Ngerokok dan Ngopi Jiwa Raga Chrisye Chrisye sedang asyik merokok di sebuah sudut ruangan. (Foto; dokumentasi keluarga)

CHRISYE mengendap-endap setengah berjingkat mundur meninggalkan barisan. Dia celingukan memantau situasi. Menanti peluang. Begitu melihat guru-guru PSKD makin khidmat, langkahnya bergerak cepat melesat menjauhi lokasi upacara bendera.

Setiba di kantin, Chrisye bersandaran di salah satu sudut menyeka keringat. Dia mengeluarkan sebatang rokok. Menyulut api, lalu asap mulai mengepul. “Merokok juga saya lakukan di sekolah ini,” ungkapnya seperti dikutip Alberthiene Endah pada Chrisye Sebuah Memoar Musikal.

Di antara kepulan asap, samar-samar dia melihat sosok seorang pria. Saat asap menghilang, semakin jelas siapa si empunya badan, pengajar super galak, Pak Soplanit, Kepala Sekolah PSKD. Dia tak berkutik kepegok merokok di sekolah. “Saya mematikan rokok dengan lemas,” kenangnya.

Hukuman paling berat sudah menunggu. Chrisye beridri di hadapan semua siswa dengan mulut agak menganga. Pak Soplanit dengan tenang kemudian memasukan delapan batang rokok menyala. “Nah, isap sampai puas. Enak, kan!” kata Pak Soplanit. Para siswa pun ramai menyoraki.

Rokok seakan jadi teman hidupnya sejak remaja setelah musik. Sepulang sekolah, sesampainya di kedai penjual kue putu di Jalan Penataran, Menteng, tempat nongkrongnya, sebatang demi sebatang rokok sambung menyambung menemai perbincangannya.

“Chrisye rokoknya Dunhill merah. Dia punya slop-slopan di rumah. Rokoknya kuat banget. Begitu abis sambung lagi,” ungkap Dinan, teman karib satu tongkrongannya, kepada merahputih.com. Bersama Geng Kue Putu, Chrisye senantiasa bercengkrama sembari merokok, cemil kue putu, dan ngopi.

Kalau rokoknya habis, menurut Dinan, biasanya Chrisye akan pergi bersamanya ke salah satu toko di kawasan Menteng. Belanjaannya selalu dibawa pulang ke rumah secara sembunyi-sembunyi. Dari seslop, Chrisye biasanya ambil satu atau dua bungkus untuk teman nongkrong. “Ngerokok dan ngopi tuh emang kedemenan dia banget. Malah jangan sampe diganggu kalo lagi begitu,” ungkap Dinan.

Sungguh ngerokok dan ngopi seperti sebuah keintiman baginya. Dia tak ingin saat-saat itu terganggu. Ketika mengikat kontrak dengan perusahaan rekaman Musica Studio, Chrisye punya satu permintaan maha penting, bisa merokok di dalam studio. “Saya tidak bisa melarang. Justru rokok itu seperti nyawanya dalam proses bermusik. Jadi, cuma Chrisye, artis di Musica boleh merokok di studio. Lainnya dilarang keras,” ungkap Sendjaja Widjaja atau Achiu, Bos Musica 1973-1996, kepada merahputih.com.

Chrisye sangat gemar rokok asal Inggris, Benson and Hedges warna hijau. Saat melancong ke luar negeri, biasanya Achiu membawa rokok tersebut sebagai buah tangan khusus untuk Chrisye.

Selama bekerja sama dengan Musica, nampaknya boleh merokok di semua area jadi previlegenya. Bahkan, semua orang Musica pun tahu Chrisye identik dengan rokok dan kopi. Ketika mobil Musica menjemputnya untuk datang ke studio, pergi ke acara-acara televisi, maupun tour ke luar kota, permintaannya pun masih sama, bisa merokok di dalam mobil. “Bukan minta mobil bagus atau mewah. Yang penting Mas Chrisye bisa ngerokok. Mobilnya kotor di dalam juga cuek,” kenang Herawan, supir Musica Studio kepada merahputih.com.

Lantaran sering mengantar pergi, Herawan jadi semakin dekat dengan Chrisye. Di mobil, menurut Herawan, biasanya dia meminta agar mengedarai mobil dengan kecepatan rendah supaya lebih enak merokok.

Berbicara enaknya mengisap rokok, Chrisye punya cara khusus. Dia pun memberi rahasianya itu kepada Herawan. “Kalau bangun tidur, lo jangan langsung mandi. Duduk dulu trus langsung ngerokok sambil ngopi. Rasanya jadi enak betul, Wan,” kata Herawan menirukan Chrisye. Ajaran itu kemudian dipraktikannya. “Ternyata enak. Dan sampai sekarang masih saya lakukan”.

Di tengah jadwal pekerjaan bermusik nan padat, terkadang sebuah peristiwa bisa membuat moodnya jadi jelek. Bila wajahnya sudah ditekuk, menurut Hendra Widjaja alias Akong, asistennya, rokok dan kopi sudah cukup untuk membuat pribadinya kembali ceria. “Itu udah tugas kami. Kalau udah begitu, buru-buru saya ajak keluar, ngerokok dan ngopi. Enggak lama, badmoodnya pasti ilang” kata Akong.

Chrisye, lanjut Akong, untuk urusan rokok memang sangat senang pada satu produk, tapi kalau ngopi enggak harus kopi-kopi mahal keluaran coffee shop. “Dia senang Coffeemix atau Kapal Api kalau kopi hitam. Bahkan, sangat sering ngopi di warung pinggir jalan. Enggak ada masalah,” ucapnya.

Pernah kejadian fatal terjadi ketika Chrisye dipisahkan dari kegiatan ngerokoknya jelang persiapan konser ‘Sendiri’ tahun 1994. Konser tersebut mengharsukan Chrisye menyanyi selama lebih kurang 2 jam sembari menari di beberapa lagu. “Stop rokoknya,” ungkap Jay Subiakto, kala itu berperan sebagai art director. Dia meminta Chrisye berhenti merokok dan rajin berolahraga untuk menjaga stamina.

Saat malam terakhir geladi resik, seluruh pendukung konser, termasuk Erwin Gutawa dan Jay Subiakto, terkaget-kaget kebingungan ketika Chrisye tak bisa mengeluarkan suara. “Suara saya hilang. Sungguh-sungguh hilang,” imbuh Chrisye. Mereka kelimpungan.

Erwin memintanya istirahat. Semua obat-obatan dikerahkan. Istrinya, Damyanti Noor, membuatkan resep tradisional campuran kecap dan jeruk nipis. Sampai tengah malam suaranya belum juga terdengar.

“Ajaib! Pagi-pagi saya terbangung dengan suara kembali jernih. Saya mencoba bernyanyi. Lancar,”. (*)



Yudi Anugrah Nugroho

LAINNYA DARI MERAH PUTIH