Niat Hati Mengitimidasi Perwira Inggris, Deru Tank Arek Surabaya Malah Mengganggu Soekarno Pasukan Inggris di Surabaya. (imperial war museum london).

PERUNDINGAN hari pertama ditunda. Meski, Soekarno dan Mallaby bersepakat menghentikan tembak-menembak, berkait pamflet ultimatum masih harus menunggu kedatangan Panglima Divisi ke-23 Jendral Mayor DC Hawthorn.

Esok hari, 30 Oktober 1945, Hawtorn sudah nampak hadir di gedung Gubernuran bersama Brigjen Mallaby, Kolonel Pugh, dan para perwira tinggi lainnya. Di pihak republik, Soekarno didampingi M Hatta, Menteri Penerangan Amir Syarifuddin, dan seluruh tokoh badan perjuangan Surabaya.

“Kali ini perundingan dapat dikatakan bersifat tingkat tinggi,” ujar salah satu pengunjung, Roeslan Abdulgani pada Seratus Hari di Surabaya Yang Menggemparkan Indonesia.

Abdulgani menyaksikan detik-detik perundingan. Tokoh-tokoh Surabaya tak lagi sungkan mengungkapkan kekesalannya kepada pihak Inggris. Perundingan siang hari di lantai dua gedung Gubernuran berlangsung panas dan sering keluar kata-kata kasar. “Bung Karno dan Bung Hatta sering menengahi,” ungkapnya.

Di tengah ketegangan, Abdulgani keluar ruangan untuk memantau kondisi di luar gedung. Dia melewati penjagaan super ketat. Keadaan di luar justru tak kalah panas. Meriam-meriam kapal perang Inggris di pelabuhan terus memuntahkan dentuman. Tidak jelas sasarannya.

Arek-arek Surboyo, seturut Abdulgani, tersadar mungkin dentuman itu merupakan bentuk intimdasi. Mereka pun tak mau kalah.

Pihak TKR kemudian berinisiatif menggunakan tank hasil rampasan untuk mengintimidasi. Tank berputar-putar di gedung Gubernuran. Deru suara tank sangat bergemuruh, apalagi karena sering maju-mundur. “Maklum pengemudi-pengemudinya belum berpengalaman!”.

Bukannya mengintimidasi para perwira Inggris, Bung Karno, Bung Hatta, dan Amir Syarifuddin berkali-kali meminta agar tank-tank tersebut berhenti.

“Saya dan teman-teman di ambang pintu tidak dapat menahan senyum,” ujar Abdulgani. Dia pun diminta untuk meneruskan pesan tersebut kepada para pejuang Surabaya.

Yok opo rek! Sing gemeter dadakan dudu Inggrise. Tapi panggede-panggede dhewe teka Jakarta. (Gimana, yang gemetar dadakan bukan Inggrisnya. Tapi pembesar-pembesar sendiri dari Jakarta)”.

“Jadi, bagaimana... Berhenti atau tidak,” tanya pengemudi.

Saiki mandhega sediluk wae. Tapi engkuk terusna maneh.... (Sekarang berhenti sebentar. Tapi nanti teruskan lagi),” pinta Abdulgani.

Di dalam gedung, kedua pihak mencapai kata sepakat. Ultimatum dicabut dan pelucutan senjata pejuang Surabaya batal. Tentara Sekutu tidak akan campur tangan masalah keamanan Surabaya. Semua tentara Sekutu ditarik kembali dan ditempatkan di kamp-kamp tawanan Darmo dan Tanjung Perak. Hubungan TKR dan Polisi terus berlangsung melalui petugas penghubung.

Tak lama, pesan penghentian tembak-menembak dikumandangkan Bung Tomo melalui Radio Pemberontakan, karena kantor RRI Surabaya ludes terkabar. (*)



Yudi Anugrah Nugroho

LAINNYA DARI MERAH PUTIH