Image
Author by : Harry Firmansyah, trainer dan founder ButterflyAct. (foto: Citra Ayu Furry)

Setamat Sekolah Menengah Pertama (SMP), Harri Firmansyah melanjutkan pedidikannya di Pesantren Assalam, Solo. Namun lantaran tak ingin memberatkan keluarganya yang tengah mengalami kendala ekonomi, Harri Firmansyah memutuskan untuk kembali ke Bandung, bersama orangtuanya. Ia kemudian melanjutkan sekolah di SMA (Plus) Muthahhari Bandung tahun 1996.

Saat mengenyam pendidikan di SMA, Harri Firmansyah mengaku, kondisi ekonomi keluarganya belum membaik, sehingga ia pun harus rela menunggak SPP. Namun, perlahan masalah tersebut bisa diatasi dengan pihak sekolah, hingga akhirnya Harri Firmansyah bisa lulus dan menerima ijazah.

Masalah tidak berhenti hingga lulus SMA. Untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, Harri Firmansyah pun masih kesulitan secara finansial. Sebelumnya Harri Firmansyah ingin melanjutkan kuliah di Islamic University, namun diurungkan. Ia juga sebenarnya sudah diterima di salah satu perguruan tinggi negeri ternama melalui saringan masuk perguruan tinggi. Namun Harri Firmansyah masih berpikir, kuliah reguler pun masih harus mengeluarkan biaya. Dengan niat untuk meringankan beban orangtuanya, Harri Firmansyah kemudian mencari beasiswa.

Harri Firmansyah mengincar beasiswa pertukaran pelajar Indonesia - Kanada dan berhasil meraih predikat terbaik pertama dari 360 pendaftar mahasiswa dan mahasiswi terbaik di Jawa Barat, tahun 1997. Namun sayang saat hendak berangkat, Harri Firmansyah terkena demam berdarah. Selang satu tahun, ia baru bisa berangkat mengikuti rombongan yang baru terpilih.

"Hidup di Kanada selama satu tahun, benar-benar membuka wawasan. Saya belajar banyak di sana," ujar Harri Firmansyah yang tinggal di Kanada selama tiga bulan.

Sebelumnya, Harri Firmansyah memutuskan untuk kuliah terlebih dahulu di STMB Bandung dan cuti dua semester karena mengikuti program pertukaran pelajar ke Kanada.

Image
Author by : Harri Firmansyah, trainer dan founder ButterflyAct. (foto: MP/rizki fitriyanto)

Usai lulus kuliah di STMB Bandung, tahun 2002 Harri Firmansyah kemudian bekerja di salah satu perusahaan teknologi produsen merek telepon selular ternama di Jakarta.

"Menjadi staff bukan saya banget. Karena itu saya memutuskan untuk mengundurkan diri dan mencari hal lain," ujar Harri Firmansyah.

Harri Firmansyah kemudian mengadu nasibnya di sebuah perusahaan MLM (multi level marketing) Tianshi. Ayah tiga anak itu ingin berusaha mencari penghasilan yang bebas. Namun apa daya, mencari jejaring di Tianshi pun bukan perkara mudah.

Hidup manusia tak ada yang bisa menerka arahnya, semua ada di tangan Tuhan. Itulah yang dirasakan Harri Firmansyah saat melakoni bisnis MLM tersebut. Dari situlah, Harri Firmansyah menemukan jalan hingga menjadi trainer ternama saat ini.

Bermula saat Harri Firmansyah menggantikan temannya ke Hongkong untuk seminar dan presentasi produk-produk Tianshi kepada para TKI (tenaga kerja Indonesia) tahun 2007. Saat berangkat, Harri Firmansyah menceritakan, sebenarnya ia agak keberatan lantaran uang saku yang dipegangnya setelah dihitung tidak cukup untuk hidup selama sepekan di Hongkong.

"Di pesawat, saya berdoa, Tuhan kalau memang ini jalan saya, berilah saya kemudahan," kenang Harri Firmansyah.

