New York Bakal Bangun Jembatan Khusus Pesepeda dan Pejalan Kaki Makin banyak orang berjalan kaki dan bersepeda. (Foto: Unsplash/Arron Choi)

PANDEMI virus corona telah membuat New York memikirkan kembali seperti apa transportasi umum untuk masa depan. Jumlah penumpang kereta bawah tanah turun sekitar 80 persen dari tahun ke tahun.

Semakin banyak orang memilih untuk berjalan kaki atau bersepeda setiap kali mereka ingin melakukan perjalanan agar dengan tetap berada jauh secara sosial dari orang lain.

Karena itu, kota metropolitan ini akhirnya mulai menganggap serius keselamatan para pengguna fasilitas umum. Salah satunya dengan membangun jembatan antara Midtown Manhattan dan Long Island City, tujuannya tidak lain yakni untuk digunakan khusus pejalan kaki.

Baca juga:

Rotterdam Akan Memiliki Peternakan Ayam Terapung Modern

1
Ditargetkan khusus pejalan kaki dan pegowes. (Foto: businessinsider)

"Selama bertahun-tahun kita telah melihat peningkatan besar dalam bersepeda dan berjalan kaki," kata konsultan transit dan mantan komisaris lalu lintas Kota New York Samuel Schwartz pada Time Out. "Ini khususnya cocok untuk generasi milenial. Mereka senang menggabungkan aktivitas fisik dalam perjalanan mereka.”

Untuk melayani masyarakat dengan lebih baik, Schwartz dan sekelompok insinyur telah mengusulkan jembatan khusus pejalan kaki dan pegowes bernama Queens Ribbon. Jembatan itu hanya memiliki lebar enam meter.

"Kami telah memiliki ruang di wilayah jembatan Brooklyn dan Queens. Segera, kami akan mencapai ruang di jembatan Manhattan dan Williamsburg," Schwartz menambahkan tentang pentingnya jalan setapak yang menjadi idenya.

Baca juga:

Taman Terapung, Konsep Ruang Hijau Tak Biasa di Denmark

2
Akan cocok bagi generasi milenial. (Foto: Unsplash/Roman Koester)

Lebih lanjut ia mencatat bahwa kota-kota global lainnya seperti Paris dan London telah memasukkan jembatan penyeberangan ke dalam desain mereka. Untuk urusan yang satu ini, New York bisa dikatakan tertinggal.

Satu-satunya kelemahan jembatan ini seperti yang dilansir dari The New York Times, adalah biayanya. Jembatan itu tidak hanya membutuhkan persetujuan kota dan negara. Namun juga membutuhkan investasi sebesar Rp1.4 triliun dari kota. Namun, seperti dijelaskan Schwartz, jembatan itu bisa terbukti layak atau tidaknya di masa depan.

“COVID-19 telah menarik perhatian luar biasa untuk pejalan kaki dan pesepeda sebagai moda transportasi yang semakin aman,” kata Schwartz. "Kami tahu mungkin akan ada epidemi, badai, pemadaman listrik, dan aksi pemogokan di masa depan.". (lgi)

Baca juga:

Ide Pertanian Vertikal ini Cocok untuk Area Perkotaan

Kredit : leonard


Leonard G.I

LAINNYA DARI MERAH PUTIH