Nasib FPI dan PA 212 Kini: Oposisi di Ujung Tanduk Massa Front Pembela Islam (FPI) dalam sebuah aksi di Jakarta (Foto: screenshot NETTV)

MerahPutih.com - Pasca-kekalahan Capres Nomor Urut 02 b di Pilpres 2019, nasib sejumlah ormas pendukungnya yang kerap mengambil posisi sebagai oposisi Pemerintah Presiden Joko Widodo (Jokowi) kini berada di ujung tanduk. Sebut saja Front Pembela Islam (FPI) dan Persaudaraan Alumni 212 (PA 212) yang kini semakin tak jelas nasibnya.

FPI, ormas yang dikomandoi Habib Rizieq Shihab ini, terancam bubar karena izinnya tak kunjung disetujui pemerintah untuk diperpanjang. Padahal, izin FPI sudah habis bulan Juli lalu.

Baca Juga: FPI Bisa Dibubarkan

Rizieq pun terancam nasibnya karena terkatung-katung di Arab Saudi tanpa kepastian akan kasus hukumnya. Banyak yang menyebut, Rizieq tak akan berani pulang ke Indonesia karena status hukum yang bisa menjeratnya jika kembali ke tanah air.

Imam Besar FPI Rizieq Shihab
Imam besar FPI, Rizieq Shihab. (MP/Fadhli)

Pemerintah beralasan FPI tak memenuhi syarat seperti rekam jejak dan syarat formil lainya. Namun, jika dilihat dari rekam jejak FPI selama ini yang cenderung kontroversi, sepertinya sulit untuk dikabulkan pemerintahan Jokowi.

Kini, segala cara mereka tempuh untuk bisa aktif kembali. Namun, karena alasan banyak syarat yang belum dipenuhi, eksistensi mereka terancam lantaran bisa muncul stampel ormas ilegal tak berizin.

Baca Juga: Lupakan Rizieq Shihab Saat Bertemu Jokowi, PA 212 Pastikan Tak Dukung Prabowo

Nasib serupa dialami Persaudaraan Alumni 212. Kelompok ini cenderung tak jelas statusnya lantaran tak memiliki badan hukum. Kelompok ini lebih pantas disebut sebagi komunitas 'barisan sakit hati' terhadap rezim Joko Widodo.

Mereka mulai muncul saat kasus penistaan agama mantan Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) beberapa waktu lalu. Kegiatan mereka hanya diisi dengan demo, demo dan demo. Demonya pun dikemas seperti acara keagamaan sehingga banyak yang menyebut sebagai ormas yang mempolitisasi agama.

Seorang orator menyampaikan aspirasinya di kawasan Patung Kuda, Jakarta Pusat
Massa 212 berunjuk rasa di sekitar Patung Kuda, Jakarta Pusat jelang putusan MK terkait sengketa Pilpres (Foto: antaranews)

Untuk menumbangkan Ahok di Pilkada DKI, kelompok yang dipimpin oleh Slamet Maarif ini terbukti berhasil. Sementara, untuk Pilpres 2019, mereka gagal total. Isu agama yang dipakai rupanya sudah tak menarik lagi. Ma'ruf Amin yang sempat menjadi bagian dari mereka kini sudah beralih.

Tak Lagi Bertaji

Terbukti, isu agama yang mereka gunakan gagal bahkan hingga membuat masyarakat jengah. Kini, 4 bulan setelah kekalahan Prabowo, tak ada lagi aksi-aksi massa yang melibatkan FPI dan 212. Kontroversi yang mereka buat juga cenderung hilang. Isu yang dimainkan juga tak jelas.

Yang ada hanyalah keinginan untuk membuat Ijtima Ulama IV yang tak ada tujuannya. Bahkan, diprediksi kelompok ini bakal bubar dengan sendirinya.

Baca Juga: Prabowo Temui Megawati, PA 212 dan FPI Melemah

Eksistensi kelompok 212 dan FPI pun kian melemah. Nasib mereka pun tentu sangat ditentukan bagaimana Prabowo memposisikan diri dalam kekuasaan. Apakah tetap mengambil jarak sebagai penyeimbang pemerintah atau mau bergabung dengan pemerintahan Jokowi-Maruf Amin.

Prabowo mega
Pertemuan Megawati Soekarnoputri dan Prabowo Subianto. Foto: TKN

Jika pilihannya bergabung, maka tentu akan ada dampaknya terhadap pembagian kekuasaan. Dengan demikian tentu pendukung Prabowo akan turut mendapatkan posisi. Namun jika tidak bergabung, maka para pendukung agak sulit untuk masuk dalam kekuasaan.

Jawaban Kemendagri



Wisnu Cipto

LAINNYA DARI MERAH PUTIH