Harri Firmansyah, trainer dan founder ButterflyAct. (foto: citra ayu furry)

Doanya ternyata dijawab Tuhan dengan berbagai kemudahan yang didapatnya di negeri seberang. Mulai dari penginapan yang murah meriah, hingga jaminan kehidupan di Hongkong dari beberapa TKI yang terkesan dengan seminar yang dilakukan Harri Firmansyah.

"Menariknya, mereka malah minta tambah lagi, hingga tiga pekan di Hongkong. Kalau tidak dihubungi orangtua mengingatkan waktu menikah sudah dekat, saya enggak pulang," ujar Harri Firmansyah sambil tertawa.

Sejumlah peserta seminar dari TKI Hongkong yang suka dengan gaya presentasi Harri Firmansyah rela merogoh kantongnya lagi untuk memberikan training kepada mereka. Diakui Harri Firmansyah, saat itu ia sampai mengantongi uang puluhan juta rupiah.

Setelah menikah, menurut Harri Firmansyah, dirinya kembali diundang TKI Hongkong dan memberikan training kepada mereka. Hasilnya sangat memuaskan. Harri Firmansyah yang juga mengajak istrinya ikut serta, kembali mengantongi puluhan juta rupiah.

Image
Author by : Harri Firmansyah, trainer dan founder ButterflyAct. (foto: MP/rizki fitriyanto)

Meski mendapatkan uang yang cukup banyak saat itu, Harri Firmansyah sudah bernazar untuk membayar utang-utang keluarganya yang bernilai ratusan juta rupiah dengan cara mencicil.

"Ayah sempat buat usaha dan ditipu sehingga rugi ratusan juta rupiah dan meninggalkan utang. Saya dan keluarga sudah bersumpah untuk membayarnya," ujar Harri Firmansyah.

Lantaran penghasilan dari Hongkong sudah dibayarkan untuk melunasi sebagian utang, Harri Firmansyah yang sudah berkeluarga tetap harus berpikir lagi untuk membayar utang-utang yang masih tersisa yang jumlahnya cukup banyak.

"Saat di Hongkong, istri saya bilang, sepertinya saya cocok untuk jadi trainer. Masalah uang untuk ikut pendidikan trainer, nanti dicari," terang Harri Firmansyah menirukan ucapan istrinya.

Harri Firmansyah, trainer dan founder ButterflyAct saat melakukan aktivitasnya. (sumber: FB Harri Firmansyah)

Namun saat itu, Harri Firmansyah belum begitu percaya diri. Sebab, ia merasa banyak orang yang sudah berhasil terjun menjadi trainer.

"Bersaing dengan mereka (trainer yang sudah eksis) tidak kepikiran. Apakah saya bisa. Namun akhirnya saya berusaha untuk mewujudkannya," ujar Harri Firmansyah.

Sepulangnya dari Hongkong, Harri Firmansyah kemudian mencari pinjaman untuk mengikuti pelatihan di Tung Desem Waringin.

"Total biaya pelatihan sekitar Rp25 juta," ujar Harri Firmansyah.

Menurut Harri Firmansyah, saat itu pola pikirnya semakin berubah. Kata-kata "Dahsyat" yang dipatri dalam pelatihan bersama Tung Desem Waringin, membuatnya selalu berpikiran positif.

"It's change my world," tegas Harri Firmansyah.

Image
Author by : Harri Firmansyah, trainer dan founder ButterflyAct. (foto: MP/rizki fitriyanto)

Lulus dari pelatihan bersama Tung Desem Waringin, Harri Firmansyah kemudian mendirikan perusahaan training (training provider) bernama ButterflyAct dengan jargonnya yang ternama "Change Your Response Change Your Class", tahun 2007.

Mendirikan perusahaan training, bukan perkara mudah. Harri Firmansyah harus berjibaku dengan ketatnya persaingan. Namun, hal itu dijadikan tantangan bagi Harri Firmansyah dengan membuat metode training yang sangat sederhana dan modul-modul yang mudah dipahami.

"Yah, pernah dibayar traktiran makan, rengginang, rempeyek sampai Rp300 ribu saja. Tapi saya coba syukuri itu, enggak ada yang dimulai langsung melejit, butuh proses," ujar Harri Firmansyah.

Saat ini tarif menggunakan jasa training provider ButterflyAct milik Harri Firmansyah sudah mencapai puluhan juta rupiah untuk koorporat. Jika prbadi, bisa mencapai kisaran Rp7juta - Rp25 juta per sesi selama dua jam. Sejumlah perusahaan lokal dan multinasional ternama sudah menggunakan jasa perusahaan training milik Harri Firmansyah.

"Alhamdulillah, saya bisa membantu meringankan beban orangtua dan membayar utang mereka. Bahkan orangtua saya kini sudah punya usaha sendiri, laundry yang omzetnya bisa mencapai Rp1,2 juta per hari," ujar Harri Firmansyah yang tak henti-hentinya mengucap syukur.

Untuk memutakhirkan kemampuannya, Harri Firmansyah tak lepas untuk belajar. Ia telah menyelesaikan pelatihannya bersama Jamil Azzaini motivator ternama dengan jargonnya "Sukses Mulia". Bahkan saat ini, perusahaannya menjadi mitra bagi aktivitas Jamil Azzaini untuk memberikan training dan motivasi.

"Berjumpa dengan beliau (Jamil Azzaini) bagi saya lebih dari seorang trainer. Jamil Azzaini sudah seperti kakak, ayah dan tentu seorang guru kehidupan," lanjut Harri Firmansyah.

Dukungan yang diberikan Jamil Azzaini lewat akademi trainer kepada Harri Firmansyah dan banyak trainer di Indonesia, diakui Harri banyak membantu menaikan kualitas diri dan kehidupan yang dimilikinya.

Image
Author by : Harri Firmansyah (kanan), trainer dan founder ButterflyAct. (foto: FB Harri Firmansyah)

Berbagai permasalahan hidup yang dialami Harri Firmansyah, ada satu benang merah yang dapat dijadikan pelajaran bersama. Harri Firmansyah menekankan, pentingnya menabung kebaikan untuk menggapai kesuksesan.

"Jika memang belum bisa menabung materi, paling tidak menabung kebaikan dahulu. Sebab, jika sewaktu-waktu dibutuhkan, kita tinggal minta kepada Tuhan untuk mengambil tabungan tersebut," pesan Harri Firmansyah.

Terkait jalan hidupnya yang berliku pula, Harri Firmansyah berusaha mengembangkan perusahaannya lebih besar lagi agar dapat membantu masyarakat untuk mencapai keinginannya. Sebab, pada dasarnya sukses adalah keinginan manusiawi yang dirasakan setiap manusia.

"Ada beberapa hal yang ingin saya lakukan, ingin membuat lembaga training untuk pendidikan, training keluarga karena pendidikan awal bersumber dari keluarga, saya juga ingin membuat lembaga riset yang bisa dipertanggungjawabkan serta lembaga keuangan mandiri agar perekonomian masyarakat bisa tumbuh," terang Harri Firmansyah.

Pria berkacamata itu juga ingin menambah kemampuannya menjadi level coach. Sebab, kebutuhan industri dan perkembangan ekonomi, menurut Harri Firmansyah, membutuhkan coach.

"Sebagai trainer kita harus bisa menemukan why, not only what and how. Itu kuncinya. Saya memberikan kunci itu untuk kesuksesan mereka," ujar Harri Firmansyah.

Bagi Harri Firmansyah, sejatinya Tuhan telah memberikan akal dan pikiran bagi umat manusia untuk berlatih karena itu jika terbiasa berlatih (training), mereka akan bisa menemukan kesuksesan.