapan dan bagaimana menyambungkannya ke huruf atau kata-kata.

Dyslexia mempengaruhi area otak yang memproses bahasa. Orang yang mengidap dyslexia biasanya memiliki intelegensi dan penglihatan yang normal.

Ciri-ciri pengidap dyslexia bagi anak yang belum sekolah biasanya adalah terlambat atau sulit berbicara, lamban dalam mempelajari kata baru, kesulitan merangkai kalimat, serta sulit mengingat bentuk huruf, angka, serta warna.

Untuk anak yang sudah bersekolah, gejala dyslexia-nya juga berubah. Biasanya mereka kesulitan membaca dibanding teman-teman sebayanya. Kemudian, ia juga merasa kesulitan memproses dan memahami pembicaraan orang,

Ciri dyslexia lainnya di usia sekolah ialah sulit mencari kata-kata untuk menjawab pertanyaan serta memberikan pertanyaan, sulit mengucapkan kata yang tidak familiar, kesulitan mengeja, serta berusaha menghindari aktivitas yang menyangkut membaca.

Baca juga:

Hati-Hati, Cara Didik Orangtua Bisa Berpotensi Gangguan Jiwa Pada Anak

2. Dysgraphia

Mengganggu kemampuan menulis (Foto: Pexels/Pixabay)

Dysgraphia merupakan gangguan pembelajaran yang mempengaruhi kemampuan menulis. Gejala yang dialami biasanya tulisan yang jelek, sulit merangkai kalimat dan mengekspresikan sesuatu di atar kertas, serta kesulitan mencari penggunaan bahasa yang tepat.

Dilansir dari ldonline.org, menulis membutuhkan keterampilan motorik serta kemampuan memproses informasi yang sulit dan kompleks. Gejala-gejala ini biasanya ditandai dengan cara menggenggam alat tulis secara berbeda, cepat letih ketika menulis, menulis sambil mengucapkan kata yang ingin ditulis, serta menulis dengan grammar yang kacau.

3. Dyscalculia

Sulit memahami angka (Foto: Pexels/Magda Ehlers)

Ini merupakan kesulitan memahami apapun yang berkaitan dengan angka seperti menghitung dan menghafal angka. Dilansir dari Learning Disabilites Associaton of America, tanda-tanda orang yang memiliki dyscalculia adalah mereka yang tidak pandai berhitung, sulit memahami konsep yang berkaitan dengan hari, minggu, bulan, musim, dan lain-lain.

Nah, sahabat Merah Putih, jangan langsung menyalahkan anak kalau nilainya jeblok ya. (shn)

Baca juga:

Anak Susah Tidur, Salahkan Orangtua


Tags Artikel Ini

Ikhsan Digdo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH