Ngayogjazz 2019 Mengenang Djaduk Ngayogjazz 2019 untuk mengenang Djaduk Ferianto. (Foto: MP/Teresa Ika)

KEMBALI Ngayogjazz digelar kali ini diadakan di Dusun Kwagon, Desa Sidorejo, Kecamatan Godean, Kabupaten Sleman DIY pada Sabtu 17 November 2019. Tujuh panggung digelar sebagai tempat para musisi dan seniman pamer kebolehan. Tak hanya musisi jazz lokal, Ngayogjazz 2019 turut dimeriahkan sejumlah musisi jazz international.

Mengambil tema Satu Nusa, Satu Jazznya Ngayogjazz masih bertahan dengan konsep nonton jazz apik ala wong ndeso. Namun, suasana duka terselip diantara kemeriahan konser musik Ngayogjazz 2019. Pelaksanaan Ngayogjazz kali ini terasa tak lengkap tanpa Djaduk Ferianto. Seluruh pengisi acara dan panitia pun mempersembahkan penampilan dan karya spesial untuk almarhum.

Baca Juga:

Tahun ini, Djaduk Ferianto 'Dipaksa' Tidur Jelang Ngayogjazz

ngayogjazz
Frau Leilani Hermiasih membawakan lagu Nderek Dewi Mari. (Foto: MP/Teresa Ika)

Dimulai dari pawai pembukaan acara, warga Kwagon melakukan kirab budaya dari pintu masuk acara menunju pintu keluar. Beberapa peserta kirab membawakan benda yang mengingatkan pengunjung pada sosok musisi legenda ini. Lukisan karikatur berwajah Djaduk dipegang dengan hati-hati oleh peserta kirab yang menggunakan pakaian adat Jawa.

Memori pengunjung pada maestro musik fenomenal ini agaknya tak akan lekang oleh waktu. Satu persatu musisi turut mengungkapkan kenangan mereka atas sosok mendiang Djaduk. Frau Leilani Hermiasih sempat mengungkapkan kesedihannya kehilangan sosok idolanya.

ngayogjazz
Ngayogjazz 2019 tetap membawa semangat orang desa menikmati musik jazz. (Foto: MP/Teresa Ika)

"Mas Djaduk memang meninggalkan kita secara fisik, Tapi semangat dan karyanya tetap dihati kita selamanya," ujar Frau.

Iapun membawakan lagu ciptaan Djaduk, Nderek Dewi Maria sebagai wujud penghormatannya pada penggagas Ngayogjazz ini. Frau mengatakan lagu tersebut adalah lagu favorit sang ayah.

"Ayah saya senang sekali mendengarkan lagu ini. Saat ia meninggal, lagu ini diputar saat prosesi pemakanannya. Maka lagu ini selalu mengingatkan saya akan ayah dan Mas Djaduk," tuturnya sambil memainkan alunan melodi lagu Nderek Dewi Maria di piano.

Baca Juga:

Mahfud MD Kenang Mendiang Djaduk Saat Pembukaan Ngayogjazz

ngayogjazz
Wajah Djaduk Ferianto dari ranting kayu. (FotoL MP/Teresa Ika)

Perlahan rasa duka menyelimuti penonton di panggung Empyak ketika alunan piano berbunyi. Rasa inipun menguap bersama dengan berakhirnya lagu Nderek Dewi Maria. Jalan sedikit tak jauh dari panggung Blandar, terdapat rumah tradisional Jawa disulap menjadi museum yang diberi nama Mesioum Jazz. Kenangan tentang Djaduk tergambar jelas di tempat ini. Adik dari Butet Kertaredjasa ini sengaja menghadirkan Mesioum Jazz sebagai sesuatu yang baru dan unik pada Pagelaran Ngayogjazz 2019.

Di dalamnya, Djaduk membawa pengunjung menyaksikan perjalanan musik jazz dari waktu ke waktu. Djaduk turut memamerkan beberapa alat musik dan perlengkapan kenangan para musisi Jazz Indonesia terutama pulau Jawa. Sayangnya sang pencipta museum ini keburu pergi dipanggil sang kuasa sebelum melihat hasil karyanya kelar. Panitia dan segenap sahabat Djaduk akhirnya memasukkan memorabilia sang maestro di dalam Mesioum.

ngayogjazz
Museum jazz yang memuat berbagai memorabilia jazz di Indonesia. (Foto: MP/Teresa Ika)

Sejak masuk ke dalam Mesioum, pengunjung langsung menjumpai wajah almarhum yang dibuat dari ranting pohon hasil garapan Bambang Paningron. Bambang adalah sahabat Djaduk mengatakan bahwa ide pembuatan wajah ini, baru ia dapatkan pada Kamis malam. Lantas ia segera mengumpulkan ranting-ranting pohon dibantu warga setempat. Ranting itu ditempelnya di atas kain kelambu.

Beberapa barang yang biasa dipakai Djaduk sehari-hari seperti sendal, kuncir rambut dan alat musik keramat dipamerkan dalam Mesioum. Alat musik keramat itu bernama Ki Titis Sentolo. Konon didapatkan dari hasil tarikan gaib di telaga dekat Playen Gunungkidul.

"Mesioum ini karya terakhir mas Djaduk. beliau minggu lalu masih terus melengkapi isi dalamnya. Maka memorabilia beliau kami masukkan sebagai hal terakhir dan utama di mesioum ini," kata Bambang.

ngayogjazz
Menikmati musik jazz ala orang yogyakarta. (Foto: MP/Teresa Ika)

Keluar dari Mesioum dan baru berjalan beberapa langkah, pengunjung kembali diajak mengingat Djaduk dalam bentuk karikatur. Beberapa gambar karikatur wajah Djaduk hasil karya para seniman lukis digantung di sebuah stand. Ekspresi Djaduk dalam lukisan itu tampak jenaka seperti pembawaannya sehari-hari.

Haru biru pengunjung Ngayogjazz masih terus dipacu saat Didi Kempot naik panggung. Godfather of Broken Heart ini membawakan lagu Banyu Langit yang sudah diaransemen ulang ala Jazz oleh Djaduk Feriyanto.

"Beliau maestro yang sangat hebat. Bukan hanya musisi Indonesia saja yang kehilangan, tapi juga musisi luar negeri. Maka iki Banyu Langite buat mas Djaduk," kata Lord Didi.

Ngayogjazz tahun ini memang menjadi karya terakhir Djaduk. Maka seluruh panitia dan keluarga mempersembahkan acara ini untuk mengenang dan mengenang sang Maestro. Sang Maestro boleh saja pergi dari dunia ini. Namun semangat dan kreatifitasnya masih membara dalam Ngayogjazz 2019. (*)

Baca Juga:

Djaduk Ferianto Berpulang Sebelum NGAYOGJAZZ


Tulisan dari Teresa Ika, kontributor merahputih.com untuk wilayah DI. Yogyakarta dan sekitarnya.

Kredit : patricia


Paksi Suryo Raharjo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH